Langit seperti melukis kesedihan sore itu. Awan menggumpal kelabu, menahan hujan yang belum turun, seolah ikut menahan tangis seseorang yang terlalu lelah untuk menangis.
***
Adisatya berdiri di tengah perempatan kota yang tidak ia kenali. Bukan karena ia baru pertama ke sana, tapi karena segalanya terasa asing, bahkan dirinya sendiri.
Ia telah berjalan seharian penuh, menyusuri jalanan tanpa nama, masuk ke gang-gang sempit, dan berbelok ke arah yang tidak ia rencanakan. Tidak ada aplikasi peta yang membimbing langkahnya hari itu. Baterai ponselnya mati sejak siang, dan ia pun terlalu lelah untuk peduli. Ia hanya berjalan, mengikuti sesuatu yang samar, entah suara atau mungkin rasa. Seseorang pernah bilang, jika kau berjalan tanpa arah dalam keadaan cukup hancur, dunia akan membawamu ke tempat yang perlu kau datangi. Hari itu, Adisatya memutuskan untuk percaya pada kalimat itu.
Tiga bulan lalu, ia meninggalkan semuanya. Rumah, pekerjaan, dan bahkan dirinya sendiri. Ia bilang pada siapa pun yang bertanya bahwa ia “mencari sesuatu”. Tapi ia tahu, ia sedang melarikan diri. Melarikan diri dari harapan orang lain. Dari ekspektasi. Dari tanggung jawab. Ia ingin menjadi bebas, tapi justru makin tersesat. Kota demi kota ia lewati, namun yang ditemuinya hanya bayangan yang kian menelan cahaya dalam dirinya.
Dan di sinilah ia sekarang, di dalam kota tanpa nama, membawa ransel kosong, dompet tipis, dan mata yang kehilangan binar. Kelaparan mulai menggigit. Perutnya sudah lama tak mendengar suara masakan hangat. Ia menyusuri satu blok kecil, berharap ada warung makan murah. Namun, semua tampak tertutup atau terlalu ramai untuk ia dekati. Ia tak ingin bertemu siapa-siapa. Tapi ia butuh makan. Ia melihat sebuah penjual koran tua duduk di bawah atap toko tutup.
“Bapak, tahu tempat makan murah di sekitar sini?” tanyanya.
Si penjual menatapnya, matanya tajam seperti sedang membaca isi kepala Adisatya. Penjual itu lalu menunjuk ke sebuah lorong sempit di sisi kiri jalan, tanpa mengucap sepatah kata pun. Lorong itu gelap, seperti tidak seharusnya dimasuki. Tapi Adisatya melangkah juga.
Di ujungnya, ia melihat cahaya keemasan dari papan nama kecil bertuliskan, “Warung Zemira”. Lampunya hangat, pintunya terbuka, dan aroma sup ayam menguar dari dalam. Ia masuk.
Tempat itu kecil, hanya ada tiga meja. Ia mengernyit heran, dindingnya dipenuhi foto-foto orang tersenyum, seperti para tamu yang pernah datang ke sana dan entah mengapa memutuskan untuk tersenyum saat difoto. Lalu saat matanya mengarah ke arah meja kasir, berdirilah seorang perempuan muda dengan rambut diikat asal, apron lusuh, dan mata jernih. Tapi yang paling mengganggu Adisatya adalah … senyumnya. Senyum itu seperti tahu sesuatu tentang dirinya.
“Kamu kelaparan,” kata perempuan itu, tanpa bertanya nama atau tujuan.
“Sangat,” jawab Adisatya.
Ia duduk dan beberapa menit kemudian, semangkuk sup ayam hangat diletakkan di depannya. Rasanya seperti pelukan. Atau mungkin lebih tepatnya, seperti napas pertama setelah tenggelam terlalu lama.
“Namamu siapa?” tanya perempuan itu.
“Adisatya.”
“Aku Zemira.”
Mereka saling menatap, seperti saling mengenali dalam cara yang tidak bisa dijelaskan. Hari itu Adisatya tidak punya uang untuk membayar. Ia sendiri terkejut saat membuka dompetnya ternyata tidak ada uang sepersen pun. Awalnya Adisatya merasa tidak enak dan menawarkan dirinya untuk membantu perempuan itu. Akan tetapi, Zemira hanya tersenyum, mengatakan bahwa ia tidak perlu membayar semangkuk sup ayam hangat yang telah ia makan.
“Tinggal saja di sini untuk malam ini,” kata Zemira. “Ada kamar kosong di belakang.”
“Aku nggak bisa terus bergantung ke orang asing.”
Zemira tertawa kecil. “Tapi bukankah hidup ini memang tentang saling menumpang? Kita semua cuma numpang hidup sebentar di dunia.”
Adisatya kehabisan alasan. Malam itu, ia tidur di kamar kecil berbau kayu dan lavender. Di luar, hujan turun akhirnya. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, ia tidur tanpa bermimpi buruk. Besoknya, Adisatya membantu membersihkan warung.
Hari-hari berikutnya, ia mulai ikut memasak, mencuci piring, bahkan menyapa pelanggan. Anehnya, pelanggan-pelanggan warung itu bukan orang biasa. Seorang pelukis yang kehilangan inspirasinya, gadis muda yang gagal ujian masuk kuliah, ayah yang baru saja bercerai, seorang penyair yang hampir bunuh diri. Mereka semua datang, makan, dan pergi dengan wajah lebih ringan.
“Apa tempat ini semacam tempat penyembuhan?” tanya Adisatya suatu malam.
Zemira mengangkat bahu. “Aku hanya menyediakan makanan hangat dan telinga yang mendengar.”
“Tapi kenapa mereka datang ke sini? Warung ini tersembunyi. Bahkan aku bisa datang ke sini aja rasanya aneh.”
Zemira menatapnya lama. “Kamu tahu, beberapa tempat nggak bisa ditemukan kecuali kita benar-benar tersesat.”
Adisatya diam. Kalimat itu terasa seperti tamparan lembut. Minggu berganti. Adisatya mulai merasakan sesuatu yang ia pikir telah mati. Rasa ingin tinggal.
Di hadapan dapur yang beraroma rempah dan meja makan yang penuh cerita, ia mulai merasa seperti manusia lagi. Ia masih belum tahu harus ke mana, tapi setidaknya ia tidak lagi berjalan sendirian. Zemira tidak pernah bertanya banyak tentang masa lalunya. Tapi di malam-malam tertentu, saat suara hujan menyelinap ke sela genting, mereka berbicara.
“Aku dulu kerja di firma desain besar. Proyekku dipakai buat bangun pusat perbelanjaan di ibu kota,” cerita Adisatya.
“Lalu?”
“Lalu aku muak. Aku kerja keras buat bangun sesuatu yang aku benci. Aku bikin ruang untuk orang belanja, bukan ruang untuk orang hidup.”
Zemira tidak menjawab. Ia hanya mendengarkan.
“Aku pengen bangun yang hidup. Tapi aku nggak tahu caranya.”
Zemira meletakkan tangan di cangkir tehnya. “Mungkin kamu nggak harus tahu caranya. Kamu hanya perlu memulainya.”
Suatu malam, warung tutup lebih cepat. Hujan turun deras dan listrik sempat padam. Dalam kegelapan yang lembut, hanya ditemani lilin dan gemerisik air, Adisatya bertanya, “Zemira, kenapa kamu membuka tempat ini di lorong sepi begini?”
Zemira menatap nyala lilin.
“Karena aku juga pernah tersesat. Saat itu, seseorang menyediakan tempat untukku beristirahat. Jadi, aku meneruskannya.”
“Maksudmu?”
Zemira tersenyum samar. “Warung ini bukan punyaku. Dulu, ada perempuan tua yang tinggal di sini. Aku datang saat aku sedang hancur. Dia memberiku makanan dan mendengarkan ceritaku, lalu suatu hari dia bilang, ‘Sekarang giliranmu.’ Lalu dia pergi. Dan aku meneruskan warung ini.”
Adisatya merasa tenggorokannya tercekat.
“Jadi ini seperti … rumah bagi yang tersesat?”
Zemira mengangguk. “Bagi siapa pun yang butuh tempat berhenti sebentar.”
Pagi itu, Adisatya menemukan secarik kertas di meja dapur. Zemira tak ada. Di kertas itu hanya ada tulisan, “Kalau kamu sudah tahu harus ke mana, jangan takut untuk pergi.“
Di sebelahnya ada kunci, dan foto mereka berdua. Di sebelahnya lagi ada foto Zemira tersenyum seperti yang biasa ia lihat. Adisatya mencari ke seluruh lorong, tapi tidak menemukannya. Warung itu tetap sama, tapi terasa hampa tanpa suaranya. Ia bertanya ke orang-orang di sekitar.
“Warung Zemira? Hah, sudah bertahun-tahun kosong itu.”
“Tahu nggak siapa yang terakhir tinggal di sana?” tanyanya pada salah seorang pria tua yang ia temui.
“Perempuan muda, katanya dulunya juga orang hilang. Tapi udah lama pergi.”
Adisatya menatap warung itu lama. Ia membuka pintunya. Dapur masih lengkap. Meja-meja masih bersih. Ia menyadari sesuatu. Kini giliran dirinya. Beberapa bulan kemudian, lorong itu kembali hidup. Warung yang dulu bernama Warung Zemira kini berganti nama menjadi “Ruang Pulang”. Tetap kecil, tetap hangat. Pelanggan-pelanggannya masih sama, orang-orang yang tersesat, yang butuh berhenti sebentar.
Adisatya memasak, mendengarkan, menulis catatan kecil yang ia selipkan di setiap meja. Di salah satu dinding, terpajang foto Zemira, dengan kutipan di bawahnya, “Beberapa tempat tidak bisa ditemukan kecuali kita benar-benar tersesat. Tapi jangan takut, karena yang tersesat bukan berarti hilang.”
Lalu suatu malam, ketika hujan kembali turun, seorang gadis muda masuk, rambutnya basah, matanya merah.
“Aku nggak tahu ini di mana,” katanya gugup. “Aku cuma jalan, terus … sampai sini.”
Adisatya tersenyum. Ia menyodorkan semangkuk sup hangat.
“Berarti kamu datang ke tempat yang tepat.”(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 17 Agustus 2025.
Tentang Cerpenis
Shabrina Amalia Islami
Ia gemar merangkai cerita pendek dari hal-hal sederhana di sekitarnya. Ia percaya, setiap perasaan punya caranya sendiri untuk diceritakan dan menulis adalah caranya berbicara paling jujur. IG: @potterheazd_
Testimoni Shabrina Amalia Islami
Setiap orang pernah tersesat, entah di jalanan kota, dalam pikirannya sendiri, atau di labirin hidup yang tak selalu memberi petunjuk arah. Dari kegelisahan itulah lahir cerpen “Lorong yang Tak Ada di Peta.”
Cerpen ini bukan sekadar kisah tentang seorang pengembara bernama Adisatya, tapi juga perjalanan batin tentang kehilangan, pencarian, dan pertemuan dengan hal-hal sederhana yang ternyata menyelamatkan. Saya menulisnya dengan harapan bahwa siapa pun yang merasa hampa, lelah, atau tidak tahu harus ke mana, bisa menemukan secercah hangat dari sebuah “warung” kecil dalam hidupnya, entah berupa tempat, orang, atau sekadar momen singkat yang membuatnya berhenti dan bernapas kembali.
Menang dalam sayembara ini bagi saya bukan sekadar penghargaan, melainkan juga pengingat bahwa setiap tulisan punya lorongnya sendiri untuk sampai ke hati pembaca. Terima kasih kepada Cerpen Sastra yang telah memberi ruang bagi cerita-cerita tersesat untuk menemukan rumahnya. Semoga, lewat kisah ini, kita sama-sama diingatkan bahwa meski peta kadang kosong, selalu ada jalan pulang yang bisa ditemukan.

