Site icon cerpensastragrup

Karma Kutu Beras (Cerpen Sri Nur Aminah)

Sumber Ilustrasi: Shutterstock/Cherdchai Chaivimol.

Murni adalah yatim piatu yang menjual beras di pasar Kampung Duri. Paras manis dan perilaku santunnya membuat kios berasnya selalu ramai pengunjung. Murni melayani pembelinya secara profesional dan cepat merespon keluhan pelanggan. Beras jualannya tertata rapi dan memberikan kesan segar sehingga bebas dari ancaman serangga perusak beras. Penampilan Murni yang rapi dan bersih membuat pelanggan nyaman berbelanja di kiosnya. Mak Onah yang berjualan beras tepat di samping kios Murni merasa frustrasi melihat banyaknya orang berbelanja di tempat itu. Walaupun luasnya sama, kios Mak Onah terkesan jorok dan kurang terurus. Di lantainya banyak bekas tumpahan kopi. Beras jualannya kurang bagus mutunya karena Mak Onah menyimpan wadah beras bersebelahan dengan jagung pakan ayam yang rawan terserang kutu. Harga mahal dan cara pelayanannya yang terkesan kasar membuat pelanggan lebih memilih berbelanja di kios Murni.
…

Seperti biasa, di pagi hari Mak Onah telah duduk di depan kiosnya sambil menikmati segelas kopi hitam. Di dekat kopi terdapat beberapa potong jajanan pasar. Sambil nginang, muka nyinyir Mak Onah memperhatikan situasi pasar dan antrian membeli beras di kios Murni.

“Mau ke mana Mak Salam, tampaknya kau sibuk sekali,” sapa Mak Onah pada perempuan memakai mukenah panjang yang berjalan terburu-buru.

“Saya mau membeli beras ketan untuk membuat songkolo1. Anakku selamatan rumah baru.”
“Beli di sini saja. Aku punya banyak stok beras ketan kualitas super.”

“Maaf Mak Onah, sejak kemarin saya sudah pesan beras ketan di kios Murni. Permisi,” perempuan itu meninggalkan Mak Onah. Jawaban Mak Salam bagaikan palu yang menghantam jantung Mak Onah. Dia meludah ke lantai menumpahkan rasa kesalnya.

“Hei Ahmad, apa yang kau bawa di tanganmu itu?”
“Aku membawa ikan pallu ce’la2 dan racca mangga3 kiriman Mamakku.” “Alangkah beruntungnya orang yang menerima masakan Mamakmu. Untuk siapa masakan itu?” terbit air liur Mak Onah membayangkan lezatnya ikan pallu ce’la dicelup ke dalam racca mangga dan dimakan bersama nasi hangat.

“Ini untuk Kak Murni. Maaf Mak, aku terburu-buru.”
Mendengar nama Murni, tanpa sadar Mak Onah membanting jajanan pasar yang akan dimakannya. Matanya melotot penuh kebencian. Lelaki muda itu mengambil langkah seribu melihat reaksi Mak Onah.

Matahari sudah tinggi, kios Mak Onah belum kedatangan seorang pembeli sejak beberapa hari yang lalu. Matanya menyapu sekelilingnya, nyaris semua penjual ramai bertransaksi, termasuk Indo’ Salma yang berjualan di emperan memakai terpal usang. Perempuan tua itu pernah dicelanya karena menjual cabai, tomat, terasi, dan bawang dalam kemasan seadanya. Saat ini Indo’ Salma sibuk melayani pembelinya yang memborong bawang merah.

Kembali dilihatnya kios Murni, tampak perempuan itu sedang melayani pembelinya yang mengular. Mak Onah mendengus kesal. Tidak seorang pun melirik apalagi tergerak hatinya untuk belanja di kios miliknya. Beras yang belum laku sudah menumpuk tinggi nyaris mencapai plafon. Sangat ironis dengan kios Murni yang hampir kosong karena barangnya laku terjual. Dengan gemas dihirupnya kopi yang telah dingin. Mak Onah meludahkan kopi yang menurutnya sudah terasa hambar. Kepalanya penuh aroma kebencian saat melihat Murni dan kiosnya.

Sore harinya Mak Onah mendatangi kios Murni. Saat itu sang pemilik kios sedang menghitung laba harian. Mata Mak Onah membelalak melihat tumpukan uang merah dan biru dalam laci Murni. Tanpa mengucap salam, perempuan paruh baya itu menerobos ke dalam kios. Murni mengangkat wajahnya saat mendengar langkah seseorang.

“Wah … ada Mak Onah rupanya. Silahkan duduk Mak.”
“Murni, kita sama-sama perempuan yang butuh makan. Kau harus pindah dari pasar ini.”
“Saya pindah? Apa maksudnya Mak Onah?”
“Kau telah mengambil semua pelangganku.”

Murni mengernyitkan alisnya, bingung mendengar kalimat perempuan ini.

“Saya tidak pernah mengambil pelanggan siapa pun Mak Onah.”
“Jangan pura-pura bodoh, mereka semua pindah berbelanja ke kiosmu karena kau pakai jampi-jampi pelaris daganganmu.”
“Astaghfirullah, saya tidak pernah memakai pelaris dagangan.”
“Kau bohong, kau telah merusak mata pencaharianku,”

Mak Onah menunjuk wajah Murni memakai jari keriputnya, kukunya kotor sangat menjijikkan.

“Kuingatkan kau untuk segera angkat kaki. Aku tidak mau lagi melihat wajah munafikmu,” Mak Onah berjalan puas keluar dari kios. Murni duduk termenung. Dia masih shock dengan insiden barusan. Batinnya terus bertanya di mana letak kesalahannya pada Mak Onah.

Di luar dugaannya, Murni tetap berjualan. Sore harinya Mak Onah kembali mendatangi Murni dan memaksanya segera pindah. Setiap hari Murni diteror Mak Onah supaya cepat pindah namun ditolak dengan tegas. Puncaknya terjadi hari Rabu siang saat banyak pembeli. Mak Onah menerobos masuk dan berteriak di tengah kios Murni.

“Jangan belanja di sini, jualannya berkutu. Dia juga pakai jampi-jampi untuk menarik pelanggan berbelanja.”
“Astaghfirullah Mak Onah, jangan menyebar fitnah,” jawab seorang pengunjung yang berada di dekat perempuan itu.
“Kami belanja di sini karena pelayanannya sangat ramah dan kiosnya bersih.”

“Bersih apanya, kiosku lebih bagus daripada tempat sampah ini,” Mak Onah meludahkan hasil nginangnya di atas beras jualan sehingga berwarna merah. Orang-orang tertegun. Penghargaan masyarakat Kampung Duri sungguh luar biasa terhadap beras. Sebuah pamali jika seseorang makan dan meninggalkan sisa nasi di dalam piringnya. Mak Onah bagaikan kerasukan setan karena berani meludah di atas beras jualan. Murni gemetar ketakutan melihat ulah Mak Onah.

“Lihat apa yang kubawa. Ini adalah beras yang kemarin kubeli dari sini. Kalian lihat bagaimana perlakuannya padaku,” Mak Onah menuang beras dalam kantongan itu di hadapan orang banyak. Bau apek merebak, ratusan ekor kutu beras berwarna hitam berhamburan keluar dari gumpalan beras rusak.

“Dia membenciku sehingga memberikan beras seperti ini. Kembalikan uangku yang telah kau ambil Murni!”

“Mak Onah bohong, dia tidak pernah membeli beras dari kiosku. Aku tidak pernah menjual beras rusak kepada siapa pun.”

“Murni adalah penipu,” tiba-tiba terdengar suara cempreng seseorang dari belakang Mak Onah.
“Dia juga memberikan beras berkutu kepadaku,” perempuan bernama Kace menuangkan sekantong beras rusak di hadapan pelanggan kios Murni.
“Dia juga sudah menipuku saat membeli beras ketan,” sambung Nirma yang ikut menumpahkan beras berkutu di hadapan orang-orang itu. Mak Onah dan sekongkolannya sangat senang melihat Murni terpojok.

“Jika kalian tidak percaya, beras itu akan berkutu saat tiba di rumah karena jampi-jampinya musnah saat keluar dari kios ini. Aku sudah mengalami hal itu,” Mak Onah tertawa terkekeh dan diiyakan oleh sekongkolannya. Orang-orang mulai terpengaruh dan memeriksa ulang belanjaannya masing-masing.

“Aku batal beli beras ini. Kembalikan uangku Murni,” kata seorang ibu bertubuh tambun.
“Sungguh licik kau Murni. Teganya kau menipu Mak Onah tetangga kiosmu. Aku juga batal membeli. Mana uangku, kembalikan semuanya.” Toko itu berubah hiruk-pikuk karena sebagian besar pembeli membatalkan transaksi. Mak Onah, Nirma, dan Kace meninggalkan kios dan tertawa keras melihat Murni dikeroyok pembelinya.

Keesokan harinya Murni tidak berjualan. Esok dan esoknya lagi, kios itu tetap tertutup rapat. Mak Onah bernafas lega karena saingannya sudah hilang. Dia mengambil ember besar bertutup yang penuh kutu beras dan tertawa keras melihatnya. Beberapa hari kemudian, terjadilah sesuatu yang tidak pernah diduga oleh Mak Onah. Dua orang perempuan pengangguran yang telah disuruhnya melakukan kebohongan, mendatangi Murni di rumahnya. Nirma dan Kace mengakui perbuatan jahatnya karena dijanjikan sejumlah uang oleh Mak Onah.

Mak Onah selalu ingkar membayar walaupun telah ditagih berkali-kali. Murni segera ke kantor polisi bersama dua perempuan itu dan melaporkan tindakan tidak menyenangkan yang telah dilakukan oleh Mak Onah. Murni dan dua orang polisi mendatangi Mak Onah di kiosnya. Perempuan itu berkelit dan mengatakan Murni penyebar fitnah. Namun mulut Mak Onah bungkam saat melihat polisi juga membawa Nirma dan Kace menjadi saksi kejahatan yang dilakukannya.

Orang sepasar berkerumun menonton kericuhan yang terjadi. Mereka saling berbisik saat menahu Mak Onah telah menyebarkan fitnah di kios Murni. Mak Onah berlari keluar dari pasar menghindari polisi, namun dia tidak sadar sebuah mobil berwarna hitam tiba-tiba muncul di tikungan. Mak Onah terlempar ke aspal dan tidak bergerak lagi. Pengemudi mobil melarikan diri meninggalkan korban. Luka di kepala, hidung, dan telinga Mak Onah mengalirkan darah segar. Murni dan rombongan dari pasar terdiam melihat jasad itu.

Fitnah untuk orang tidak bersalah dibayar tunai dengan cara mengerikan. (*)

  1. Makanan khas Makassar terbuat dari beras ketan dikukus, ditaburi kelapa parut, dimakan dengan ikan asin dan sambal terasi. ↩︎
  2. Ikan laut yang dimasak dengan kunyit bubuk, ditambah garam, gula, dan sedikit penyedap. ↩︎
  3. Mangga muda yang dicacah, diberi garam, cabai rawit, dan daun kemangi. ↩︎

Tanggal tayang:
Minggu, 17 September 2023

Cerpenis

Sri Nur Aminah 
Pemenang Gold Winner Identitas Award untuk kategori Penulis Buku Terproduktif (2022). Juara III Nasional Lomba Menulis Buku Ilmiah PT. Brilian Internasional Surabaya (2020). Penulis ketiga terbaik dalam Antologi Cerpen Hari Kartini: Aku Si Mawar (Defamedia Publisher, 2023). Juara II Sayembara Cerpen Pulpen VI. Silakan berkunjung ke IG: @srifirnas dan https://aminahsrilink.com/

Testimoni Sri Nur Aminah
Selasa, 19 September 2023

Terima kasih @cerpen_sastra, telah memilih Karma Kutu Beras sebagai pemenang Cerpen Minggu. @cerpen_sastra menunjukkan jati dirinya sebagai wadah online menyalurkan kreativitas dan rangkaian keindahan kata di dalamnya. Saya mampu menulis dan menghasilkan karya terbaik merupakan hasil nyata belajar dari Sensei multitalenta, Prof. Imam Robandi, founder of IRo Society dan Ketua Dewan Guru Besar ITS. Beliau selalu memberikan semangat kepada santrinya menorehkan karya fenomenal yang dibaca oleh masyarakat di mana pun berada.

Semoga @cerpen_sastra terus eksis dan menjadi kawah candradimuka penulis menghasilkan karya. Tidak perlu lama, karya ketahuan ending–nya seminggu. Saya salut dan mengapresiasi Juri. Ini sangat singkat dan nyata. Sekali lagi terima kasih untuk @cerpen_sastra dan Pak Y. Edward Horas S., founder Pulpen dan @cerpen_sastra. God bless you.

Exit mobile version