Siaran televisi meliput berita bencana, terdapat korban jiwa, kerugian materi dan dampak psikis. Isu penyebab bencana menyebar cepat seperti wabah virus. Mulai dari sains hingga mistis menjadi buah bibir di sudut kota.
***
“Kau tahu di antara wilayah A sampai Z wilayah kita, yaitu X menjadi yang terparah. Aku tidak tahu apa salahnya.” Pria tinggi kurus bernama Bendi berucap lesu.
“Tentu saja salah masyarakatnya! Perhatikan, di antara semua wilayah, apa yang membedakannya? Benar, kebaikannya. Wilayah X dinobatkan sebagai wilayah teladan dengan masyarakat baik.” Ungkap Toro. Pria berwajah bulat cantik.
“Apa itu salah?”
“Salah besar! Mereka mengganggu tatanan kota. Kau tahu, kebaikan dan kejahatan berjalan beriringan, tapi bagaimana jika kebaikan melaju pesat dan meninggalkan keburukan? Tentu alam tidak seimbang, dan akhirnya mendatangkan bencana.”
***
Pasar minggu kian ramai. Jalanan padat, pembeli yang berjalan kaki menenteng plastik belanjaan, bunyi klakson motor bersahutan memaksa masuk di gang sempit, suara negosiasi untuk mencapai akad, para buruh panggul, kios-kios berjejer rapat dan aroma bercampur antara peluh, debu, terik matahari, asap knalpot, amis, dan kubangan air keruh.
“Bu Desi! Kau jangan selalu berjualan dengan barang-barang bagus! Lihat toko sembakomu, sudah harga murah, kadang kau memberi diskon, dan melebihkan timbangan.” Toro ke pasar menagih uang keamanan ilegal.
“Apa tidak baik?”
“Buruk! Ini hal baik yang menjadi buruk. Kebaikanmu membuat konsumen membeli dengan jumlah banyak, dan jika membeli banyak, maka mereka akan apa? Benar, mereka akan bersedekah membagikan makanan untuk orang yang kekurangan, lalu orang yang kekurangan ini jika terus diberi maka akan terlena dan menjadi pemalas. Jika menjadi pemalas, mereka akan jadi orang yang tidak peduli, jika mereka tidak peduli maka mereka bisa merusak wilayah X karena ketidakpedulian itu.”
“Astaga! Apa yang telah aku lakukan.” Bu Desi mencopot label harga, lalu menggantinya dengan yang lebih mahal.
“Bu Desi harus mengabari pedagang lainnya!”
“Hoy!” Bendi menepuk pundak Toro. Dia berjengit kaget.
“Kau ingin Bu Desi menaikkan harga jualannya agar dia mendapat uang banyak dan kau juga kecipratan.” Bendi mengabaikan pertanyaannya.
“Aku sudah muak dengan dia, tokonya yang paling ramai tapi paling susah membayar,” Toro merangkul pundak Bendi, “sekarang temani aku menemui supir yang mengantar barang.”
***
Pabrik bangunan yang memasok pasir, batu, semen, dan tanah. Terlihat tua dengan gerbang karatan dan cat yang memudar. Namun, di dalamnya sangat sibuk dengan operasional yang tinggi. Tumpukan material, mobil truk berjejer, bunyi gesekan mesin dari alat berat yang memindahkan material dan partikel debu yang beterbangan.
“Oyy! Bang Kasim. Apa kabar, nih?” Toro memberikan amplop putih saat berjabat tangan.
“Waduh repot-repot. Kabar baik. Sudah lama gak ke sini, ada perlu apa kau, Toro?”
“Gini, ada pesanan dari Bos Kilang Merah, biasalah mau bangun bisnis baru jadi perlu kantor baru. Dia pesan bla bla bla.”
“Banyak juga.”
“Iya, Bang. Tapi pesanan ini harus cepat diantar. Kalau bisa sore ini sudah datang.”
“Engga bisa, Toro! Lokasinya lumayan jauh, belum lagi jalanan yang biasanya dilalui lagi perbaikan, jadi kami memutar dan harus mengikuti jam operasional malam hari yang sepi, kemungkinan bisa sampai subuh baru sampai.”
“Tidak usah memutar. Lewat kota lebih cepat.”
“Heh! Melanggar itu.” Kasim berseru galak.
“Abang nih terlalu taat. Ini yang menyebabkan banyak masalah dan kerusakan di kota kita. Abang pikir jalan yang biasa abang lalui itu rusak karena kena hantaman banjir? Salah! Ini terjadi karena abang terus-menerus lewat jalan itu. Akibatnya jalan itu lelah, kropos, berlubang dan sekali kena air langsung rusak parah. Abang melewati satu jalan yang sama setiap hari. Tandanya abang bukan sosok yang adil. Bagaimana dengan jalan kota yang tidak pernah terjamah truk? Tidak pernah rusak.”
“Apa itu buruk? Bukannya bagus kalau tidak rusak.”
“Tidak rusak bukan berarti baik, itu justru buruk. Jika jalan tidak pernah rusak artinya jalan itu belum mengalami perbaikan apa pun. Karena apa? Benar. Karena tidak pernah rusak. Kita tidak tahu apa yang dirasakan jalan itu, terlihat mulus bisa saja di dalamnya hancur.”
“Ya, Tuhan! Apa yang telah aku lakukan.” Kasim mengusap wajah kasar.
“Jadi, sudah siap, kan?”
Lima truk bermuatan berat berangkat. Tidak melewati jalan lintas yang memutar dan tidak menunggu malam.
“Kau yakin tidak bahaya?” Bendi menatap truk yang pergi dengan gelisah.
“Apanya yang bahaya? Cuma numpang lewat untuk ngantar barang. Lagi pula aku sudah memberi uang amplop lebih. Kalau memang dia baik harusnya tidak menerimanya.” Toro merangkul Bendi dengan susah payah, “Ayo, aku traktir nasi padang. Dapat bonus dari Bos.”
***
Toro pulang pukul 22.37, pria berwajah cantik menjinjing plastik berisi terang bulan. Langkahnya riang dan sudut bibir melengkung seperti busur panah. Malam ini sangat indah walau tiada bintang dan purnama, hanya langit gelap, angin yang berhembus kencang dan beberapa burung cabak mengintai jangkrik, belalang, dan nyamuk.
“Ibu pasti senang aku bawa uang setoran lebih banyak, dan Bapak juga sebentar lagi dapat panggilan untuk perbaikan jalan di kota. Sungguh! Aku adalah anak berbakti.” Toro terkikik sambil membuka pintu rumah.
“Toro, Toro, Toro. Ya ampun, kau dari mana saja, hah?! Tadi banyak preman datang. Lihat apa yang dia lakukan pada rumah kita.” Ibu Toro mengadu. Matanya sembab dan rambut yang awut-awutan seperti habis dijambak. Rumah kontrakan yang tak seberapa itu menyerupai kapal pecah. Kursi plastik yang malang melintang, meja kayu yang terbalik, figur foto dan pot hiasan berserakan, lantai kotor bekas jejak lumpur, jendela kaca retak dan televisi tua yang berasap.
“Apa yang terjadi, Bu?!” Toro memeluk Ibunya. Mata berkilat merah, tangannya mengepal, dan dadanya naik turun.
“Bos Kilang Merah murka. Dia memerintah para preman mengancam dan menghancurkan rumah kita. Dia menyuruhmu datang menemuinya besok pagi, Toro! Sebenarnya apa yang telah kau lakukan?!” Bapak Toro keluar dari arah dapur membawa kompresan es. Sudut bibir memar dan jejak darah di hidung.
“Bapak,” ujar Toro khawatir.
“Bos Kilang Merah mendapat masalah bertubi-tubi. Para pedagang di pasar menaikkan harga jualan yang tidak sesuai standar, sehingga pembeli berkurang drastis dan pendapatan para pedagang ikut menurun. Bos Kilang menjadi sulit menagih pedagang dan uang pemasukan terpangkas hampir setengahnya. Kau tahu yang terburuk? Para pembeli melapor pada dinas pasar karena merasa ditipu. Terjadilah pengawasan ketat dan bisnis pungli itu menjadi terseret. Bos Kilang mendapat surat panggilan dan terkena sanksi pidana penjara dan denda. Ia menggelontorkan banyak uang untuk menyuap sana-sini agar terbebas.”
“Ya, Tuhan, apa yang telah aku lakukan.” Toro menelan ludah kasar.
Malam itu penuh perenungan. Toro bersimpuh di hadapan orang tuanya. Ia memohon doa restu dan keselamatan. Toro tidak yakin akan kembali dalam keadaan utuh.
***
Pagi buta Toro pergi. Mengendarai motor supra butut yang knalpotnya mengepul hitam. Dinginnya embun pagi membuat bulu kuduk merinding. Sampai di markas utara yang sangat terpencil. Suram dan gelap, banyak preman seram dan senjata tajam.
“Kau cecunguk gila! Bajingan sampah yang buat gua hampir bangkrut. Mati! Mati ke neraka. Gara-gara mulut besarmu yang busuk itu gua hampir dipenjara!” Bos Kilang Merah memukul Toro yang digantung dengan rantai seperti seonggok daging merah.
“Setidaknya masih hampir, Bos.” Toro batuk darah, napasnya tersengal, peluh bercucuran dan tubuh luka-luka.
“Cari mati! Lempar dia ke kandang babi!”
Toro diseret keluar. Namun, bunyi sirine polisi menyelamatkannya. Penangkapan darurat terjadi. Puluhan aparat dan satuan khusus yang mengenakan seragam hitam antipeluru. Kelompok Bos Kilang Merah tidak bisa bergerak dan melawan. Rencana penangkapan terstruktur, pintu keluar sudah diblokir, jalan ditutup dan penembak jitu yang menguasai sekitar gedung. Toro menganga, tidak mengerti apa yang terjadi. Tapi yang pasti semuanya dibereskan, ditangkap dan ia pulang dengan selamat.
***
“Toro! Toro! Toro! Lihat apa yang terjadi!” Ibunya melompat riang dan memeluknya. Tumpukan hadiah dan piagam penghargaan warga sipil pemberani menumpas kejahatan.
“Selamat, Toro. Seumur-umur baru kali ini kamu mendapat prestasi, dari pemerintah langsung malah.” Bapak Toro menepuk pundaknya.
“Ya, Tuhan! Memang apa yang aku lakukan?”
“Seorang supir ditangkap karena membawa muatan berat melewati jalanan kota. Lalu, aparat menyelidiki kalau material yang dipesan menuju tempat terpencil dan ternyata tempat itu beroperasi untuk narkoba. Berkat kamu menyuruh sopir lewat kota, operasi penangkapan jadi berhasil. Kamu berjasa, Toro,” Bapaknya mengetuk dagu, “Bapak bingung kenapa sekelas Bos Kilang mempekerjakan kau?”
“Katanya aku pandai ngomong.”(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 15 Februari 2026.
Tentang Cerpenis
Indri AnisaMengenyam pendidikan di Universitas Lampung dengan program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Aktif menulis di waktu luang, terutama cerpen, puisi, esai, fiksi mini, serta berbagi karya di platform lain (akun wattpad: KertasHening). Motto: setiap keputusan adalah tanggung jawab. IG: @indrianissa48
Testimoni Indri Anisa
Usaha tidak menghianati hasil. Saya mengikuti cerpen sastra selama setahun, mengirimkan cerita yang saya kira layak dan mampu bersaing dengan penulis-penulis hebat lainnya. Pernah berada di posisi nominasi sebanyak empat kali. Namun, merasa kurang cukup, saya kembali menulis untuk cerpen sastra yang menurut saya, wadah kepenulisan profesional, tegas, dan disiplin.
Mulut Besar Toro merupakan karya pertama saya di awal 2026, saya tidak menaruh harapan besar karena karya ini dibuat dalam dua hari, namun yang membedakannya dengan karya sebelumnya ialah Toro yang tidak membuat saya pusing atau tertekan. Dia hadir sebagai representasi obrolan sehari-hari yang mungkin dianggap sepele, tetapi sebenarnya berdampak bagi siapa pun yang mendengarnya. Bahasa yang dapat membuat orang merasa marah, sedih, bahagia, takut, jijik, kaget, malu, bangga, dan lain sebagainya.

