Site icon cerpensastragrup

Jeritan Hati Seorang Anak (Cerpen Mutiara Zaina Fajriyah)

Sumber ilustrasi: Pixabay.

Sudah 2 tahun aku menganggur dan belum mendapatkan pekerjaan. Selama 2 tahun ini, aku hanya mengurus rumah, sesekali aku ikut Ibu berdagang. Ibu memiliki usaha kuliner yang tak jauh dari rumah. Selama 2 tahun itu kerjaanku tak jauh dari mengurus rumah, membantu Ibu berdagang, dan tentunya mencari loker pekerjaan. Lelah? Tentu. Tapi aku sudah terbiasa melakukan hal itu. Jika ingin mengeluh capek, tentu saja aku capek. Tapi lebih capek lagi tidak punya uang.
…

Aku sudah mengirim beberapa lamaran ke perusahaan, tapi belum ada satu pun panggilan yang nyantol padaku. Kadang kala aku bertanya-tanya, mengapa mencari pekerjaan di Indonesia sangat sulit. Rasanya aku hampir gila setiap kali melihat kualifikasi calon pelamar. Pasti patokannya selalu di pengalaman, atau tidak batas umur. Padahal aku mencari kerja juga untuk pengalaman.

Aku menghempaskan bokong pada kursi teras sambil menghela napas, memikirkan bagaimana nasibku ke depannya, sementara aku belum mendapatkan panggilan sama sekali.

“Kak, kamu nggak masak? Kok di meja gak ada apa-apa. Aku laper nih.” Adikku, Reza, mengeluh sembari mengusap perutnya. Aku meliriknya sejenak.

“Ada nasi. Kakak udah masak nasi. Terserah kamu mau makan apa, kakak lagi males masak.”

Raut wajah Reza langsung merengut seketika.
“Yah, masa aku sih yang masak. Kan tugas masak, Kakak.”

Aku langsung menatap Reza dengan sorot mata tajam.
“Za, kakak lagi selonjoran habis beberes rumah. Lagian kamu, ‘kan, bisa masak telor, ada nugget sama sosis di dapur, atau bikin apa, kek. Kakak lagi pusing, gak usah ngerengek lah!” sentakku. Reza kemudian bungkam lalu masuk ke dalam rumah sambil bergumam. Aku tahu dia tengah kesal. Tapi aku lebih kesal karena dia terus merengek seperti anak kecil.

Reza adalah anak bungsu di keluarga ini. Dia anak yang paling disayang oleh orang tua kami. Walaupun umurnya sudah menginjak legal tetapi sifatnya masih stuck di umur 5 tahun.

Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara. Kakak perempuanku yang bernama Kak Anissa bekerja di perantauan. Biasanya dalam hal urusan rumah, aku dan Kak Annisa saling bagi tugas. Tapi karena Kak Annisa tidak ada, jadi semua aku yang pegang. Terkadang Ibu juga membantu, tapi sekarang, karena aku sudah besar, urusan rumah aku yang kerjakan.

Aku sudah sering minta tolong pada Reza agar membantuku dalam mengurus rumah, tetapi bocah itu selalu saja beralasan, sakit lah, kakinya terkilir lah, dan lain sebagainya yang bikin aku jadi jengah melihatnya.

Ibu adalah seorang single parents. Ayah kami meninggal sejak kami masih kecil. Sejak Ayah kami meninggal, semua hal tentang kami, Ibu yang ambil alih. Ibu adalah orang tua sekaligus menjadi kepala keluarga. Ibu mati-matian mencari nafkah dari pagi sampai malam demi anak-anaknya tidak kekurangan apa pun. Sayangnya, adik kami—Reza tidak mendapatkan kasih sayang Ayah, sebab saat Reza baru lahir kami mendapat kabar bahwa dalam perjalanan menuju rumah sakit, Ayah mengalami kecelakaan.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, Ayah tewas di perjalanan. Kabar duka itu yang menyebabkan Ibu menjadi down setelah melahirkan Reza.

“KAKKKK!” saat aku tengah melamun aku langsung tersentak mendengar pekikan Reza dari dalam rumah.

Lalu aku mencium aroma tak sedap dari dalam. Sontak aku langsung berlari menuju dalam rumah. Aku sudah was-was jika Reza telah melakukan sesuatu di dapur. Dan, benar saja. Telor yang sudah berubah warna menjadi hitam, serta asap mengepul ke seluruh penjuru ruangan. Reza berdiri dengan gestur risau. Ia berlari membuka jendela dapur agar asap serta aroma hangus menguar ke luar rumah. Aku berdiri lemas melihat apa yang telah adikku lakukan di dapur.

“Za …, kamu gila, ya? Kok bisa sampai hangus gitu sih.”

Reza menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.
“Maaf, Kak, tadi aku tinggal bentar ke kamar mandi. Kebelet maksimal soalnya.”

“Mampuslah kita kalau sampai Ibu tahu, Za. Lagian kalau kamu mau ke kamar mandi kan bisa kamu matiin dulu kompornya atau masak habis kencing. Pasti kamu nyalain kompornya gede ya?” tanyaku. Aku menghela kasar kala mendapatkan anggukan dari Reza.

Sebelum aku mengomel, Ibu datang dengan marah-marah. “Aduh, bau gosong apa ini!” beliau baru saja tiba dari pasar pergi berbelanja untuk kebutuhan dagangannya. Sontak saja aku dan Reza langsung menoleh pada Ibu yang sudah berdiri di sekat pembatas antara dapur dan ruang tengah. Batinku berkata. Duh, mampus. Pasti aku yang bakal kena.

“Kalian lagi ngapain sih di dapur? Kok bisa masak sampai gosong begini?” tanya Ibu.

Aku melirik Reza yang hanya diam saja dari tadi. Minimal ngomong kek apa kek tapi dia justru malah balas lirikanku sambil menggigit bibir bawahnya.

“Kirana,” panggil Ibu meminta penjelasan padaku.

“Bukan aku, Bu. Tadi Reza masak telor terus dia tinggal ke kamar mandi. Pas keluar udah gosong.”

“Kok bisa Reza yang masak? Kamu ngapain aja sih dari tadi? Kan udah Ibu bilang Ibu minta tolong sama kamu habis beberes rumah, masak. Masak butuh waktu berapa lama sih, Na? Nggak sampai berjam-jam, kan?” ujar Ibu.

“Kirana cuma selonjoran bentar, Bu, sambil nyari-nyari kerjaan di teras.” Belaku.

“Nyari kerjaan kan bisa nanti, Na. Selesaikan dulu pekerjaan rumah, baru kamu bisa leyeh-leyeh sepuasmu. Kamu tuh kalau gak ikhlas bilang, gak usah maksain buat bantu beres-beres pekerjaan rumah! Apa iya, semua pekerjaan harus Ibu yang kerjain? Kamu tuh perempuan, Na. Pekerjaan rumah memang capek. Tapi kalau kamu ngerjainnya nggak pakai hati ya mau sampai kapan pun semua pekerjaan terasa berat. Na, Ibu tuh gak minta apa-apa dari kamu. Ibu cuma minta kamu jadi anak perempuan yang kuat biar besok ketika kamu berumah tangga, kamu bisa menghadapi kenyataan yang jauh lebih berat dari ini.”

“Ibu gak masalah kamu mau kerja atau enggak itu urusan kamu. Selama Ibu masih bisa nyari uang, Ibu bakal usahakan apa pun demi anak-anak. Sebenarnya seberat apa sih, Na, pekerjaan yang Ibu kasih ke kamu? Kamu kalau nggak mau bantu Ibu di warung ga papa, Na. Di rumah ini, yang bisa Ibu andalkan selain Nisa itu kamu.”

Aku menggertakan gigiku. Kesal, sedih, kecewa. Selama ini aku selalu berusaha menjadi anak yang baik di mata Ibu. Aku tidak pernah sekalipun mengeluh melakukan pekerjaan yang Ibu beri.

Kenapa harus aku yang disalahkan dan menjadi sasaran empuk saat Ibu tengah marah? Kenapa hanya aku yang harus menerima kegagalan ketika aku tengah berusaha menjadi anak yang bisa Ibu andalkan? Lantas, apa tugas Reza di rumah ini? Selain bermalas-malasan dia keluyuran dan menghabiskan uang Ibu. Umur yang sudah cukup untuk mencari kerja dan paham tentang pekerjaan rumah.

“Bu, Kirana juga capek! Kirana berusaha jadi anak yang baik, anak yang selalu pengertian dan andil di rumah ini. Cuma karena satu kesalahan aja, Ibu perbesarkan. Lagipula yang bikin rumah ini hampir kebakaran kan bukan aku! Kenapa aku yang kena imbasnya? Selalu aja begitu, Reza menjadi raja di sini karena dia laki-laki. Laki-laki yang gak perlu ngurusin apa itu pekerjaan rumah, masak, nyuci. Aku cuma nyuruh dia masak sendiri karena aku pengin melatih Reza kalau di dunia ini, pekerjaan rumah bukan hanya perempuan aja yang harus bisa. Gimana Reza mau mandiri kalau masak aja dia gak bisa, Bu? Selalu aja Reza, Reza, Reza yang Ibu belain! Ibu gak marah Reza ngabisin duit Ibu. Keluyuran sampai malam. Bangun siang. Ibu gak pernah tuh marah ke Reza. Giliran Kirana ngelakuin kesalahan kecil aja, Ibu marah-marah! Yang capek di sini bukan Ibu aja, Kirana juga capek! Hargain usaha Kirana dong!” air mataku meluruh begitu saja tanpa diminta.

Kerongkonganku terasa panas seperti terbakar. Aku mengeluarkan semua unek-unek yang kupendam semua pada Ibu.

Setelah mengeluarkan semua unek-unekku pada Ibu, aku langsung berlari ke kamar dan mengunci diri di kamar. Tak perduli bagaimana reaksi Ibu karena aku berbicara padanya dengan nada tinggi. Tak perduli seperti apa reaksi Reza melihatku marah besar untuk pertama kalinya. Terkadang aku punya pikiran keluar dari rumah ini setelah mendapat pekerjaan. Agar aku bebas melakukan apa saja yang aku sukai tanpa kekangan dari Ibu.

Aku lelah. Lelah terhadap ekspetasi Ibu itu. Bahwa aku tidak bisa menjadi perempuan kuat sepertinya. Bahwa pada nyatanya aku adalah manusia biasa yang memiliki batas kesabaran. Terkadang seorang anak tidak meminta dirinya dilahirkan jika hanya untuk memenuhi ekspektasi orang tua. Dan, seorang anak berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri atas kehendaknya. (*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 29 September 2024.

Tentang Cerpenis
Mutiara Zaina Fajriyah
IG: @mutyaaaaa_

Testimoni Mutiara Zaina Fajriyah

Saya ucapkan banyak terima kasih kepada pendiri Cerpen Sastra yang sudah memberikan kesempatan pada saya untuk ikut serta dalam sayembara cerpen Minggu ini.

Saya adalah orang yang sulit mengungkapkan perasaan, jadi saya ungkapkan perasaan melalui tulisan berjudul “Jeritan Hati Seorang Anak”. Bagi saya, menulis adalah bentuk dari sebuah rasa ungkapan saat kita tidak tahu ingin bercerita kepada siapa. Cerpen Sastra adalah salah satu tempat untuk saya menuangkan ide dalam sebuah cerita.

Di Cerpen Sastra, juga saya bisa mengasah kemampuan lebih dalam untuk saya sebagai seorang penulis sekaligus menjadi pengalaman yang sangat menyenangkan. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih kepada Cerpen Sastra yang sudah beri saya kesempatan. Semoga di kesempatan lainnya, saya bisa ikut serta lagi dalam kompetisi sayembara bersama dengan teman-teman sastrawan sekalian.

Exit mobile version