Pam menutup buku Jejak Langkah, lalu melangkahi pintu, setelah menyandarkan pemaknaan dalam hanya tempurungnya. Kemudian ia meludah, sementara mentari sudah menggantung di hamparan pemukiman padat penduduk. Waktu baginya seperti satu kedipan, terbayang olehnya masa remaja yang dirindukan. Tentang semua orang tercintanya. Kemudian pikirannya melayang jauh … pada hari depannya.
***
“Sore nanti, kau jemput om di stasiun,” terdengar suara ayahnya merangsak pedalamannya. Seperti biasa, ia terlihat membaca koran. Ia selalu ingat itu.
“Om Sugali?”
“Betul, ia sedang dinas di kota sebelah, katanya mau mampir.”
Pam masuk kembali. Lalu dalam kesendirian, ia mempersiapkan dirinya untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa hukum di semester akhir. Pikirannya penuh dengan ambisi menjadi seorang advokat. Ia tentu sudah hafal kebobrokan yang mengakar di negara yang ia tinggali. Tentang benda mudah melar, yang disusun dalam buku tebal resmi.
***
Asap kretek yang berbau apel menyeruak udara. Tokoh kita berbincang dengan Empunya lapak kopi di trotoar, sementara, sekitar menampakkan kelelahan dari kesibukan masing-masing.
“Jaman edan, Mas! Orang sudah nggak ada peduli sama kami. Hilang nuraninya. Asal ada uang, semua pasti diakali.” Pria setengah baya yang tak diketahui namanya oleh Pam itu mencibir. Di obrolan jalanan, ia selalu mementingkan percakapan daripada sebuah nama.
“Iya, Pak … kalo udah keracunan kekuasaan, mungkin gitu ya?”
Entah percakapan dimulai dari mana, tapi yang pasti berakhir pada: “Gila ya, jangan sampai jadi seperti mereka, Mas …. Biarpun begini juga, penting nggak menyusahkan orang yang sudah susah.”
Sementara dari seberang, suara panjang terdengar. Orang lalu-lalang. Dan Pam menghunuskan kretek apelnya yang telah mencapai garis angka 76. Lalu menceburkan diri dalam arus bernama keramaian. Kereta komuter melandai di kalung besi yang kini sudah hampir sepenuhnya mengelilingi Pulau Jawa. Di peron, pintu rangkaian terbuka.
Sontak bermuntahan manusia. Sementara di sisi, orang menanti berganti peran. Dan mata tokoh kita langsung tertuju pada seorang berbadan tegap itu, yang berpakaian hitam bertopi, sementara ranselnya menggantung di punggung lebarnya. Tokoh kita melangkah, tapi belum sempat mulutnya memanggil, seorang berseragam lengkap memberi hormat. Kini kita tahu kalau Om dari tokoh kita membalas hormat itu.
Pam melambatkan langkahnya, mencoba tetap terasing di tengah keramaian yang melandai. Percakapan dua orang berbadan proporsional itu bagai sandi yang hanya mereka berdua pahami, “Pam! Sudah menunggu kau rupanya,” panggil sang Om setengah terkejut, walau kita tahu kalau ia belagak seolah begitu.
“Om Sugali … apa kabar?” sebagai bentuk keramahan, Pam memberi jabatnya.
“Selalu siap, kita mampir ke suatu tempat dulu ya?”
Itu bukan suatu pertanyaan, melainkan hanya pemberitahuan. Dan kini, ketiga manusia itu melaju … di atas mobil yang ketika belia sering dicurigainya sebagai penculik. Pam melongok ke jendela, lalu melambai berpamitan pada empunya toko kopi.
Tapi pria setengah baya itu malah menunjukkan wajah was-was setelah matanya menembus pedalaman bangku depan mobil itu. Mobil menuju ke tanah tak bertuan, berderet petak tak beraturan seperti di mana pun daerah pinggiran kota besar di negeri ini. Setelah jalan begitu hemat, dua orang berbadan proporsional itu turun, lalu menghilang entah ke mana.
Sejenak kemudian, mereka kembali. Om Sugali mengeluarkan beberapa lembar kertas merah dari amplop. Lalu memberikan ke pria berseragam di kemudi.
“Kalau mereka macam-macam, kau bikin perkara saja–”
Setelah itu, keempat mata mereka memantul di spion, tertangkap oleh Pam dari bangku belakang; ia jatuh dalam kecanggungan luar biasa.
***
Malam hari, Pam memasak makanan yang jauh berlimpah dari biasanya. Denting piring bergema di ruangan penuh sepi itu. Merasuk ke setiap lembaran yang tersusun rapi memenuhi rak dinding yang menjadi impian pembaca mana pun. Dan setelah keheningan panjang.
“Bagaimana Pam, jadi kau sarjana hukum?”
“Tentunya Om, bulan depan saya naik sidang.”
“Lalu mau ke mana kau?”
“Ehm ….” Pam tak berani untuk menjawab tidak tahu. Sebagai penenang, ia melanjutkan, “Tak jauh dari sini, mungkin, sebab hanya di sinilah kehidupan saya.”
“Ah, kau terlalu takut. Bukankah jika kau lulus artinya beasiswamu akan dicabut?”
“Mau tak mau harus menyambung hidup, Om…”
Dan sampailah pada pertanyaan ini:
“Di kantor Om, sedang butuh tenaga ahli hukum. Aku lihat perkembanganmu, pengetahuan dan pemahamanmu tentang hukum perdata. Mau kau? Besok saat balik, Om langsung urus datamu.”
Pam jatuh dalam kebimbangan yang menyiksa. Ia punya pandangan sendiri soal instansi sejak mempelajari buku-buku tebal yang selalu jadi landasan hukum. Kenyataannya, di negara ini, bukan suatu hal mudah untuk mendapat kerjaan, bila tak punya rekanan. Paham akan gelagat itu, Om Sugali yang berbaik hati itu berkata, “Tak apa jika kau perlu waktu, om paham memang tak mudah bagi prinsipmu. Kau pemuda, pikiranmu cemerlang. Tapi, ingat baik-baik! Tawaran seperti ini tak akan pernah kau terima dua kali; di kehidupan mana pun.”
***
Bagi Pam, tak ada hal yang lebih lucu dan memalukan selain kerja di kantor instansi. Tapi sudah satu tahun ini, Pam masuk dalam hal yang kemarin ia tertawai itu, setelah Om Sugali yang menurutnya iba melihatnya tak jelas arah itu.
Dan kau tahu? Pesan yang diucap sang Om pertama kali bukan bagaimana pekerjaan yang harus Pam lakukan, atau seperti apa baiknya bersikap di kantor ini. Melainkan, ia menatap Pam dengan serius, “Jangan pernah membuka map berwarna hitam itu!” Ucapannya menusuk pedalaman Pam. Pam mengangguk. Sebab anggapannya, lingkungan baru pasti selalu ada hal yang boleh-dan-tidak untuk dilakukan.
Satu tahun dalam ketabahan, ia selalu memakan pedalamannya, hatinya sudah habis; barangkali mati. Namun, seperti kebanyakan orang yang punya penasaran berlebih. Selalu menganggap larangan adalah perintah, setiap ia masuk ke ruangan Om Sugali, saat beberapa kali diperlukan di sana, pandangannya selalu melekat pada laci arsip itu. Tepatnya map larangan.
***
Suatu hari, teringat ia pada empunya kedai kopi waktu itu, Pam hanya tersenyum palsu. Sementara hatinya menangis. Seperti saat ia mengurus perkara untuk pertama kali.
Sudah lama, setiap kurun waktu tertentu mereka mengais upeti dari para penduduk yang begitu sederhana itu. Dengan dalih akan melegalisasi tanah mereka; tanah tak bertuan.
Tapi pembangunan, seperti barisan geometri yang terus melaju. Siapa pun yang tak ikut dalam arus, terpaksa tertinggal, pun yang melawan. Akan tunduk dalam kehanyutan belaka bagai daun jatuh. Pam membuat surat itu, perjanjian itu, memaksa jarinya untuk mengetik itu sampai jadi. Dan ditandatangani oleh para pemberi investasi, pengembang, serta kepala instansi.
Pita dilepas, jalan itu dibuka. Dan mereka? Tergilas!
Waktu itu Pam merasa hatinya hancur lebur. Sebab ia berurusan dengan orang yang selama ini di sekelilingnya. Perihal tanah mereka, yang menjadi perjuangan bagi ayah dan ibunya. Hingga…
Dering telepon di atas meja menggema. Dan hal itu memecah keramaian dalam tempurungnya.
“Selamat siang, dengan Pam di kantor … ada yang bisa saya bantu?”
“Pam, Om tidak bisa kembali ke kantor hari ini. Kau urus dulu ya kerjaan Om. Minta kunci pada wanita depan.”
***
Dan setelah bunyi beep. Segera, ia memenuhi perintah Om seperti biasa. Lalu diarahkan ke seorang pria berseragam, yang ia temui di waktu itu. Tampilannya tak jauh berbeda, hanya saja bintang lencananya kini bertambah. Dari tanda namanya terbaca: ‘Umar Bakri’.
Memasuki ruangan, mata Pam langsung tertuju pada benda itu. Tapi ia mencoba biasa, sebab pria berseragam itu hanya diam di pinggir pintu setelah menutupnya, dan menarik setiap kain jendela tanpa celah. Ia tahu, Umar Bakri diutus untuk menjaga map haram itu supaya tetap terkunci di sana. Tapi ia sudah tahu cara main. Sehingga berdalih, membebankan sesuatu yang tak bisa di tolak, “Perintah dari Om Sugali,” dan sontak saja Umar Bakri menuju tempat untuk mengambil berkas yang sebenarnya hanya ada pada kata.
Suara yang entah dari mana masuk memenuhi tempurung Pam. Mengusik alam bawah sadarnya dengan beribu pertanyaan. Pam berdiri. Dengan keberanian yang ia buat-buat, lalu ia paksakan kakinya yang ragu. Menuju laci arsip!
Setelah beberapa kali melongok. Kini, map hitam larangan berada di tangannya. Matanya terbelalak. Nama ayahnya terpampang jelas pada lembar pertama map itu, lalu ibunya, dan beberapa nama para pejuang di tanah tak bertuan itu. Lengkap dengan perkaranya, seperti aturan perdata di instansi, setiap pekerjaan harus detail tanpa celah.
Ceklekkk… (Jelas kita tahu itu suara pistol dikokang)–
“Kau pikir aku bodoh!”
Saat-saat yang menentukan itu. Sebelum membalikkan badan, terlintas di benak Pam tentang barang yang tertanam di setiap bagian bawah meja pada gedung ini.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 9 November 2025.
Tentang Cerpenis
Rio Nalanda JuniorPenulis UMKM asal Wonogiri yang sedang mencari pengharapan di kota hujan. IG:@rrio_nalanda/@_12_1_0
Testimoni Rio Nalanda Junior
Sebagai Penulis UMKM (Untuk Menulis Kadang Males), saya tersanjung Cerpen “Matinya Seorang Cemerlang” bisa dimuat. Sudah baca?
Seorang pemuda yang tercebur dalam hal yang kemarin ia tertawai sendiri; oleh prinsipnya. Soal cerita, mungkin biar kalian yang berkomentar, tapi soal penamaan tokoh, saya pakai plesetan panggilan kepada seseorang: “Pam”, dan yang lain dari lagu Iwan Fals: “Sugali”, “Umar Bakri”.
Setiap nama katanya punya makna kan? Seperti itu pula yang saya sisipkan pada cerpen tersebut. Sadarkah kalian kalau setiap kalimat ini berawal huruf “S”, tapi apa pentingnya?

