Subuh itu neneknya menangis diam-diam di kamarnya. Belakangan ini Lita memang kerap mendapatinya melamun dan tidak berselera makan. Saat ditanya selalu bilang tidak apa-apa. Dia hanya merasa capek. Namun, setelah didesak, dia pun membuka suara.
…
“Aku mau pulang.” Katanya. Dia menunduk tak berani menatap Lita yang tengah memandangnya cemas.
Pulang?
“Ini rumah nenek. Mau pulang ke mana lagi?”
Wanita itu menggelengkan kepala.
“Ke rumah kita dulu.”
Dia menceritakan kalau ayah Lita sekarang sudah kembali dan tinggal di sana. Seorang tetangga yang tidak sengaja bertemu memberitahunya. Wajah Lita berubah murung dan tanpa sadar dia mendesah. Kenangan tentang rumah sudah dia kubur di masa lalu. Juga kenangan tentang ayahnya. Mendengarnya saja membuat perutnya terasa melilit, apalagi membayangkan kembali ke sana.
“Kita sudah tenang di sini, Nek. Tolong jangan ungkit rumah itu lagi, ya?” Katanya memohon. Dia tidak ingin kembali ke sana walaupun hanya dalam pikirannya.
20 tahun yang lalu…
Lita baru pulang sekolah dan mendapati warung neneknya sudah rata dengan tanah. Menyisakan puing-puing berupa pecahan genting, asbes, papan kayu dan banner usang bekas acara pentas seni di balai desa. Es sirup berwarna merah dengan sedotan biru dalam kemasan plastik dan sebungkus mie berkuah jatuh dari tangannya tanpa dia sadari.
“Nenek!” Jeritnya.
Wanita yang dia panggil nenek itu meratapi warungnya, menangis dan melolong seperti orang gila. Satu-satunya sumber penghasilannya kini musnah. Tanpa diberitahu pun Lita sudah bisa menebak pelakunya. Ayahnya. Putra neneknya yang seharusnya bertanggungjawab atas hidup dan kesejahteraan mereka. Alih-alih menafkahi, pria tidak berguna itu malah merongrong ketenangan mereka. Menciptakan neraka di rumah. Dia pasti meminta uang lagi, yang entah dihabiskan untuk apa. Dia tidak memiliki alasan lain untuk pulang selain meminta uang. Jika tidak mendapatkan apa yang dia mau dia akan menghancurkan apa saja yang ada di dekatnya. Kali ini sasarannya adalah warung itu.
Lita menyambung hidup dari belas kasihan orang dan santunan dermawan setempat. Neneknya bekerja apa saja dengan pendapatan sekadarnya. Sesekali ayahnya datang dan memberinya trauma baru dengan bentakan, pukulan, dan makian. Neneknya menangis tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ujung-ujungnya dia akan memberi uang agar dia segera pergi.
Begitu masuk usia kuliah, Lita mengejar pendidikannya sambil bekerja paruh waktu. Dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit hingga bisa membawa neneknya ke kontrakan baru. Rumah itu dia tinggalkan agar ayahnya tidak bisa menemukan dan menyakiti mereka lagi. Jatuh bangun Lita berusaha menata hidupnya, hingga cukup layak untuk bisa disebut manusia. Mereka tinggal di rumah baru yang dia beli, namun wanita itu tak bisa memungkiri rasa rindu pada putranya. Sekarang, wanita itu memohon padanya untuk membiarkan dia pulang. Ke rumahnya yang lama. Ke luka yang Lita pikir sudah mereka kubur bersama.
Mata wanita itu sendu menatap cucunya. Tubuhnya yang dulu subur dan sehat kini sudah menyusut menjadi kulit yang layu membungkus tulang-tulang kurusnya. Bibir dan seluruh tubuhnya gemetar meskipun hanya untuk mengatakan sesuatu yang sederhana. Kekuatannya memudar dimakan usia.
“Baiklah.” Kata Lita setelah mempertimbangkan beberapa lama. “Kita pulang minggu depan, ya, Nek.”
Kalimat sederhana itu bagi Lita bagaikan gunung yang menekan dadanya. Rasanya sesak dan penuh hanya memikirkan dia akan kembali ke tempat itu. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Di atas semuanya, kebahagiaan neneknya adalah prioritasnya.
“Mungkin ini memang saatnya.”
Gumamnya pelan. Hati kecilnya sedikit berharap pertemuan itu akan memperbaiki semuanya. Ayahnya sudah insyaf dan bersikap baik pada neneknya. Lalu mereka bisa hidup tenang meskipun berjauhan dan hanya saling berkunjung sesekali.
Kereta melambat sebelum benar-benar berhenti di stasiun. Dia melangkah keluar dari peron sambil menggandeng tangan neneknya.
Di seberangnya berdiri kokoh gedung tua yang dulu merupakan tempat termewah di kota itu. Hanya sedikit orang yang beruntung bisa ke sana. Lita tidak termasuk salah satunya. Geser sedikit dia melihat deretan toko yang dulunya merupakan kawasan persawahan, di mana dia bermain bersama teman-temannya. Selain itu tidak banyak yang berubah, tidak seperti dirinya.
Kenangan demi kenangan terputar kembali di benaknya sepanjang jalan yang dia lalui di atas becak. Gedung sekolah yang dulu ramai kini tampak kumuh, lapangannya yang dulu dia pikir luas ternyata hanya sepetak saja, hingga akhirnya dia tiba di depan rumah yang dulu ditinggalinya. Rasanya seperti dalam mimpi namun dia sadar sepenuhnya.
Wajahnya dingin dan bengis saat mendapati ibu dan putrinya berada di balik pintu yang baru saja dia buka. Persis seperti yang diingat Lita sejak kecil. Tidak ada basa-basi untuk menyapa, apalagi memeluk mereka. Seolah keduanya hanya pergi sejam yang lalu ke pasar, bukan selama bertahun-tahun meninggalkan rumah.
“Sudah hidup enak malah lupa orangtua. Pulang membawakan rokok saja tidak!” Pria itu menghardik tanpa memandang ke arah Lita.
Ingin rasanya Lita membantah tapi melihat neneknya yang menangis memeluk putranya itu membuat hatinya seperti disayat-sayat. Neneknya memohon mereka berdua agar berbaikan karena bagaimana pun mereka ayah dan anak.
“Orang tidak bisa begitu saja disebut ayah hanya karena dia yang menyebabkan aku lahir ke dunia.”
Pria itu memakinya.
Lita membalas tidak kalah sengit.
“Begini ini kalau perempuan sekolah tinggi-tinggi. Jadi pandai membantah!“
Setiap kata yang keluar dari mulut pria itu bagai ribuan anak panah yang menghunjam ke seluruh tubuhnya. Lita mengira dirinya kebal dengan semua ucapan kasar itu karena sudah sering mendengarnya sejak kecil. Namun, ternyata sakitnya masih sama. Anak-anak panah itu sudah menembus kulitnya, merobek dan mengalirkan darah segar di sekujur tubuhnya.
Dia memegangi dadanya yang terasa sakit dan membuatnya susah bernapas. Dia seperti berada di ruangan hampa udara. Tangannya menggapai-gapai mencari pegangan sambil berusaha lari.
“Lita?”
Seorang wanita berusia menggendong bocah laki-laki mendekatinya. Kemudian sosok lain juga mendekat. Mereka memegangi tubuh Lita yang hilang keseimbangan.
“Zayna.” Katanya dengan napas terengah-engah. Lalu menatap ke wanita yang lebih tua di depannya.
“Bulek Mar.“
Mereka adalah orang-orang yang dulu mengurusnya. Yang memberi makan Lita dan neneknya meskipun hanya dengan lauk ala kadarnya karena memang hanya itu yang mereka miliki. Tak jarang keluarga itu juga menyembunyikan Lita jika ayahnya datang. Mereka berdua membawa Lita ke tempat yang aman di rumah mereka. Air matanya tak terbendung lagi.
“Ayahmu itu memang keras kepala. Sudah tua bukannya bertaubat malah makin gila.”
Bulek Mar bergidik jijik saat mengucapkan kalimat itu. Zayna duduk di sebelah Lita membantunya minum teh karena tangannya masih gemetaran.
“Seperti ular itu, cuma ganti kulit saja dari waktu ke waktu, wujud aslinya tetap sama.”
Lita masih sesenggukan namun sedikit lebih lega setelah minum teh hangat.
“Sehat-sehat kamu, Lit.”
Zayna merangkul pundaknya.
“Aku dan ibu tidak pernah berhenti memikirkan kalian berdua. Kami berusaha mencarimu tapi tidak berhasil.“
Lita menghabiskan waktunya di rumah Zayna sementara neneknya masih melepas rindu pada rumah tuanya. Keduanya bercerita banyak tentang kehidupan mereka setelah Lita pergi begitu lulus SMA. Lita dan Zayna lalu mengenang masa kecil mereka saat bermain di sawah-sawah, mencari ikan di kali, juga memanjat pohon mangga di kebun Pak Haji.
Sambil menyesap tehnya yang sudah masuk gelas ketiga, dia mendengarkan cerita-cerita mereka. Hingga akhirnya dia bisa tertawa lagi. Setelah merasa kondisi tubuh dan mentalnya membaik, Lita kembali ke rumah itu dan mengajak neneknya pulang. Kembali ke rumah Lita. Ayahnya tidak mengatakan apa pun, hanya menatap kepergian mereka dengan sorot mata dingin.
Peristiwa hari itu sedikit menyadarkannya bahwa keputusan untuk pulang tidak terlalu salah. Benar, ada banyak kenangan buruk di tempat ini, namun dia juga memiliki kenangan indah. Ada Zayna dan Bulek Mar, orang-orang yang peduli padanya. Dia masih memiliki ikatan dengan tempat itu.
Lalu, bagaimana hubungan dia dengan ayahnya? Itu bukan luka gores biasa yang bisa disembunyikan dengan plester dan sembuh dalam beberapa hari. Itu adalah cedera besar dan dalam yang membutuhkan penanganan serius serta waktu pemulihan lama.
Sangat lama. Lita tidak berharap hubungan mereka membaik dalam waktu dekat. Mungkin suatu hari nanti, jika keduanya diberi rezeki usia yang panjang. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 17 Desember 2023
Cerpenis
Jamaatun Rohmah
Penulis yang kadang menulis di media cetak maupun daring. Juga bekerja sebagai guru. Beberapa tulisannya sudah dimuat dalam berbagai antologi, baik di dalam dan luar negeri. IG: @jamaatunrohmah
Testimoni Jamaatun Rohmah
Selasa, 19 Desember 2023
Terima kasih Cerpen Sastra yang memberi wadah pada para penulis, khususnya cerpenis dalam menyalurkan hasil karya kami. Apresiasi ini sangat berarti.
Semoga sayembara cerpen ini bisa menjadi tempat para penulis Indonesia untuk berkompetisi secara sehat dan menghasilkan lebih banyak karya di masa datang.
Semoga Cerpen Sastra juga bisa menjadi inspirasi bagi lembaga/komunitas lain untuk mengadakan acara serupa.

