Gumpalan awan tipis perlahan menutupi bulan, membawa serta hembusan angin dingin, tanda akan hujan. Menjelang tengah malam, di dalam mobil, Jhon mendapat kabar kalau ketua geng mafia narkoba yang sedang ia cari lagi berada di sebuah bar tak jauh dari mobilnya terparkir. Mendengarnya Jhon langsung panas, jiwanya terbakar semangat.
***
“Ayo kita tangkap bajingan-bajingan itu,” serunya kepada dua rekan polisinya. Rekan yang mengemudi dengan sigap menginjak gas, menuju ke tempat yang akan jadi penentu antara kebajikan atau kebiadaban yang akan menang.
***
Jalan sekitar bar tampak sepi. Berdiri dua gedung besar di sisinya, membuat bar itu tampak kecil. Lampu jalan di dekat bar menyala dengan ragu. Mobil Jhon berhenti di seberang bar. Memastikan kembali keberadaan gangster itu kepada teman intel yang masuk ke geng, dan dia bilang aman, geng itu masih di bar. Segera Jhon dan dua rekannya keluar dari mobil, menyimpan pistol di balik bajunya. Matanya tegas menatap bar, kepala menyusun cara penyergapan. Pintu dibuka langsung disambut alunan musik jazz lembut.
Aroma wine menyentuh hidung Jhon dan kedua rekannya. Dipadu lampu bar yang tak terlalu terang, suasana menjadi terasa hangat dan memeluk. Tak mau terlena, Jhon langsung memicingkan matanya, mencari Baros sang bos gangster.
Bar itu tak terlalu besar. Sebuah meja panjang bartender berdiri kokoh di sudut. Di ujungnya ada vas berisi mawar yang membuat meja tak terlihat suram. Meja-meja kecil dengan sepasang kursi terpencar mengisi bar. Bartender bercengkrama santun pada seorang pengunjung. Seorang pelayan wanita melayani sepasang kekasih yang sedang kencan. Malam yang indah, bagi beberapa orang.
Di ujung meja bartender duduk seorang pria berbadan besar mengenakan jaket kulit hitam. Dari punggungnya, Jhon tahu, itu si Baros orang yang ia cari. Perlahan ia mendekat. Ekspresinya tampak awas. Saat sudah semakin dekat, Baros langsung berbalik seolah tahu itu si Jhon, polisi yang selalu mengejarnya. Baros mengeluarkan pistol hitamnya. Jhon tak kalah cepat, seketika pistol silvernya sudah menodong Baros juga. Tak lama delapan orang berdiri, mengeluarkan pistolnya dan menodong Jhon.
Kedua teman polisi Jhon juga langsung mengeluarkan pistol mereka.
“Kau kalah jumlah, Jhon,” goda Baros yang melihat orangnya menang jumlah.
“Oh, apakah itu benar?” seketika tiga orang dari Baros beralih menodong rekan gangsternya. Mereka, intel milik Jhon.
“Sekarang kita seimbang, enam lawan enam.”
***
Detak jam bergema berat. Bar terasa hampa. Pengunjung pasangan saling berpegang erat, wajah mereka ketakutan. Alex, si bartender, berkeringat dingin. Badannya kaku, mematung, enggan bergerak. Miya, si pelayan wanita, kehilangan keramahannya. Ia terjatuh, menumpahkan segelas air, bola matanya bergetar menatap banyaknya pistol yang mengancam.
Jhon menatap serius pada Baros, Baros membalas tatapannya, seolah menantang mata intimidatif itu. Beberapa detik berlalu. Jhon menyadari sesuatu. Ia rasa ada yang tidak beres dari anak buahnya.
“Kenapa, apa kau merasakan ada yang tidak beres dari anak buahmu?” tanya Baros seolah mampu membaca pikiran Jhon. Jhon hanya diam.
“Erik,” panggil Baros. Jhon kenal nama itu. Erik adalah satu di antara nama intel Jhon yang berada di bar.
“Jika kau ingin keluargamu selamat, sekaranglah saatnya.”
Jhon kaget mendengarnya. Seketika Erik mengeluarkan dua pistol, mengarahkan pada teman polisinya. Wajahnya gugup berat.
“Oh, bermain ancaman, ya,” goda Jhon pada Baros.
“Hah,” Baros meremehkan. “Sekarang tujuh lawan lima. Sayang sekali Jhon, kami menang jumlah.”
Di luar dugaan, Jhon punya rencana lain.
“Dom,” panggil Jhon. Seketika anak buah Baros memindahkan pistolnya, menodong rekan gangsternya.
“Bob, kau?” teriak Baros, tak percaya.
“Mereka menangkap adikku saat mengedarkan narkoba, Baros. Ia akan bebas, kalau aku bantu menangkap kau.” Ternyata Bob yang memberi tahu Jhon keberadaan Baros di bar. Dan Erik yang memberi tahu Baros kalau Jhon akan datang ke bar. Jhon dan Baros kembali saling menatap. Seakan bisa saling membaca pikiran, mencari rencana licik di dalamnya.
Dari luar jendela, kilatan putih berkedip beberapa kali, tanda hujan akan datang. Di dalam bar dua sosok ini masih berusaha saling menjatuhkan, seolah mereka yang memegang kendali takdir.
***
Dua menit berlalu dengan keheningan kembali. Di luar, angin berhembus seolah menonton aksi ini. Tak ada yang berkata, bahkan yang tak memegang senjata tak berani berbicara. Padahal, bisa saja ketegangan ini selesai, jika ada yang mau mengalah. Sayangnya itu tak mungkin. Semua tak saling percaya, punya dugaan masing-masing, berasumsi buruk satu sama lain, punya kesombongan sekokoh Tembok Cina.
Baros menelan ludah. Jhon menangkapnya dan menggoda kalau Baros tampaknya haus. “Iya, aku haus.”
“Sayang sekali. Sepertinya akan menarik melihat kau mati kehausan daripada ditembak,” ejek Jhon.
“Oh, iya.” Balas Baros. “Saat detik-detik itu terjadi, aku akan mengamuk dan menembak semua yang tak
bersalah ini.” Menunjuk Miya yang masih kaku. “Saat itu terjadi, kau kalah.”
Jhon memperhitungkan kata-kata itu dan akhirnya mengizinkan Baros minum. Baros mengambil minuman dari meja di dekatnya. Meneguknya dengan tergesa, sambil terus menatap Jhon dan tak menurunkan pistolnya barang seinci pun.
“Balas budiku, aku ingin merokok.”
Baros mengangguk. Jhon menyalakan rokok sambil terus waspada. Setelahnya Jhon menawarkan rokok pada Baros, tapi Baros menolak.
“Aku curiga, rokok selain yang kau bakar adalah beracun.” Jhon hanya mengangguk. Melempar sisa bungkus rokok dan isinya. Membenarkan ucapan Baros kalau batang rokok lainnya memang beracun.
***
Tangan mereka semua mulai terasa lelah menahan pistol terus tegak. Di luar, hujan mulai turun. Pasangan pengunjung mulai bersuara untuk menyudahi ketegangan ini. Baros menolak. Jhon menenangkan kalau ia akan segera membasmi bajingan Baros ini. Selagi mereka berharap pada kekuatan Jhon dan polisi, mereka akan selamat dan aman.
Baros terkekeh mendengar ucapan Jhon.
“Apa, melindungi mereka?” goda Baros pada Jhon.
Jhon melirik.
“Kau hanya penjilat pujian, Jhon, bukan pahlawan!” Baros diam sejenak. “Itulah kenapa beberapa kali pertemuan kita, beberapa kali kesempatan kau membunuhku, kau tidak membunuhku juga. Itu semua demi pangkat dan pujian, bahwa kau, Jhon, polisi baik yang menangkap Baros si mafia kelas kakap!”
Genggaman Jhon mengeras. Urat lehernya mengencang.
“Apa? Jangan lupa, sudah banyak korban tak bersalah dari pengejaranmu ini, yang semua terjadi karena kau sembrono dan egois.”
Mata Jhon memerah. Darahnya mendidih. Ia berencana menekan pelatuk pistolnya, menyudahi omong kosong Baros.
“Setidaknya aku bukan penjahat narkoba yang membiarkan setiap anak kecanduan.” Balas Jhon.
Baros hanya diam. Lalu tersenyum tipis.
***
Hujan turun deras. Lampu bar berkedip gugup, seolah ikut terjebak dalam ketegangan. Todongan pistol tak kunjung turun. Tarikan nafas berat terdengar jelas. Yang tak memegang pistol menatap risau, melihat ketegangan ini seperti tak ada ujungnya. Alex akhirnya angkat bicara. Mencoba menawarkan solusi.
Jhon dan Baros menatap Alex dengan wajah berkeringat. Dengan keberanian seadanya Alex menawarkan dirinya sebagai penengah.
“Jadi, saya akan menjadi sandera Baros. Dengan syarat, semuanya menurunkan pistol terlebih dahulu.” Jhon dan Baros berpikir sejenak. Dan mereka sepakat. Kondisi ketegangan ini, yang seperti eratnya jaring laba-laba, sudah harus berakhir.
Alex menjelaskan: saat nanti pistol diturunkan, semua harus berbalik badan, dan ia akan langsung ikut Baros sebagai sandera. Setelah itu, Baros keluar lewat pintu belakang dan Jhon lewat pintu depan. Tapi Jhon protes, ia ingin setengah narkoba yang Baros bawa untuk dipegang olehnya sebagai barang bukti kepolisian. Baros tak menolak, dan Jhon sepakat membiarkan Baros membawa Alex sebagai sandera dengan syarat akan dibebaskan dalam waktu dekat. Semua sepakat. Sesuai instruksi, semua pistol diturunkan. Semua orang bernafas lega. Setengah narkoba diberikan pada polisi. Jhon dan anak buahnya berbalik badan, menuju pintu depan. Begitu juga Baros berbalik menuju pintu belakang, diikuti Alex. Hujan semakin deras. Namun hawa tegang samar menghilang.
Tak berselang kemudian, seekor kecoa—entah dari mana—mendekati Miya. Miya melihatnya terkejut, berteriak keras. Mengejutkan semua orang. Jhon yang kaget langsung berbalik, mengulurkan pistol. Baros melakukan hal serupa. Baku tembak terjadi. Desingan peluru lalu-lalang dengan cepat. Semua saling tembak. Asap mesiu membumbung di udara. Vas mawar di meja pecah. Botol wine mahal pecah satu per satu. Meja bolong-bolong.
Beberapa saat kemudian kondisi bar bak kapal pecah. Bercak darah menghias acak dinding dan lantai bar. Lampu pecah, menyisakan daya redup kesuraman. Semua mati dalam kiamat kecil itu. Tak ada yang selamat, bahkan dalam kiamat kecil itu, peluru tak memilih sasarannya. Si kecoa dan bunga mawar—yang tak tahu-menahu, harus mati di tengah ketegangan, keegoisan, dan kemunafikan manusia.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 7 Desember 2025.
Tentang Cerpenis
Ali Azhar SyihabuddinMahasiswa sejarah peradaban Islam dari UIN SGD BDG. Menulis selalu menjadi kegiatan yang menyenangkan dan menenangkan. IG: @aliazharr14
Testimoni Ali Azhar Syihabuddin
Syukur alhamdulillah, cerpen saya bisa lolos. Cerpen ini saya buat saat merenung di kosan, terinspirasi dari buku yang baru saya tamatkan: Siapa yang Mengangkangi Dunia karya Noam Chomsky. Buku itu sangat detail akan fakta kontemporer yang menyinggung konflik dunia, salah satunya ‘mimpi buruk’ perang nuklir.
Pistol yang saling todong di cerpen adalah nuklir yang saling todong, Jhon dan Baros aktor negara yang paling panas, sedangkan rekan mereka adalah sosok negara plin-plan yang cari aman—kadang harus bermuka dua. Para pengunjung dan pelayan serta bartender adalah negara ketiga yang tidak terlibat arus utama, tetapi ikut terancam. Mawar dan Kecoa adalah flora-fauna yang suaranya tidak ada dalam perdebatan apa pun, namun ikut terancam juga.
Memanasnya ketegangan bahkan bisa memicu konflik besar lewat alasan nyeleneh sekalipun. Faktanya bar itu adalah representasi dunia yang kita tinggali lewat kacamata Chomsky. Saya merasa perlu berbagi dan menyederhanakannya lewat cerpen. Sekian, selamat menikmati.

