Sepi, gelap, berbau busuk. Itulah yang dirasakan Agung ketika menapaki jalanan desa. Lubang-lubang peluru dan darah menambah motif baru pada rumah warga. Tak nampak satu pun pelita yang berpendar malam itu. Tinggal Agung sendirian, mencari siapa pun yang masih bertahan. Ia memasuki gedung rumah sakit yang dipenuhi bau darah pekat.
…
Pemandangan yang lebih mengerikan disaksikannya. Tua-muda, pria-wanita, yang merawat dan yang dirawat tergeletak begitu saja di genangan darah. Sangat mengerikan, karena embusan nafas pun tak terdengar sama sekali. Semua orang ditumpas habis. Tiba-tiba, terang obornya menampakkan sosok yang bergerak sendiri di tengah tumpukan mayat segar. Embusan nafasnya ringkih, namun terdengar jelas.
Panik dan khawatir. Agung mendekati sosok itu dengan perasaan iba. Ia segera menariknya, lalu membersihkannya. Ternyata, sosok tersebut adalah pria tua yang menderita penyakit sangat parah. Terdapat bekas tembakan yang cukup dalam di perutnya.
“Maaf Mbah, saya tidak bisa mengeluarkan peluru yang menancap di perut Anda. Tetapi jangan risau, saya akan mengobati Mbah sampai sembuh,” ucap Agung berjanji pada raga yang terkulai lemah itu. Ucapannya dibalas dengan anggukan pelan.
Sepertinya, Agung berjanji di momen yang salah. Tidak mungkin membawanya ke kota dalam situasi genting semacam ini, karena Belanda sudah memblokade semua akses menuju kota. Ia pun juga tak tahu-menahu soal pengobatan medis. Dilema menyelimutinya. Janji tetaplah janji, dan ia harus bertanggung jawab. Agung kemudian ingat, bahwa ia pernah dibawa oleh Ading, kakaknya yang merupakan pejuang kemerdekaan, ke markas mereka di Gunung Kawi. Meskipun berada di tengah hutan, terdapat cukup banyak dokter yang andal. Semenjak Belanda melancarkan Clash II, mereka belum pernah naik dan menyerang Gunung Kawi. Agung telah mengetahui tempat yang aman serta pengobatan bagi kakek itu. Tetapi, bagaimana cara menuju ke sana?
Satu-satunya pilihan adalah berjalan kaki, membawa raga pria itu ke tempat tujuan. Agung melihat tubuh kecilnya, dan menatap sang kakek yang hanya bisa berbaring saja. Menggendongnya dengan posisi apa pun ke gunung dirasa mustahil dan cukup riskan. Akan tetapi, Agung tak patah arang. Diambilnya batang bambu sepanjang dua meter. Kain kelambu yang tersingkap di lantai ditalikannya ke kedua sisi bambu. Jadilah tandu berbentuk hammock yang bisa ia pikul sendiri. Ditidurkannya kakek itu di tandu, dan ia siap berangkat.
Dini hari benar, Agung meninggalkan desa dengan fisik dan mental berbeban. Tandu pasien dipikulnya sendiri di bahu kanan, sementara tersampir ransel stok makanan di bahu kiri. Kaki-kakinya seakan melangkah tanpa keseimbangan, namun ia memaksakan maju. Sesegera mungkin ia meninggalkan desa ini dan tiba di Gunung Kawi. Perjalanan ini sangat menguras energinya. Jalan yang dilaluinya semakin menanjak dan tidak rata. Rasanya, tubuh ringkih itu sudah hancur lebur ditimpa beban yang tak sepadan. Ia tak mampu memaksa kaki-kakinya untuk tetap melangkah. Dijumpainya sebuah langgar, dan ia memejamkan matanya sejenak.
“Permisi, Mas. Anda lebih baik beristirahat di luar saja. Kami hendak beribadah,” ujar seorang pemuda seumuran Agung yang hendak salat subuh, membukakan mata Agung.
“Maaf, ya Mas. Terus barang-barang saya ke mana?” tanya Agung mencari barang bawaannya.
“Sudah saya taruh di serambi. Tapi ada barang aneh yang Anda bawa di pikulan. Anda bawa mayat, ya?”
“Jangan ngawur, Mas! Itu kakek saya. Beliau masih hidup. Saya mau mencari pengobatan bagi beliau.”
“Mas, memang Anda mau mencari pengobatan ke mana? Ke siapa? Anda tahu sendiri kalau seluruh mantri di wilayah ini sudah ditangkap Belanda,” tanya si pemuda dengan penuh keraguan.
“Ke Gunung Kawi,” jawab Agung terus terang.
“Gunung Kawi? Mustahil, Mas. Jika ada mantri di sana yang bisa membantu ya syukurlah. Tapi sebenarnya Anda buang-buang tenaga dan waktu memikul kakek Anda. Beliau sudah sekarat. Memikul beliau sama saja dengan memikul mayat.”
Agung emosi. Ia ingin membalas pemuda kurang ajar itu. Namun azan sudah berkumandang, dan langgar mulai ramai. Ia harus beranjak secepatnya, sembari memikul kembali beban-bebannya. Melanjutkan perjalanan.
Jalan yang dilalui terasa sangat berat. Telapak kakinya melepuh. Bahunya lecet menahan kayu pikulan yang kejam menusuk. Keringat melunturkan semarak warna bajunya. Pukul delapan pagi, ia berhenti lagi. Dikeluarkannya sebungkus nasi dari ranselnya, disuapkannya pelan-pelan ke mulut sang kakek. Tetapi kakek tak mau membuka mulutnya dan menggeleng-gelengkan kepala. Minum air pun tak mau, apalagi obat. Agung yang awalnya sabar lama-lama kesal.
“Sepertinya pemuda masjid itu benar, sama saja aku memikul mayat,” geramnya dalam hati.
Agung melahap nasi itu sendirian. Baru saja menelan beberapa jumput nasi, beberapa orang bertubuh tegap mendatanginya.
“Permisi Mas, saya sangat meminta tolong. Anda harus segera meninggalkan desa ini. Desa kami tidak menerima pendatang di masa-masa perang seperti ini,” ucap seorang warga.
“Sebentar Pak, biarlah saya menyelesaikan makan saya. Setelah itu saya akan segera pergi dengan bawaan-bawaan saya,” balas Agung halus. Mendengar jawabannya, empat warga lain mengamati sekitar, dan menggeledah paksa ranselnya. Sementara itu, pria yang tadi menanyainya terus memelototinya yang sedang makan.
“Kamu bukan mata-mata Belanda, kan?” tanya pria itu tegas. Agung hanya menunduk.
“Pak, dia bawa mayat!” seru pria yang menggeledah bawaan Agung. Suasana semakin mencekam dan penuh kecurigaan.
“Mas, tolong segera tinggalkan desa kami! Kami menduga Anda disuruh oleh Belanda untuk membinasakan kami dengan senjata kimia, yaitu mayat ini. Benarkah itu?” bentak pria itu dengan muka marah dan penuh kecurigaan.
“Pak, itu bukan mayat. Itu kakek saya. Saya memikulnya dari bawah untuk mencari pengobatan di Gunung Kawi,” jawabnya.
“Jangan mengada-ada, Mas! Tidak ada satu pun mantri ataupun dukun yang tersisa di Gunung Kawi. Ngomong saja kalau kamu antek Belanda!” tegas pria itu sambil menarik kerah baju Agung.
“Pak, demi Tuhan saya yakin ada mantri di sana. Yang saya bawa itu bukan—”
“Bohong kamu!” seru mereka sambil menyeretnya ke luar desa. Ransel perbekalannya diambil paksa. Tersisa tubuh ringkih Agung dan kakek tua di pikulannya. Ia melanjutkan perjalanannya memutari desa itu.
Matahari telah mencapai titik tertinggi, jalan yang dilaluinya semakin tinggi. Jalan makadam digantikan oleh jalan setapak berlumut, melewati hutan pinus penuh satwa buas. Agung melihat tanjakan yang sangat terjal di hadapannya. Agung memandang tubuh lemah di pikulannya, yang semakin mengucurkan darah segar dari perutnya. Tubuh itu benar-benar diam, hanya terdengar embusan napas yang tidak konstan. Ia semakin yakin bahwa sosok yang dipikul tak ada bedanya dengan mayat.
Coba saja ia tidak menyelamatkan tubuh itu dan tak berjanji padanya, pasti ia tidak perlu menapaki perjalanan berat ini. Toh beliau juga sudah tua dan menderita penyakit parah, tinggal menunggu mati saja. Anehnya, mengapa tubuh itu selamat dari pembantaian, dan mengapa dirinya mau menyelamatkan cercah kehidupan yang tak akan berlangsung lama. Sungguh misterius.
Dalam kekesalannya, Agung berniat meninggalkan tubuh itu di hutan, membiarkannya mati kesepian, dan bangkainya dimakan hewan buas. Terlihat sang kakek ingin segera menikmati kematiannya. Agung pun tak tahu apa penyakit yang dideritanya, takutnya nanti malah membawa wabah yang tak diharapkan. Membiarkan alam yang bekerja dirasa lebih ekologis, manusiawi, dan tentunya praktis. Selama ini, akal sehat Agung telah dibelenggu oleh janji-janjinya sendiri.
Agung tidak mau menjadi pengecut. Apa yang telah dimulai harus dituntaskan. Pikulan yang tergeletak sembarangan itu dijunjungnya kembali. Perlahan-lahan, dinaikinya tanjakan maut yang semakin memperdayakan raganya. Petang harinya, Agung tiba di markas pejuang Gunung Kawi. Segera mencari dokter untuk mengobati pria tua itu. Setelah semuanya beres, ia tertidur dengan pulas, membalaskan kelelahannya selama perjalanan.
“Agung! Cepat selamatkan dirimu! Belanda datang!” panik Ading, kakaknya.
Agung langsung terjaga. Ia bingung bagaimana bisa Belanda mengetahui markas rahasia ini. Di bola matanya yang masih samar-samar, nampak tentara Belanda bersenjata lengkap mengarahkan moncong senapannya, menembak siapa pun yang masih hidup. Pria tua yang ia pikul pun tak luput dihabisi. Letupan senjata api memecahkan gendang telinganya, memaksanya untuk segera bergerak mengikuti kakaknya.
“Agung, pria tua itu kamu bawa dari mana?” bentak Ading sambil membenturkan tubuh Agung ke batang pohon pinus.
“Dari Peniwen, setelah Belanda menyerang. Memangnya kenapa?” sahut Agung.
“Asal kamu tahu, peluru yang tersangkut di perutnya bukanlah peluru biasa. Itu adalah—”
Dor! Sebutir peluru menembus dada Ading yang belum selesai berbicara. Agung bingung, panik, dan merasa bodoh. Perjuangannya membawa malapetaka. Ia mengambil napas dan melirik ke balik pohon. Di sana sudah berjaga tentara yang membidiknya.
Semenjak itu, Agung tidak pernah kembali ke desanya. Cukup sekali saja ia memikul mayat seorang diri. Ia tak mau seorang pun memikul mayatnya. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 12 November 2023
Cerpenis
Kenan Dirgantara
Seorang penulis muda. Ingin dikenal The Secret Author. Ia baru memulai menuangkan pikiran di otak bagian lobus frontal pada dunia kepenulisan, sejak awal tahun dua ribu dua puluh tiga. Akun IG-nya baru, terpantau masih nol pengikut. @dsecretauthor
Testimoni Kenan Dirgantara
Selasa, 14 November 2023
Dalam kegilaan sebagai pelajar super aktif (terus-menerus menelanjangi diri dalam tumpukan buku tugas setinggi gunung di meja kerja), sampai tidur nyenyak adalah mimpi terlarang—otaknya tak henti mengeluarkan panas. Pun, hadirnya paket hadiah olimpiade seperti hujan di padang gersang, mengguyur kelegaan yang seolah menyejukkan gundah. Di tengah gelombang samudra pikiran, ia menemukan keajaiban waktu untuk menyumbangkan intelektualitasnya dan merayakan keberhasilan di panggung sastra dengan cerpennya.
Senang tak terhingga seperti bunga mekar di tengah badai kesibukan. Cerpennya bukan sekadar kata-kata, tetapi sinar bintang yang berdansa di langit kesulitan. Terima kasih tak terhingga. Untuk hadiah, terima kasih sebesar gunung. Semoga kegiatan ini menjadi sumber inspirasi, membangunkan semakin banyak seniman yang menyumbangkan karya pena di panggung kreativitas. Terima kasih, @cerpen_sastra.

