Semakin lama, gejalanya semakin menjadi. Aku sudah tidak dapat berbuat apa-apa melihat bapakku seperti ini.
…
Aku terkejut melihat Bapak yang tiba-tiba jatuh di kamar mandi. Kakinya menjadi sangat kaku dan tidak dapat digerakkan. Padahal selama ini Bapak selalu mengecek kesehatan dengan tes darah di laboratorium secara berkala, tetapi aku tidak menyangka jika Bapak akan terkena stroke.
“Tidak. Hasil tes pasien semuanya baik-baik saja.”
Ucapan dokter membuatku tercengang. Bukannya aku mengharapkan bapakku terkena stroke, tetapi beliau tidak bisa berjalan dua harian ini.
“Yang benar saja, Dok? Lalu Bapak saya kena penyakit apa?” tanyaku kalut.
“Saya sendiri juga bingung dengan hal ini,” sahut dokter, “hasil tes darah pasien semuanya juga dalam ambang normal.”
Aku yang frustrasi akhirnya mendorong kursi roda yang diduduki Bapak keluar dari ruang praktik dokter.
“Le, coba bawa bapakmu ke tukang urut Mpok Iyem. Dia terkenal bisa menyembuhkan penyakit tanpa harus ke dokter.”
Aku yang tidak begitu percaya dengan pengobatan tradisional akhirnya mengantarkan Bapak ke tempat urut Mpok Iyem. Setelah diurut selama dua jam lamanya, akhirnya kaki Bapak kembali bisa berjalan.
“Wah!” Aku berseru bahagia.
“Terima kasih banyak, Mpok Iyem!”
“Sama-sama Nak.” Mpok Iyem ikut bahagia. Aku akhirnya melipat kursi roda dan menaruhnya ke baki di mobil pick up. Bapak duduk di samping kiriku dan aku yang mengemudikan mobil.
“Astaga. Ini benar-benar ndak bisa kupercaya,” ujarku sambil memegang kemudi, “lebih manjur tukang urut daripada dokter spesialis.”
Bapak terdiam. Aku terus menyetir hingga tiba di depan rumah. Ketika melangkah turun, Bapak berkata, “Maaf, ya, Le. Karena Bapak, kamu jadi harus menghabiskan uang untuk pengobatan.”
“Sudahlah, Pak! Jangan bermuka muram seperti itu. Untung kita cepat pergi ke tempat Mpok Iyem,” sanggahku sembari mengunci mobil pick up.
…
Lagi-lagi penyakit Bapak kambuh. Kali ini, bahkan Bapak tidak bisa buang air sama sekali. Aku dan Emak kembali kalap. Padahal Bapak sudah bisa bekerja lagi di sawah, tetapi mengapa harus terjadi lagi? Nahasnya lebih parah daripada sebelumnya. Aku kembali mengantarkan Bapak ke tempat Mpok Iyem. Tapi kali ini, hasil urut dan pijat Mpok Iyem tidak membuahkan hasil.
“Maaf, Nak Sunar. Mpok sudah berusaha semaksimal mungkin tapi penyakit bapakmu ini sangat aneh. Mpok pas urut kaki Bapak itu keras sekali, seperti kayu.”
Memang benar, aku pegang kaki bapak seperti gelondongan kayu. Namun aku tidak mau patah arang, aku kembali mencari dokter.
“Ini aneh. Aneh sekali.”
Dokter bergumam sendiri. Aku menunduk lesu.
Ke mana lagi aku harus mengobati Bapak?
“Coba Anda ke bagian akupuntur. Siapa tahu bisa membantu.” Agak aneh mendengar dokter malah menyarankanku membawa Bapak ke ahli akupuntur. Namun karena aku sudah kehabisan akal, aku mengiyakan kata dokter.
…
“Kondisi Bapak memang aneh. Tapi sekarang dia sudah bisa kencing dan BAB lagi,” jelas ahli akupuntur. Aku menghela napas lega. Namun terbesit di pikiranku, apakah penyakit aneh Bapak ini akan kambuh kembali?
“Jangan mikir yang buruk-buruk, Le!” Emak menyentil dahiku dengan telunjuknya. Meskipun hanya telunjuk, rasanya sakit sekali.
“Bukannya begitu, Mak. Sunar cuma khawatir,” kilahku cepat.
“Udahlah, Bukne. Wajar aja tole mikir begitu. Aku juga memikirkan hal yang sama dengannya,” imbuh Bapak.
Aku memutuskan tidak akan berpikir buruk mengenai kesehatan Bapak. Namun mendekati sebulan sejak kambuh terakhir Bapak, aku tidak dapat mengusir rasa gusar. Sebenarnya apa yang terjadi kepada Bapak? Mengapa dokter tidak bisa mendiagnosis penyakitnya? Aku menepuk kedua pipiku dengan keras.
Sudah, Sunar. Kau tidak perlu berpikir aneh-aneh, semua serahkan saja ke Tuhan. Dan akhirnya, lebih dari sebulan Bapak tidak kambuh lagi. Setidaknya kekhawatiranku hanya sebatas imaji.
…
“Pak, Mak. Sunar berangkat dulu, ya.”
“Le, bekalmu sudah kamu bawa, belum?”
“Dalem.”
Akhirnya aku berangkat menuju kampus. Ini adalah semester pertamaku di jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian di salah satu perguruan tinggi negeri di Pulau Jawa. Alasan aku mengambil bidang pertanian tak lagi dan tak bukan untuk memajukan hasil panen sawah milik orang tuaku. Kali ini kami diajarkan pengantar agronomi. Memang ini masih secara garis besar dijelaskan. Dosen yang mengajar ini kebetulan adalah dosen bagian proteksi tanaman. “Jadi ini adalah penyakit-penyakit yang menyerang banyak tanaman di seluruh dunia.” Bapak dosen mengganti salindia. Di sana kami ditunjukkan patogen-patogen—mikrob yang menyebabkan penyakit—dengan gejala di tanaman.
“Ini adalah Xanthomonas. Gejala awalnya daun berwarna hijau kelabu, melipat dan menggulung.”
“Lama kelamaan daun-daun tersebut akan berwarna kuning terang dengan bercak hitam, menimbulkan hawar. Daunnya akan layu dan akhirnya mati,” jelas dosen. “Berikutnya adalah gejala Ralstonia solanacearum. Gejalanya tanaman akan mengalami layu batang, daunnya bisa mengerut dan menguning. Bakteri ini menyerang pembuluh tanaman sehingga paling banyak ditemukan di batang. Kalau kalian memotong batangnya, nanti akan keluar cairan putih, biasa disebut bacteria ooze.”
“Lalu ini adalah penyakit busuk akar oleh Ganoderma. Seperti yang kalian lihat, Ganoderma bukan bakteri, melainkan jamur basidiocarp ….”
Aku terus mencatat yang dijelaskan dosen. Bagiku materi ini sangat menarik karena sawah kami pernah mengalami kerugian besar karena serangan hama dan penyakit. Hingga akhirnya sampai ke penghujung kelas, aku mengendarai motorku menuju rumah. Aku tidak sabar menceritakan keseharianku di kampus kepada Emak dan Bapak.
Namun aku kembali dikejutkan melihat Bapak sangat kaku. Seluruh badannya tidak bisa bergerak dan sangat keras. Hanya mata dan bibir masih bisa bergerak.
“Le! Bagaimana ini? Emak sudah bawa Bapak ke ahli akupuntur tapi malah makin parah!”
Bungkusan kresek yang kutenteng setelah aku turun dari sepeda motor lantas merosot begitu saja dari tanganku.
…
Tiap harinya, ada keanehan yang selalu muncul dari tubuh Bapak. Dimulai dari kaki Bapak yang menghasilkan benang-benang halus bercabang, kemudian kedua kaki Bapak menyatu. Posisi tangan Bapak pun berubah. Awalnya sejajar dengan badan, sekarang keduanya menjadi siku-siku dengan badannya. Bapak pun tidak bisa makan, beliau hanya bisa meminum air. Namun beliau selalu mengeluhkan bahwa dirinya lapar.
“Apa yang harus kita lakukan?” Emak frustrasi. Aku juga tidak kalah buncah. Infus maupun NGT tidak mempan terhadap Bapak. Terbesit dalam pikiranku sebuah ide gila ini. “Mak, kita bawa Bapak ke luar, yuk? Sekalian berjemur supaya enggak sumpek.” Emak hanya bisa mengangguk lesu. Kami membawa Bapak ke depan halaman rumah supaya Bapak tidak suntuk di dalam kamar.
“Akhirnya Bapak mulai merasa ada makanan masuk.”
Aku dan Emak melongo. Apa karena penyakitnya ini, pikiran Bapak juga jadi semakin aneh?
Ternyata benar saja dugaan gilaku tadi, cabang-cabang di kakinya semakin besar dan mengeras membentuk akar pohon, kemudian dari kedua tangannya bermunculan cabang-cabang membentuk ranting, dan dari ranting tersebut tumbuhlah daun-daun hijau. Aku dan Emak sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi.
…
Sudah menjadi hal biasa mendengar kisah Bapak yang berubah menjadi pohon di kota kami. Bahkan sampai diliput oleh koran dan televisi. Entah aku harus bangga atau tidak karena menjadi sangat terkenal akibat masuk media cetak dan sosial, tetapi aku tetap tidak bisa menerima keadaan Bapak yang seperti ini. Bagai menjaga pohon, aku menggunakan seluruh ilmu yang kudapatkan di kuliah.
Niatku yang sebelumnya kuliah demi memajukan panen sawah berubah menjadi demi kelangsungan hidup Bapak. Namun seakan sudah jatuh tertimpa tangga, aku pun harus mengusir dan membunuh hama yang merusak Bapak. Meskipun Bapak menjadi pohon, tetapi aku tidak kuasa melihat tubuhnya digerogoti dan mengeluarkan getah berwarna merah darah. Tak hanya itu, aku melihat akar Bapak membusuk dan berwarna kemerahan. Daun-daunnya mengerut dan menguning, lalu saat rantingnya tidak sengaja patah karena angin kencang, keluarlah getah merah sekaligus cairan berwarna putih.
Itu bacteria ooze. Aku mengambil cairan putih itu lalu diam-diam mengujinya di laboratorium kampus. Benar saja, Bapak telah terserang layu bakteri oleh Ralstonia solanacearum. Parahnya lagi, di bagian akar Bapak bermunculan benang-benang kemerahan yang perlahan membentuk setengah lingkaran keras. Itu adalah basidiocarp Ganoderma. Keadaan Bapak sudah tidak tertolong lagi. Akarnya yang layu membuatnya rebah dan tidak mampu menyerap nutrisi dari tanah. Akhirnya, Bapak sepenuhnya mati sebagai pohon. Namun kata-kata terakhirnya mengusikku.
“Le, bilang ke sepupumu itu. Maafkan Pakde karena dulu Pakde bersikap sangat kejam padanya.”
Aku pergi menemui saudara sepupu yang berusia tertaut tiga belas tahun dariku. Susah sekali mencari alamatnya. Hingga aku mendapat kabar kalau dia bunuh diri dan meninggalkan pesan, “Akhirnya balas dendamku tercapai. Mari kita terbakar di neraka bersama-sama.” (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 22 Oktober 2023
Cerpenis
Chrisania Sharon Vircilia
Telah menerbitkan 8 buku solo dan memenangkan berbagai lomba menulis cerpen. Lulusan Bioteknologi yang anehnya malah jadi tukang ngetik naskah fiksi. Sangat suka menonton drakor bergenre mystery-thriller, fantasi, dan komedi. Sekarang pekerjaannya jadi ibu dari “para anak” berupa bakteri dan jamur di lab. IG: @eren_chiirsa.
Testimoni Chrisania Sharon Vircilia
Selasa, 24 Oktober 2023
Awalnya saya tahu @cerpen_sastra karena pernah lewat di beranda Instagram saya. Saat baca cerpen-cerpennya, saya terkesima dan berpikir, “Apakah bisa saya membuat cerpen sebagus itu?” Akhirnya saya mengajak kenalan saya, Hardina Okteviara Hapsari, untuk ikut mengirimkan lebih dahulu dan saya tak percaya karya dia lolos dipublikasi tanggal 16 Juli 2023. Akhirnya saya kirim cerpen juga ke @cerpen_sastra, apa daya sudah 2 kali saya kirim tetapi tidak masuk nominasi.
Saya akhirnya berkecil hati dan curhat ke teman saya itu, lalu dia berkata untuk jangan patah semangat dan coba menuliskan cerita yang sangat unik. Berbekal pengalaman selama 6,5 bulan bekerja di bidang Mikrobiologi, akhirnya saya ciptakan karya yang bagi saya sangat “nyeleneh”. Saya tidak percaya karya saya disukai banyak orang, bahkan rekan kerja dan bos saya ikut membaca karya saya. Dan tentu hadiah uangnya sangat membantu saya di saat saya sangat paceklik di bulan tua ini. Terima kasih @cerpen_sastra, semoga terus melahirkan cerpen yang berkualitas tiap minggunya.

