Site icon cerpensastragrup

Legenda (Asli) Timun Mas (Cerpen Fathiya Haya Shafa Kamila Setiadi)

Sumber ilustrasi: manmythmagic via tribunnews.com.

Kapan kalian mengetahui cerita Timun Mas untuk pertama kali? Di bangku sekolah dasar? Atau bahkan lebih awal dari itu? Bagaimana versi cerita yang disusupkan ke ingatan kalian? Versi mana pun yang kalian dengar, aku percaya diri untuk mengatakan bahwa yang kalian ketahui itu palsu, saduran, hasil rekayasa orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
…

Apa, sih? Itu ‘kan cuma cerita karangan.

Wah, wah, isi kepala kalian terdengar sampai sini. Mau kuberi tahu satu rahasia? Cerita Timun Mas yang sering lalu-lalang di indra pendengaran kalian itu adalah kisah asli seorang kakek tua beratus tahun yang lalu, tahu.

Ngawur! Dipikir raksasa itu beneran ada?

Aduh, apa ini tanda-tanda egosentris? Kalian tidak tahu? Genetik setiap orang itu spesial dan unik. Ada serangkaian genetik yang memungkinkan seseorang untuk tumbuh lebih tinggi dan besar dari manusia pada umumnya. Terkait hormon, sudah tercatat di media kalau penyebab lain kehadiran manusia raksasa ini adalah meningkatnya kadar hormon pertumbuhan yang diproduksi di otak.

Pokoknya, tetap saja itu cuma karangan. Memang ada bayi muncul dari timun? Siapa pun yang percaya kalau cerita ini nyata benar-benar konyol.

Nah, justru di situlah bagian yang palsunya. Tahu, tidak, sudah berapa lama aku memendam kebenaran karena tidak ada satu pun yang mampu mendengarku? Paham bagaimana rasanya murka karena orang tersayang tersakiti tapi tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu? Bayangkan merasakan itu beratus tahun seperti aku.

Untunglah, suaraku akhirnya sampai pada orang yang mampu mendengarnya. Melalui orang itu, juga cerita ini, biarlah aku menguak apa yang selama ini terpendam, agar tidak ada lagi orang baik yang tersakiti.
***

Selama bertahun-tahun, aku tinggal bersama sepasang suami-istri yang terlihat … kurang normal di mata manusia pada umumnya. Sang suami bertubuh tinggi besar, hampir menyentuh empat kali lipat dari normalnya tubuh manusia. Sementara sang istri justru bertubuh sangat mungil, sekitar setengah kali lipat dari manusia biasanya. Tapi tidak masalah, ‘kan? Di mata orang yang mencintai kita, kita adalah sosok terindah baginya.

Aku sangat dekat dengan sang istri. Dia orang yang baik, lemah lembut, penyayang, siapa pun pasti akan senang bisa berada di dekatnya. Sayangnya, manusia kesayanganku ini meninggal di tahun pernikahannya yang keenam setelah melahirkan. Selain meninggalkanku, ia juga meninggalkan seorang lelaki tua bersama seorang bayi mungil yang cantik.

Lelaki ini, meski bertubuh tinggi besar bak gangster, sebenarnya hatinya lebih lembut dari bantal yang kalian pakai setiap tidur. Selama ini, ia selalu memperlakukan istrinya (dan aku) dengan penuh perhatian dan kasih sayang, maka begitulah caranya memperlakukan buah hatinya.

Tapi lama-kelamaan, ketakutan menyusup ke hatinya. Bayi ini sangat kecil dan rapuh. Ia takut kalau ia tidak bisa menjaganya dengan benar. Lagi pula, ia sering mendengar bahwa tumbuh kembang bayi memerlukan kehadiran seorang ibu. Akhirnya ia memutuskan untuk menitipkan si kecil ke seorang janda yang tinggal di kampung dengan jarak beberapa kilometer dari tempat tinggalnya. Dari mana ia mengenal janda ini? Dari beberapa penduduk yang kebetulan melintas di depan rumah tuanya. Mereka bilang, ada seorang janda yang tinggal seorang diri dan sangat ingin memiliki anak sampai mereka sering melihatnya berdoa sangat lama.

Ke rumah itulah ia mengirim seekor merpati untuk menyampaikan pesan.

Esoknya, ia menunggu di dekat pohon besar di hutan yang memisahkan kampung dengan tempat tinggalnya. Tak butuh waktu lama sampai seorang wanita tua datang dan menjerit melihatnya. Inilah yang membuatnya mengasingkan diri dari kampung penduduk. Kebanyakan orang ketakutan melihat tubuh tinggi besarnya ini.

“Tenang dulu! Aku yang mengirimkan pesan untukmu.”

Wanita tua itu menatap skeptis.
“Kau yang mau menitipkan bayi? Bayi siapa?”

Sang lelaki tua tersenyum.
“Bayiku. Istriku meninggal saat melahirkannya, aku takut dia tumbuh tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu. Sesuai perjanjian yang kutawarkan di surat itu, kau bisa merawatnya hingga ia remaja, nanti aku akan datang kembali untuk membawanya pulang. Satu syaratku, saat dia sudah mengerti banyak hal, perkenalkan aku sebagai ayahnya.”

Wanita itu masih menatap sangsi.
“Kau tidak menculiknya, ‘kan?”

Meski dituduh begitu, lelaki tua tetap tersenyum sabar.
“Ini bayiku.”

Akhirnya wanita tua mengambil alih gendongan bayi dari lelaki tua. Ia mengernyit ketika menemukan banyak timun mas di dalam gendongan itu.

“Kenapa ada timun mas di sini?”

“Hanya itu yang ada di rumahku yang bisa kupakai sebagai ucapan terima kasih.”

Tanpa berucap apa-apa lagi, wanita tua segera berbalik dan berlari kembali ke rumahnya sambil memeluk bayi yang selama ini ia dambakan kehadirannya. Lelaki tua itu juga kembali ke rumahnya yang jauh dari mana-mana. Sendirian. Dan akan tetap begitu untuk beberapa tahun ke depan.

Dengan sabar, ia menanti dan menanti sampai akhirnya hari di mana perjanjian itu selesai tiba. Ia bersemangat untuk kembali memeluk putri kecilnya yang sekarang mungkin sudah tidak kecil lagi. Tapi betapa kecewanya ia ketika melihat putrinya justru menjerit ketakutan.

“Ibu! Ada raksasa! Apa ia yang akan memakanku?”

Wanita tua tergopoh-gopoh berlari ke luar rumah untuk menemukan putri(titipan)nya berteriak-teriak menunjuk seorang lelaki tua yang kini tengah menatap kecewa ke arahnya.

“Cerita apa yang kamu karang untuknya?” Lelaki tua bertanya sedih.

Dengan panik, wanita tua itu memeluk sang putri.
“Kau tidak bisa memakannya!”

“Aku tidak mungkin melakukannya!” sergah lelaki tua.

Ia berlari ke dalam rumah untuk mengambil sebuah tas kain dan memberikannya pada putrinya.
“Larilah, Nak, sampai ia tidak bisa mengejarmu lagi. Ingatlah pesan Ibu tentang barang di tas kain itu.”

Sang putri mengangguk sebelum segera mengambil langkah seribu dengan tergesa dan ketakutan. Meski ia murka pada wanita tua, lelaki tua memilih untuk menyusul sang putri lebih dulu karena khawatir. Di perjalanan, tiba-tiba putrinya melempar bubuk cabai dari dalam tas kain ke arahnya sehingga matanya perih dan sulit melihat dengan jelas. Akibatnya ia menginjak sana-sini, juga terlilit akar begitu-begini ketika mereka melintasi ladang timun. Untunglah ia berhasil membebaskan diri.

“Nak, berhenti! Di sana berbahaya!”

Mereka tiba di ladang bambu. Lelaki tua yang khawatir putrinya terluka oleh duri-duri bambu mencoba menghentikannya, tapi tentu saja tidak didengar. Tak lama, benar saja, beberapa duri menyayat kulit putrinya.

Ia yang segera mendekat untuk menolong, justru dilempari oleh barang lain dari dalam tas kain itu, sekotak jarum berukuran besar sehingga meninggalkan luka di beberapa bagian tubuhnya, termasuk menusuk kakinya cukup dalam hingga ia cukup kesulitan untuk melanjutkan perjalanan. Tapi kekhawatirannya lebih besar. Jadi ia tetap mengikuti langkah sang putri.

Kali ini mereka sampai di pinggir sungai. Melihat putrinya panik dan bingung bagaimana cara ia bisa menyebrang, raksasa itu menyiapkan rakit dengan cepat dan menawari putrinya untuk ikut naik. Putrinya ketakutan setengah mati, tapi tetap menaiki rakit itu. Di tengah sungai, tiba-tiba saja sang putri mendorong lelaki tua sampai terjatuh dari rakit dan memakai rakitnya sendirian sampai ia selamat sampai sebrang.

Lelaki tua itu berteriak meminta pertolongan. Aliran sungai yang sedang deras-derasnya membuatnya sulit berenang. Ia melihat putrinya berlari meninggalkannya. Betapa sakit hatinya saat itu. Tapi apa yang mulutnya suarakan dengan lirih di saat-saat terakhirnya?

Semoga kau selalu hidup bahagia dengan ibumu, putriku.
***

Sudah mengerti sekarang? Cerita yang kalian dengar itu tidak selamanya benar. Apalagi cerita dari mulut ke mulut yang seringkali diinterpretasikan sesuai keyakinan masing-masing pencerita.

Orang yang selama ini kalian kasihani, justru orang yang sudah dengan tega mengubah sosok ayah baik hati menjadi seorang raksasa jahat, juga dengan tega melanggar janji pada seorang lelaki tua. Sementara orang yang selama ini kalian hina justru orang baik yang hanya memikirkan keselamatan putrinya.

Jadi berhentilah berburuk sangka pada orang sebelum kalian mengetahui kebenarannya. Apalagi membicarakannya tanpa mengonfirmasi sehingga kesalahpahaman semakin merajalela. Jangan menilai orang dari tampilannya saja karena isi hati setiap manusia itu sulit ditebak.

Oh, omong-omong, kalian bingung, ya, kenapa aku bisa tahu cerita ini? Siapa aku? Kenalkan, aku adalah selendang kesayangan istri dari lelaki tua yang sedang kalian baca kisahnya ini. Beratus tahun, aku sudah berpindah ke berbagai posisi.

Sebagai selendang di leher, sebagai baju di badan, sebagai celana, sebagai selimut, sebagai tirai, apa pun itu, aku selalu kembali diolah dan dijadikan barang baru. Hingga akhirnya aku sampai ke tangan orang ini, orang yang mampu mendengarku dan menyampaikan kisah ini pada kalian. Berterimakasihlah, setidaknya satu kebohongan di hidup kalian menemukan kebenaran.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 13 Oktober 2024.

Tentang Cerpenis
Fathiya Haya Shafa Kamila Setiadi
IG: @amarosyne

Testimoni Fathiya Haya Shafa Kamila Setiadi

Setelah berbagai judul yang saya kirimkan, akhirnya ada karya saya yang menemukan rumahnya di sini. Rasanya kaget, skeptis, lalu kaget lagi sampai mulut sulit tertutup. Terima kasih kepada Cerpen Sastra karena telah membuat impian seorang penulis amatir ini menjadi sedikit lebih dekat ke kenyataan.

Cerpen ini baru dibuat Sabtu pagi, diketik berkejaran dengan waktu karena isi kepala saya bersikukuh ingin mengirimkan undangan untuk masuk ke ruang imajinatifnya dan berharap undangan itu tersebar luas. Proses penuangan ide menjadi aksara, riset isi, pengeditan, semuanya dilakukan terburu-buru. Untunglah, tidak ada yang sia-sia. Kini, bisa saya ucapkan kepada siapa pun yang membaca tulisan ini, selamat datang di ruang imajinatif tanpa batas milik seseorang yang bermimpi menjadi penulis.

Exit mobile version