Site icon cerpensastragrup

Pembunuhan di Rumah Ibu (Cerpen Isra Nabila Harmelia Putri)

Sumber ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Artem_Furman.

Semua keluarga berkumpul di ruang tamu dengan berbagai macam ekspresi dan aku meneliti satu demi satu wajah mereka, wajah keluargaku. Ayah, dialah yang serumah dengan Ibu, dialah suami Ibu, dan wajah Ayah? Ayah tampak tenang, mungkin karena pembawaannya yang selalu tenang. Apakah Ayah sedih? Aku selalu bertanya-tanya, karena dirinya yang tak pernah menangis hingga sudah lewat dua hari Ibu meninggal. Lalu aku beralih pada Kak Bram, kakak pertamaku. Wajahnya masih sangat sedih, pucat, dan tampak tidak bersemangat. Apakah wajahnya memang menggambarkan kacaunya kami tanpa Ibu? Namun, wajah Kakak kedua juga tidak kalah pucat. Namanya Kak Rina, anak perempuan yang paling besar di keluarga kami. Jika dibandingkan dengan Kak Bram, wajah Kak Rina lebih kacau. Jauh sekali perbedaannya dengan ekspresi Bina, anak ketiga, tepat 1 tahun berada di atasku. Wajahnya sangat tenang, pikirannya sepertinya juga tak kalah tenang dari wajahnya itu. Aku selalu bertanya-tanya dengan ketenangan dari wajahnya yang dari hari Ibu ditemukan tewas dengan pisaunya, wajah Bina masih setenang sekarang.
…

”Sari, kamu ingin menyampaikan sesuatu?”

Suara itu sungguh mengganggu waktuku mengamati wajah tenang Bina. Aku menggelengkan kepalaku. Fokusku berkumpul di sini bukan untuk menyampaikan pendapat atau apa pun itu, fokusku hanya satu, meneliti wajah-wajah pembohong yang berada di sekitarku ini.

Apa yang mereka sembunyikan sebenarnya? Apakah wajah-wajah yang sekarang berada di satu ruangan denganku ini menyayangi Ibu? Apakah wajah kacau Kak Bram dan Kak Rina benar-benar menggambarkan kekacauan karena kehilangan Ibu?

Siapa yang tega membunuh Ibu? Aku masih mengingat jelas darah yang mengalir dari leher Ibu, matanya menyisakan bulir air mata, dan kakinya sudah dingin membeku. Rumah ini selalu terkunci, tidak pernah ada yang datang karena kami tidak suka bergaul. Ayah? Ayah sedang berlayar, tak pulang untuk waktu lama. Bahkan Ayah baru pulang sehari setelah Ibu dikuburkan. Di rumah ini ada Ibu, Kak Bram, Kak Rina, Bina, dan aku. Lalu siapa yang masuk ke rumah ini diam-diam di jam 2 dini hari tanpa merusak pintu luar?

Pintu sangat bersih tidak ada bentuk dibuka paksa dan tidak mungkin seseorang itu membuka pintu dengan kunci karena kunci berada di belakang pintu kamar Ibu. Jadi, dapat aku simpulkan bahwa pembunuh Ibu ada di antara kami. Bahkan Ayah juga bisa menjadi tersangka dengan kunci ganda yang dimilikinya.

Aku bertanya-tanya, kenapa kerja polisi belum mengabari? Ini sudah dua hari sejak kepergian Ibu, apakah ada yang menutup-nutupi kasus ini? Apakah Kak Bram? Uangnya banyak, sangat cukup untuk membayar polisi menutupi kasus ini.

“Sari?!”

Aku dan Kak Bram semula saling tatap sebelum suara menyebalkan Bina menghentikan penelusuranku.

”Kamu anak kesayangan Ibu, apakah ada sesuatu yang bisa kamu sampaikan? Atau lebih tepatnya, tolong katakan sesuatu.”

Aku memasang wajah tidak bersahabat dengan seisi ruangan ini dan mereka masih berharap aku mau berdiskusi dengan mereka?

Dasar orang gila! Kemarin-kemarin ke mana saja kalian? Tinggal di rumah yang sama dengan Ibu dengan alasan ingin selalu menemani Ibu, namun faktanya selalu menyusahkan Ibu. Aku berusaha menahan agar kalimat itu tak terucap dari mulutku.

”Hei, bicaralah, Sar. Kita ini sedang mencari pembunuh Ibu. Kita perlu tahu pandangan masing-masing,” suara menyebalkan Bina kembali membuat aku ingin sekali menampar wajah sok sayang Ibu itu.

Aku berdiri, lalu lagi dan lagi kuperhatikan mereka satu per satu. Aku menatap Ayah dan mengatakan bahwa aku tidak akan mengecualikan Ayah dari daftar tersangka. Hingga satu pertanyaan dariku kepada Ayah membuatnya menamparku.

”Kamu gila? Boleh saja mencurigaiku, namun mengatakan bahwa aku tidak pernah mencintai Ibumu bukankah keterlaluan?”

Aku tersenyum, lihatlah temperamentalnya. Bukankah dia memperlihatkan perlakuan seorang pembunuh padaku?

”Pertanyaanku tidak hanya kepada Ayah, namun aku juga akan bertanya kepada saudara-saudaraku. Apa kalian masih mencintai Ibu saat umur kalian sudah menginjak 12 tahun? Aku paling kecil di sini dan aku yang memperhatikan semuanya dengan aku yang selalu bergelantungan di lengan Ibu.”

Aku bisa melihat wajah mereka yang berubah kesal. Aku cukup membangkitkan suasana di rumah ini layaknya di ruang persidangan. Kak Rina berdiri dari duduknya dan menghela napas yang tampak cukup frustasi. Apa kali ini dia mau memperlihatkan wawasannya yang luas itu kepada kami? Lupakah dia bahwa Ibu mati-matian bekerja untuk membuatnya kuliah dan saat lulus dialah yang mati-matian membuat ibu sengsara. Apakah wajah pucatnya tadi memang bentuk rasa bersalah?

”Sar, jaga bicaramu. Kamu paling muda di sini, setidaknya tunjukkanlah sopan santunmu. Harusnya kamilah yang paling banyak memberimu pertanyaan. Kami di sini semua bekerja, kecuali kamu yang selalu menyusahkan Ibu, kan? Kamu selalu berada di dekat Ibu, kamu yang paling banyak menghabiskan waktu dengan Ibu. Bukankah kamu yang paling mendekati sebagai tersangka?”

Semua diam. Semua diam mendengarkan nyonya besar itu berbicara. Jadi, mereka semua satu pemikiran bahwa aku tersangkanya? Gila! Mereka semua benar-benar gila! Setelah aku merelakan hidupku untuk menjaga Ibu, mereka malah menuduhku? Aku kembali tersenyum, namun senyum kali ini sakit sekali rasanya. Aku ingin tersenyum untuk mengejek mereka, namun kenapa senyumku terasa menyedihkan?

”Apa Ibu pernah menyakiti hatimu, Sar? Atau kamu lelah seharian di rumah menjaga Ibu?” kali ini Kak Bram yang bersuara.

Apakah aku tampak tidak menyayangi Ibu? Apa aku tampak sangat lelah mengurus Ibu? Tidakkah Tuan besar itu berkaca pada dirinya sendiri? Tidakkah sadar bahwa dia sering membuat Ibu menangis? Tidakkah dia sadar bahwa dia sungguh menyusahkan Ibu karena masih tinggal di rumah ini dengan kami semua?

Aku akan memberikan waktu untuk Bina dan Ayah ikut menyalahkanku. Aku akan memberi mereka waktu untuk mengungkapkan rasa benci mereka padaku. Benar saja, belum sampai semenit pemikiran ini, Bina sudah berdiri.

”Tahukah kamu bahwa umur kita yang dekat ini tidak menjadikan kita dekat, Sar? Itu semua karena keangkuhanmu. Apa yang kamu lakukan pada Ibu? Aku tak ingin menuduh di antara kita semua, namun kamu yang paling mencurigakan. Tatapanmu pada kami sedari kita berkumpul bersama di ruang tamu ini dan ucapanmu seolah-olah mendikte rasa kasih sayang kami pada Ibu membuatku bertanya-tanya, apakah kamu menyesal merelakan masa mudamu?”

Tidakkah Bina keterlaluan? Bukankah dia yang selalu membentak Ibu? Dialah yang sering membuat tensi Ibu naik.

Hening. Ayah tak bersuara. Baiklah, biarkan aku yang bicara.

”Pernahkah kalian semua memikirkan perasaan aku? Pernahkah kalian merasa iba padaku? Pernahkah kalian menanyakan kabarku dan kabar Ibu saat kalian pulang? Pernahkah kalian duduk di meja makan untuk menemani Ibu makan? Pernahkah kalian mendorong kursi roda Ibu? Pernahkah kalian menanyakan apa Ibu sudah makan atau belum? Uang yang kalian beri kepadaku untuk makan Ibu bukan berarti kalian memperdulikan Ibu, bukan berarti kalian mengkhawatirkan Ibu, dan bukan berarti kalian menyayangi Ibu.”

”Makanya aku bertanya, apakah kalian masih menyayangi Ibu saat usia kalian sudah memasuki 12 tahun? Aku hanya ingin bertanya, karena itu pertanyaan Ibu padaku. Jarak usia kita tak jauh beda, aku sudah hidup di usia 12 tahun kalian. Aku menyaksikannya. Aku juga menyaksikan bagaimana rasa cinta Ayah sudah berkurang pada Ibu. Kita tak tampak seperti keluarga, bahkan di antara kakak beradik juga tidak tampak rasa kasih sayang. Aku tahu semuanya, karena seperti kalian bilang bahwa aku yang selalu di rumah ini.”

Tidak mungkin aku membunuh Ibuku. Tidak mungkin aku melukai Ibuku. Aku tahu pasti, Ibu kesepian dan itu karena mereka. Aku tahu pasti, Ibu selalu meminta waktu pada mereka dan mereka yang selalu memarahi Ibu karena mengganggu. Jadi, siapa pembunuh Ibu sesungguhnya? Mereka yang menganggap kehadiran Ibu sebagai pengganggu atau aku yang lelah menjaga Ibu sendirian?

Suara ketokan pada pintu rumah membuat diskusi ini terhenti. Ayah membukakan pintu. Kami semua langsung berdiri saat melihat polisilah yang datang, harapan besarku ada pada polisi ini. Aku sebenarnya tidak sanggup akan mendengarkan fakta sesungguhnya.

”Kami datang ke sini untuk menginformasikan bahwa kasus Ibu kalian sudah ada titik terangnya.”

Jantungku berdegup sangat kencang, takut sekali mendengarnya. Siapa pembunuhnya?

”Ibu kalian bunuh diri.”

Kalimat itu cukup untuk membuat kakiku tidak lagi kuat untuk berdiri. Bagaimana bisa Ibu yang membunuh dirinya sendiri? Sesakit apa yang Ibu lalui tanpa aku ketahui? Apa yang sudah kami lakukan pada Ibu yang sangat menyayangi kami?

”Apa yang kami lakukan, Bu? Siapa yang membunuh Ibu sesungguhnya, Bu? Mereka yang menganggap kehadiran Ibu sebagai pengganggu atau karena aku yang lelah menjaga Ibu sendirian?” (*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 21 Juli 2024.

Tentang Cerpenis
Isra Nabila Harmelia Putri
Suka menulis dari duduk di bangku SMP. Saat SMK aktif menjadi bagian penulis di teater SMK. IG: @enemysra

Testimoni Isra Nabila Harmelia Putri

Senang sekali rasanya bisa menjadi pemenang di @cerpen_sastra karena “Pembunuhan di Rumah Ibu” adalah karya ke-5 saya yang saya kirimkan ke @cerpen_sastra. Tidak menyangka akhirnya dilirik juga untuk menjadi pemenang dan membuat saya menjadi semakin semangat untuk terus aktif mengirimkan karya saya ke depannya.

Menulis memang sesuatu yang saya anggap sebagai bagian dari diri saya sendiri, karena sudah 7 tahun saya menulis sehingga kehidupan sehari-hari saya selalu dipenuhi dengan judul-judul dan alur cerita yang akan saya tuliskan. Senang sekali bisa bertemu media yang tepat untuk menyalurkan karya-karya saya kepada teman-teman pembaca. Sekali lagi terima kasih kepada @cerpen_sastra dan Pak Horas. Sukses selalu!

Exit mobile version