Pati Asri, 1998.
“Hilang! Mbah Simi hilang!” Jenar baru kembali dari sawah. Dia dikejutkan dengan halaman rumahnya yang ramai. Wanita kepala empat itu segera mencantolkan capingnya, menerobos orang-orang yang berkumpul. Anaknya, Benik, duduk di emper.
…
“Nik, kenapa? Biyung1 ke mana?!”
Benik menggeleng. Jenar mengguncang bahu bocah itu dengan frustrasi. “Kau apakan biyungmu?!” tanya Jenar marah. “Sudah kubilang jaga biyungmu sebentar!”
Pak RT di sebelah menyela. “Sudah, Nar! Kasihan! Kau tenangkan dirimu. Sudah kusuruh orang-orang mencari. Mbah Simi hilang sendiri, anak itu tak salah apa-apa.”
“Tak salah bagaimana?! Ibuku itu lumpuh! Mana bisa pergi ke mana-mana!” Jenar mencubit bahu Benik, membuat bocah itu menangis. “Disuruh menjaga orang lumpuh saja tidak bisa!” hardik wanita itu.
“Sudah, Nar …, sudah,” sahut tetangga mereka. Yang lain juga turut menenangkan Jenar. Mereka juga kasihan pada Jenar. Bagaimana tidak? Wanita itu harus merawat ibu mertuanya yang lumpuh dan sakit-sakitan. Sedangkan suaminya merantau. Jenar duduk dengan lelah di balai-balai. Setelah tenang sedikit, dia berkata pada Benik, “Sudah, sana ambil adikmu di TPA. Jangan sampai dia ikutan hilang juga!”
Benik mengusap air matanya. Bocah itu kemudian berlari mencari adiknya. Tepat pada saat itu, ada rombongan datang dari arah jalan. Di belakang ada sebuah mobil pick-up mengikuti. Jenar menyongsong kedatangan mereka dan melihat ibu mertuanya duduk di mobil. Mata wanita tua itu terpejam. Jenar buru-buru membuka pintu mobil.
“Bu? Ibu?” panggil Jenar.
Mbah Simi membuka matanya. “Kghuuu …, kghuuu.”
Mbah Simi memang kehilangan kemampuannya untuk berbicara sejak ia lumpuh. Dia hanya bisa mengeluarkan suara tidak jelas dari mulutnya.
Pak RT dan bapak-bapak lainnya membantu menurunkan Mbah Simi. Mereka membopong Mbah Simi dan membawanya ke dalam. Rumah yang ditinggali Jenar adalah rumah bergaya Joglo yang dindingnya masih kayu. Kamar Mbah Simi letaknya di pojok, dengan kelambu sebagai ganti tembok. Mbah Simi dibaringkan di kasur. Jenar kemudian meletakkan pinang, kapur, dan beberapa lembar daun sirih di meja di sisi kanan kasur. Jaga-jaga kalau ibu mertuanya itu ingin menyirih—seperti kebiasaannya. Setelah Mbah Simi tidur, Jenar menyingkap kelambu dan keluar. Pak RT dan beberapa orang masih ada di sana. Mereka berbicara di ruang tamu.
“Bagaimana caranya wanita lumpuh bisa sampai di astah2 yang jaraknya hampir dua kilometer dari sini?”
Pertanyaan itu mengundang hening. Tidak ada seorang pun yang mampu menemukan jawaban paling masuk akal. Kedua kaki Mbah Simi sudah tidak bisa digunakan sejak empat tahun lalu. Jenar, yang paling tahu bahwa ibu mertuanya kesulitan buang air besar sendiri. Jenar mundur ke dapur, berniat membuatkan teh hangat. Dia menemukan Benik dan anak gadisnya, Aini, duduk bersisian di bangku panjang. Dia menyuruh Aini mengantarkan teh hangat ke ruang tamu. Jenar melirik putranya yang diam saja sejak tadi.
“Kenapa kau?” tanya Jenar.
“Buk,” panggil Benik lirih.
“Maaf, Buk. Tadi biyung yang minta keluar.”
Jenar berhenti.
“Apa? Biyung minta apa?” tanya wanita itu, memastikan.
“Biyung minta keluar.” Benik menjawab takut-takut.
“Katanya mau lihat pohon jambu, jadi Benik tuntun ke belakang.”
Mata Jenar tiba-tiba melotot, marah.
“Jangan bohong sama Ibuk!” Wanita itu mengguncang bahu Benik, kebiasaannya ketika sedang marah.
“Beneran, Buk! Biyung sendiri yang minta!” Benik mengeyel. Namun, semakin Jenar tidak percaya ketika mendengarnya. Dan ketika putranya itu malah menangis, Jenar jadi semakin kesal.
“Gimana caranya biyung minta?! Biyung, kan, tidak bisa bicara!” Jenar menggertakkan gigi. Wanita itu melepaskan Benik dan mengambil piring berisi biskuit, berniat membawanya keluar untuk suguhan. Sebelum pergi, Jenar berkata dengan muram, “Jangan pernah sebut-sebut tentang pohon jambu. Jangan pernah bawa biyung, adikmu, atau siapa pun ke sana!”
…
“Laa ilaaha illallah …, Laa ilaaha illallah …”
Karso dituntun ke sumber suara orang-orang bertahlil. Telinga Karso menjadi riuh, seolah berada di keramaian. Ada suara orang-orang asing. Karso tiba-tiba mendapati dirinya berada di tengah-tengah sekumpulan manusia dengan wajah kabur. Mereka semua berpakaian hitam dan mengelilingi sesuatu. Karso menunduk, dia melihat liang lahat.
Orang-orang itu terus melantunkan tahlil. Ada pula suara orang menggali tanah. “Laa ilaaha illallah …, Laa ilaaha illallah …, Laa ilaaha illallah.”
Ada suara orang-orang memanggil nama yang tidak Karso kenal. Dia merasa asing di sini sekaligus tidak. Karso melihat ke sekeliling. Ada empat tiang kayu mengelilingi mereka. Masing-masing bila dihubungkan akan membentuk bentuk persegi panjang. Dan liang lahat itu ada di tengah.
“Laa ilaaha illallah …”
Tahlil itu tidak berhenti jua. Mereka terus berdengung di telinga Karso. Kemudian, seseorang menurunkan jenazah. Bau rambut terbakar membuat Karso pusing. Jenazah itu diturunkan ke liang lahat. Seseorang dengan wajah kabur membuka kain kafan yang menutupi wajah jenazah itu. Karso tercengang. Dia mundur dari kerumunan orang-orang berpakaian gelap itu. Ketika itulah Karso terjatuh, dan ia kaget luar biasa saat menyadari di mana ia sebenarnya berada. Ia di rumahnya sendiri.
“Laa ilaaha illallah … Laa ilaaha illallah ….”
Tak butuh waktu lama untuk Karso menyadari bahwa ada pemakaman di dalam rumahnya, di pendopo rumahnya. Orang-orang berpakaian hitam itu mulai nampak wajahnya. Mereka tidak punya hidung maupun mata. Hanya mulut yang terus melantunkan tahlil secara bersamaan seperti paduan suara. Siapa? Siapa yang dimakamkan di dalam rumahnya sendiri?!
Pada saat itulah Karso kembali dari dunia mimpi ke dunianya sendiri. Karso duduk dan mengusap wajahnya.
Ia berkeringat dan merasa sangat cemas tanpa alasan. Karso kemudian mencari ponsel yang ia sembunyikan di tumpukan baju. Ia menyalakan ponsel seukuran tiga jarinya itu. Karso mencari sinyal dan menelepon agen bus. Ia akan pulang ke Pati Asri. Besok, pagi-pagi sekali.
…
Tengah malam, hujan deras untuk pertama kalinya di musim kemarau ini. Karso sibuk melihat-lihat genteng barangkali ada yang bocor.
“Jangan ….! Pergi! Pergi! Aku tidak mau!”
Karso langsung berlari menuju kamar ibunya. Ia melihat pemandangan yang aneh. Ibunya, yang lumpuh, berdiri seolah-olah tidak pernah sakit. Memegang sejumput padi dan mengayun-ayunkan sambil berteriak. Ibunya tidak bisu, tiba-tiba saja.
“Bu! Bu!” Karso memanggil ibunya. Tapi wanita tua itu tidak merespons. Mata Mbah Simi berputar dan seolah mengikuti sesuatu di atas. Tangannya seolah mencoba mengusir. Mbah Simi ketakutan oleh hal yang tak bisa Karso lihat. Jenar tiba dengan terburu-buru. Ia dan Karso lekas memegangi Mbah Simi dan mencoba menenangkannya.
Angin berembus kencang, dan petir menyambar. Papan kayu yang menutupi jendela tiba-tiba terlepas dan menghantam dinding. Jendela menampilkan kondisi di luar yang kacau dan gelap. Hujan sangat deras. Tepat di jendela itu, menampilkan pohon jambu yang hampir roboh karena angin kencang. Salah satu cabangnya patah. Pohon itu satu-satunya yang paling mencolok jika dilihat dari jendela. Pada saat yang sama, Mbah Simi menatap ke arah pohon itu dengan mata melotot. Mbah Simi berteriak kencang. Tubuhnya kaku. Mulutnya terbuka lebar. Jenar menekan rasa takut di hatinya dan memeluk Mbah Simi erat-erat.
Jenar dan Karso menjaga ibu mereka sampai matahari terbit. Setelah memastikan Mbah Simi tenang, Karso keluar. Jenar pergi ke dapur untuk merebus air, ia akan menyeka ibu mertuanya. Ketika ia kembali ke kamar, yang ia temukan adalah suaminya yang menangis, sedang ibu mertuanya telah kaku tak bernyawa.
…
Mbah Simi telah dimakamkan siang ini. Setelah para pelawat satu per satu pulang, suasana rumah mereka menjadi sunyi. Kesunyian yang aneh. Jenar berada di dapur, di tangannya terdapat sekantung kapur dan beberapa lembar sirih yang sudah menguning.
Jenar meremas sirih itu, kemudian tanpa ragu-ragu membakar semua perlengkapan menyirih almarhum ibu mertuanya. Ada suara orang berlari dari ruang tamu. Aini muncul dari balik pintu. “Buk, Bapak ke mana?”
Jenar terdiam. Ah, benar juga. Ia belum melihat suaminya sejak dari makam.
…
Karso belum berganti pakaian. Kembali dari makam, ia langsung ke tempat ini. Di tangannya membawa sebuah kapak. Karso mengayunkan kapaknya, tanpa ragu-ragu menebang pohon jambu di depannya.
“Ibu sudah kau bawa. Janjinya sudah ditepati. Sekarang, jangan ganggu keluargaku lagi, Kang3!”
Karso menebang pohon itu dengan tangannya sendiri. Sembari mengenang tentang kakak laki-lakinya yang mati gantung diri di pohon jambu ini. (*)
- Panggilan untuk nenek. Sama seperti simbah. ↩︎
- Sebutan untuk pemakaman atau kuburan bagi masyarakat Pati Asri. ↩︎
- Panggilan untuk kakak laki-laki. Sama seperti mas atau bang. ↩︎
Tanggal tayang:
Minggu, 1 Oktober 2023
Cerpenis
Yuni Sulistyowati
Anak SMK yang paling suka baca buku dan nonton film aksi. Menulis sejak masih SMP. Beberapa karyanya telah terbit dalam buku antologi. IG: @yunn_nii_
Testimoni Yuni Sulistyowati
Selasa, 3 Oktober 2023
Suatu hari, saya menemukan diri kehilangan minat menulis. Cerpen_sastra membantu saya menemukan cinta pada “anak-anak” yang telah saya tinggalkan. Saya pernah berjanji untuk lebih produktif tahun ini dan kalau tidak menemukan @cerpen_sastra, bisa jadi janji gagal saya penuhi.
“Ah, pokoknya aku ngirim. Kepilih atau engga itu belakangan!” Itulah yang terpikir di benak ketika menulis cerpen yang saya kirim untuk pertama kali di @cerpen_sastra. Siapa sangka, saya terpilih. Senang mengetahui bahwa karya saya layak.
Terima kasih @cerpen_sastra telah membawakan sekarung semangat untuk saya yang bermalasan sepanjang tahun ini. Saya percaya @cerpen_sastra terus berkembang dan menjadi pendukung bagi para penulis Indonesia. Semangat untuk para penulis yang sedang berjuang. Saya yakin kita bisa memenuhi mimpi. Satu yang pasti, jangan pernah berhenti berkembang.

