Site icon cerpensastragrup

Raja Dzalim dan Rakyat yang Lelah (Cerpen Ali Azhar Syihabuddin)

Sumber Ilustrasi: bobo.grid.id via Indonesia.go.id.

Ada suatu masa, di Selat Malaka dan pesisir Barat Sumatra, kondisi perdagangan bisa menjadi sangat bebas. Tawar-menawar sering berujung pada pertikaian. Tak jarang sebuah kapal bermuatan yang lengah menjadi target pembajakan, baik dari kalangan pribumi maupun sesama pedagang Eropa. Syahbandar menjadi andalan bagi suatu kerajaan pesisir untuk mengurangi kekerasan seminim mungkin di pelabuhan dan perairan sekitar. Namun, selalu ada pelabuhan yang menjadi sangat sepi, dan tak jarang konflik muncul di tengah keterpurukan itu.
,,, 
“Bagaimana ini, Tuan, sudah hampir satu tahun tak ada satu orang Eropa pun yang menghampiri pelabuhan kita,” ucap salah seorang ketua kelompok Orang Laut kepada Syahbandar, Tuan Haris. 

Tuan Haris hanya terdiam, menatap kobaran api unggun yang menghangatkan ruangan itu. Sebuah pertemuan diadakan untuk membahas kondisi pelabuhan yang semakin sepi. Diikuti oleh lima ketua kelompok Orang Laut. Di antara para ketua Orang Laut, ada Laksamana Aziz, yang menjadi seorang ketua kelompoknya di usia muda. Orang Laut adalah sekelompok pengembara laut yang hidup hampir seluruhnya di laut. Mereka menjadi sangat terkenal karena keahlian mereka di lautan.

Ombak seperti apa pun mampu ditaklukkan, angin badai sederas apa pun mampu dijinakkan. Syahbandar dan Orang Laut adalah elemen penting, kebijaksanaan Syahbandar dan kepiawaian Orang Laut akan mempengaruhi pelabuhan.

“Iya, saya tahu keluh-kesah tuan-tuan akan kondisi pelabuhan yang sangat sepi. Saya minta tuan-tuan untuk bersabar sebentar, sementara saya menyampaikan pesan tuan-tuan kepada Yang Mulia Raja,” ucap Syahbandar Haris, berusaha menghibur para ketua Orang Laut.

“Halah, Haris. Minggu lalu pun kau berkata macam itu. Apa yang bisa diharap dari raja muda yang gila wanita itu?” tegas salah seorang ketua Orang Laut. Untuk beberapa detik semua hening.

“Begini, Tuan Haris. Bukan bermaksud lancang. Loyalitas kami patutnya sudah tak perlu Tuan ragukan. Tuan tahu sendiri bagaimana ayah saya berkorban untuk raja dan Tuan Haris,” ucap Laksamana Aziz dengan nada yang sangat lembut dan sopan. “Tapi, kalau begini terus keadaan pelabuhan, kami tak sanggup lagi, Tuan. Penghasilan kami hanya dari hidupnya pelabuhan, bila pelabuhan mati macam ni, kami bisa mati. Kami tak selamanya akan menyantap ikan.”

Syahbandar Haris tahu akan kondisi ini. Tapi ia tak mampu berbuat banyak. Setiap kali ia datang menghadap pada sang raja, yang ia jumpai hanya raja yang sedang mabuk dan bermain dengan wanitanya. Semua ini menjadi beban pikirannya. Para pedagang banyak rugi. Para petani di pedalaman hutan juga bangkrut. Akhirnya, pertemuan hari itu dibubarkan.
***

Keesokan harinya, tuan Haris tiba di istana sang raja. Sang raja yang masih muda sedang duduk di singgasananya. Ia memegang sebotol arak anggur, yang membuatnya mabuk pagi itu.

“Oh, Haris. Lama tak jumpa. Bagaimana kabar kau?” tanya Raja Alam. Orang suka memanggil raja itu dengan sebutan Alam si Himar―si keledai.

“Baik, Tuan. Senang Tuan bertanya kabar saya,” Syahbandar Haris menunduk memberikan hormat kepada Raja Alam. Singgasana Raja Alam berada di tempat yang lebih tinggi, sehingga Syahbandar Haris harus mendongakkan kepalanya saat berbicara dengan sang Raja. Tanpa basa-basi Haris langsung menyampaikan kedatangannya ke istana, tentang pelabuhan yang semakin sepi.

Namun, Raja Alam langsung mengoceh ke sana-sini, tak masuk akal. Mengabaikan laporan sang Syahbandar.

“Haris, itu kan urusanmu, bukan urusanku. Urusan tak penting macam ni jangan kau bawa ke istana aku, tahu!” Raja berteriak. Suaranya menggema ke setiap sudut ruangan. Syahbandar Haris hanya menunduk. Lantas segera pergi dari sana.
***

Sesampainya di pantai, Haris terkejut. Ternyata sebuah kapal besar bersandar di pelabuhan. Segera Haris meminta kereta kudanya untuk menuju ke kapal itu bersandar. Pikirannya mengatakan, “Semoga itu kapal pedagang.”

Tebakannya tepat. Itu adalah kapal pedagang Eropa. Ternyata sudah ada Laksamana Aziz yang menyambut para pedagang. Syahbandar Haris mendekati Laksamana Aziz dan menanyakan kabar para pedagang.

“Mereka dari Holland, Tuan. Mereka sangat ramah, bahkan sang kapten mampu berbahasa Melayu dengan sangat lancar,” jelas Aziz pada Syahbandar Haris. Syahbandar Haris mengajak sang kapten untuk datang ke kediamannya.

“Terima kasih sudah datang ke sini, Tuan,” sambut Haris.

“Ya, dengan senang hati. Kalian sangat ramah sekali,” dengan pelafalan seadanya namun bisa dipahami.

Setelah panjang lebar mengobrol, Haris menanyakan apa yang hendak dibeli oleh sang kapten agar ia bisa melihat stok yang tersedia di para pedagang pribumi. Setelah lama melihat catatannya sambil menggaruk-garuk jidatnya, akhirnya ia mulai menyebutkan komoditas dagang yang hendak ia angkut dari sini. Syahbandar Haris dengan cekatan mencatat semuanya. Di kepalanya hanya berharap satu: semoga pelabuhan menjadi ramai kembali.

Satu minggu berlalu. Semua komoditas hampir selesai diangkut di kapal. Ternyata kualitas produknya masih terjamin dan sang kapten puas. Ia juga tak tanggung-tanggung untuk menambahkan bonus sebagai bentuk ramah-tamah kepada Syahbandar Harris, sebagai perwakilan sang raja. Tetapi, sehari sebelum selesainya pengangkutan komoditas yang terakhir, raja datang ke pelabuhan dan memantau langsung. Sang kapten yang tahu langsung memberi hormat.

Syahbandar Haris dipanggil untuk berbicara empat mata dengan sang raja.

“Aku punya ide, Harris,” kata sang Raja Alam―berlagak sok bijak.

Harris, tanpa sepatah kata, menyimak ucapan sang raja.

“Bagaimana kalau kita naikkan harganya,” nadanya bernuansa nyinyir.

Haris kaget, matanya terbelalak, mulutnya terbuka seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan sang raja. Entah apa yang dipikirkan sang raja. Haris berusaha menjelaskan bahwa harganya sudah disepakati, kalau tiba-tiba menaikkan harga sama saja dengan mengkhianati perjanjian. Tapi raja tak peduli. Tuan Haris tak bisa melawan, ia hanya terdiam. Seorang utusan dikirim untuk menyampaikan pesan kenaikan harga secara mendadak.

Si kapten langsung marah dan berteriak, memanggil nama tuan Haris. Saking kesalnya ia bersumpah akan menghancurkan pelabuhan itu dan menyebarkan berita di kalangan pedagang Eropa lainnya bahwa orang-orang pribumi ini tidak menepati janji.

Lantas ia menarik si utusan dan menodongkan pistol ke kepalanya. Warga pribumi yang berada di sekitar tampak kaget dan bingung. Namun, tampaknya ada yang menyulut pertikaian. Satu teriakan: Pengkhianaaat!!! Terdengar dan memicu perang antara pedagang Eropa, yang kapalnya dilengkapi meriam besar dan awak kapalnya yang masing-masing memiliki senapan, dengan warga pribumi dengan bersenjatakan keris, tombak, dan kapak.

Orang Laut yang berada di sekitar pelabuhan dan pantai pun berdatangan. Dengan cepat dan tangkas, mereka mampu memberikan perlawanan. Beberapa Orang Laut mampu naik ke kapal dan membunuh beberapa awak kapal dengan sumpit beracun mereka. Baik di kapal, di daratan, semua menjadi sangat tidak terkendali.

Syahbandar Haris bergegas menuju pelabuhan. Ia baru saja mengantar sang raja ke istananya dan hendak kembali ke rumahnya, sebelum akhirnya ia mendengar suara meriam dan seseorang datang menghampirinya. Ia memberi tahu kalau para pedagang Eropa menyerang. Syahbandar tiba di pelabuhan dengan nafas terengah-engah.

Ia melihat semua sangat kacau, sebuah bola meriam terbang ke sana-sini, peluru sumpit beracun tertancap di mana-mana. Darah bercecer di tanah, berbaur dengan air laut. Syahbandar Haris berusaha menghentikan, tapi sia-sia. Semua sudah terlambat. Menjelang malam, pertempuran hampir reda. Tuan Haris melihat Laksamana Aziz yang sedang menolong rekannya. Ia menghampiri Aziz dan berbicara dengannya. Bahwa semua ini harus dihentikan. Kalau tidak, semua akan habis, menjadi sia-sia. Malam harinya, pertempuran berakhir. Orang pribumi dan Orang Laut mundur sesuai perintah Syahbandar dan Laksamana Aziz. Keesokan paginya, pedagang Eropa itu sudah tidak ada di pelabuhan. Semua kelelahan, menyisakan luka dan darah yang tak ada artinya. Aroma asin laut bercampur dengan bau darah menambah suasana semakin menyedihkan. 

Syahbandar Haris duduk di salah satu batu, di pelabuhan. Matanya terlihat lelah. Jidatnya penuh kerutan. Di sebelahnya ada Laksamana Aziz yang sedang berbaring. Melihat langit, mengeluh pada ayahnya tentang raja yang dzolim.

“Ini sudah tidak bisa ditoleransi, Aziz,” ucap Tuan Haris sambil berdiri.

Aziz duduk, “Apa yang akan kau lakukan sekarang, Tuan?”

“Melakukan seperti apa yang dulu datuk-datuk kita lakukan.”
“Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah,” kalimat itu serentak diucapkan oleh Syahbandar Haris yang bijaksana dan Laksamana Aziz yang tangkas. Telah diputuskan, mereka akan pergi dari pelabuhan.

Hukum laut selalu bebas, tak ada yang mengikat kecuali ikatan yang saling menguntungkan. Syahbandar Haris beserta seluruh Orang Laut pergi dari pelabuhan, meninggalkan raja yang rakus dan keras kepala bersama arak dan wanitanya. Tanpa kehadiran mereka, pelabuhan bagaikan tubuh tanpa kaki dan tangan, menandakan kehancuran kerajaan sang raja. Karena sifat buruknya, ia akan ditinggalkan—ditelan oleh masa dan disapu oleh sejarah, menyisakan teriakan histeris yang mengeluarkan darah. (*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 16 Februari 2025.

Tentang Cerpenis
Ali Azhar Syihabuddin    
Mahasiswa sejarah peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Menulis selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan. IG: @aliazharr14

Testimoni Ali Azhar Syihabuddin

Alhamdulillah, akhirnya. Suatu kebanggaan cerpen saya bisa lolos sayembara kali ini. Sebelumnya, saya juga sudah pernah mengirimkan cerpen dengan judul: Catatan di Atjeh. Tapi sayang, cerpen itu hanya bertengger di nominasi. Kedua cerpen saya itu memang bertema laut, perdagangan, dan pelabuhan. Semua berasal dari hasil bacaan saya. Menjadi mahasiswa sejarah membawa saya pada buku-buku sejarah perdagangan laut yang lebih beragam. Dengan sendirinya memberikan saya berbagai sudut pandang dari perdagangan laut di Indonesia.

Banyak peristiwa yang terjadi di masa lalu yang kemudian muncul kembali. Walaupun dengan tidak sama persis, tapi memperlihatkan pola peristiwa yang sama. Cerpen ini juga muncul dari penglihatan saya akan pola yang sama seperti yang pernah terjadi di masa lalu: selalu ada raja yang jahat. Dan reaksi rakyat, dalam sepanjang sejarah, selalu berbeda. Meninggalkan sang raja beserta tanah dan wilayahnya menjadi salah satu akhiran yang cukup menarik bagi saya untuk diangkat dalam sebuah cerita. Karena beberapa reaksi belakangan akibat rasa lelah di kalangan anak muda melihat pemerintah.

Exit mobile version