Warung kecil Mbok Yan awalnya buka hanya dari jam 5 pagi sampai 5 sore, menyesuaikan jam operasional mobil angkot yang jadi langganan kopi di sana. Namun akhir-akhir ini, Mbok Yan memperpanjang jam operasional warungnya. Bukan karena merasa kesepian ditinggal suami yang kerja serabutan dan pulang tak tentu waktu, tapi karena kehadiran pelanggan baru itu, para supir truk pengangkut pasir yang singgah di warungnya pada waktu malam.
…
Buka dari jam 5 pagi sampai jam 12 malam, Mbok Yan sekarang memasang kompor gas satu tungku di warungnya. Pelanggan bertambah, terbagi dalam dua koloni. Kalau di pagi hari supir angkot yang memesan kopi atau membeli rokok 1-2 batang, malam hari giliran supir truk pengangkut pasir yang jadi pelanggan. Kopi, rokok, dan mi instan adalah barang jualan andalan Mbok Yan untuk para supir truk.
Perubahan di warung Mbok Yan itu tidak terjadi tiba-tiba. Suatu malam, sebuah truk pengangkut pasir berhenti di bahu jalan depan rumah besar yang terbengkalai.
Si supir kemudian turun, mengelilingi mobilnya yang mengucurkan rembesan air ke sepanjang bahu jalan yang landai, sambil sesekali menendang-nendang ban mobil yang lebih besar dari tubuhnya itu. Saat supir itu kembali menjalankan truknya, token listrik Mbok Yan berbunyi lapar.
Wanita paruh baya itu terbangun dari tidur. Sekelilingnya gelap, tapi telinganya mendengar jelas suara truk besar berangkat di seberang jalan sana. Ia sudah terbiasa dengan suara ramai jalanan. Risiko tinggal di pinggir jalan raya antar provinsi. Tapi bunyi tancapan pedal gas dari mobil besar yang baru berangkat itu pertama kali didengarnya. Tidak ambil pusing, Mbok Yan kembali tidur.
Hari-hari selanjutnya, truk pengangkut pasir yang kedua, ketiga, dan keempat silih berganti berhenti di depan rumah besar terbengkalai di seberang warung Mbok Yan. Mereka melakukan hal yang kurang lebih sama seperti supir truk pengangkut pasir yang pertama; mengelilingi mobil yang juga mengucurkan rembesan air dari pasir yang basah, menendang-nendang ban mobil—dari hari ke hari, ukuran mobil truk yang datang berubah-ubah namun kelakuan supirnya tetap sama—dan beberapa kenek truk ada yang menaiki pasir mereka sambil membawa sekop.
Saat suami Mbok Yan pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah 3 bulan, ia berpapasan dengan supir truk pengangkut pasir dan bertanya, “Sedang apa berhenti di sini?”
“Mendinginkan ban sebentar, Pak. Habis ini jalan lagi.” Begitu alasan si supir truk pengangkut pasir. “Bapak baru pulang atau mau ke mana?” sambung supir itu basa-basi.
Suami Mbok Yan yang sedang sudah kelelahan hanya menunjuk warung di seberang jalan, lalu lekas menyeberang dan masuk ke rumah lewat pintu samping. Selang beberapa hari kemudian, dua buah truk pengangkut pasir berukuran besar berhenti—di tempat yang sama—setelah sebuah suara dentuman keras mengagetkan warga di sekitar situ.
“Hei! Pecah ban!” teriak kenek supir truk pengangkut pasir yang berhenti lebih dulu, menghadang sebuah mobil truk pengangkut pasir di belakangnya.
Saat itu hari masih senja. Warung Mbok Yan baru bersiap untuk tidur. Beberapa warga berlarian keluar rumah karena terkejut dengan suara dentuman yang seperti ledakan.
Namun, mendapati kekhawatiran mereka adalah hal yang tidak perlu, para warga kembali ke rumah masing-masing sambil sebelumnya menggosokkan kaki ke keset lantaran lantai beranda rumah mereka tidak pernah bersih dari debu jalanan.
“Bu, bisa pesan kopi?” seorang supir truk pengangkut pasir menghentikan Mbok Yan yang sedang menurunkan rentengan ciki.
“Berapa gelas?”
“Empat, Bu. Dibawa ke seberang sana boleh?”
“Ya, bawa sendiri nanti.”
Itulah supir truk pengangkut pasir pertama yang menjadi pelanggan Mbok Yan. Dua orang supir dan dua orang kenek itu bahu-membahu mengganti ban mobil yang pecah. Selama itu, aliran air dari rembesan pasir yang basah bercucuran ke jalanan, terus mengalir dan menggenangi jalanan yang landai. Kendaraan yang hendak melintas melambatkan laju mereka karena selain dua ruas jalan—selebar 4 buah minibus berjejer—yang bisa digunakan menyempit jadi hanya satu ruas jalan, jalanan yang basah dan licin juga menjadi faktor utama kehati-hatian mereka.
Saat berhasil dicoba sekali, akhirnya jadi bisa berkali-kali. Keesokannya, truk pengangkut pasir yang satu berganti dengan truk pengangkut pasir yang lain untuk berhenti di bahu jalan depan rumah besar terbengkalai itu.
Yang langsung terkena dampak dari kedatangan supir truk pengangkut pasir itu adalah Mbok Yan. Jam operasional warungnya bertambah, pemasukannya bertambah, kesibukannya bertambah. Suami Mbok Yan tidak lagi berangkat kerja serabutan karena kini ia yang menjaga warung dari malam sampai subuh untuk melayani para supir truk pengangkut pasir.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, truk-truk pasir semakin berani untuk berhenti di siang hari, di bahu jalan yang sama. Semakin malam, semakin panjang jajaran truk-truk pasir itu, bahkan belakangan sampai menghalangi rumah warga lain yang berpenghuni.
Dari yang hanya berhenti sebentar dengan alasan mendinginkan ban, lama-lama supir truk itu semakin berani untuk berhenti lama. Rumah terbengkalai yang punya halaman luas itu dijadikan markas untuk para supir yang ingin istirahat.
Sementara Mbok Yan yang sering kesusahan menyeberang untuk mengantar pesanan akhirnya membuka cabang di halaman rumah terbengkalai itu. Bahkan tahu-tahu sudah ada saung besar di halaman rumah terbengkalai itu.
Beralaskan tikar dan beratapkan pelepah daun kelapa, saung itu bisa dijadikan tempat bermalam para supir yang kelelahan. Pagi harinya, jejak truk pasir itu berceceran di sepanjang bahu jalan antara provinsi. Sementara supir-supir itu sudah menjalankan truk pasir mereka sejak sebelum adzan subuh berkumandang.
…
Seorang pedagang pisang keliling terpeleset air dari rembesan pasir basah yang mengalir di bahu jalan. Pisang ambon, pisang kepok, sampai pisang raja yang dipanggulnya berceceran ke jalan. Ia mengaduh.
Belum sempat menyelamatkan diri, di belakangnya seorang pengendara sepeda motor menarik rem secara mendadak untuk menghindari motornya menabrak pedagang pisang itu. Jalanan yang licin membuat bannya selip. Pengendara sepeda motor yang hanya menggunakan peci sebagai pelindung kepala akhirnya ikut terjatuh.
Aki Papa, pengendara motor itu, hendak pergi ke masjid untuk menunaikan salat subuh berjamaah seperti biasa. Namun nahas, setelah diselamatkan oleh warga di sekitar tempat kejadian, darah mengucur dari berbagai lubang di tubuhnya. Nyawanya tidak tertolong.
“Ini keterlaluan! Kerja apa para polisi itu? Masa harus menunggu korban dulu baru menertibkan pelanggaran?!” anak Aki Papa mengamuk di kantor polisi. Ia tidak terima dengan kematian ayahnya yang mengenaskan tetapi tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kecuali takdir.
“Tenang, Pak. Setelah ini kami akan berjaga di sekitar lokasi agar tidak ada lagi truk yang berhenti …,” kata seorang polisi belum selesai.
Anak Aki Papa langsung menyerang lagi, “Jangan cuma berjaga! Kasih teguran! Pasang pembatas jalan atau apa begitu biar truk itu tidak muat parkir di pinggir jalan!”
“Baik, Pak. Baik. Saat ini juga petugas kami sudah sampai di lokasi untuk berjaga.”
Polisi itu masih mencoba menenangkan anak Aki Papa yang merah mukanya.
…
“Loh, saya sudah berjualan di sini sebelum para supir itu suka berhenti sembarangan. Kenapa saya yang didenda?” Mbok Yan tidak terima dengan kedatangan petugas Dinas Perhubungan yang memberikan surat denda padanya. Menurut tuduhan mereka, warung Mbok Yan memfasilitasi kebutuhan para supir truk pengangkut pasir sehingga mereka betah berhenti di tempat yang tidak seharusnya.
“Harusnya Mbok bisa bekerja sama dengan kami. Kalau ada truk pasir yang berhenti, Mbok bantu usir.” Ujar salah seorang petugas.
“Enak saja! Itu bukan tanggung jawab saya. Kalau harus diusir ya usir saja sendiri! Kenapa jadi tanggung jawab saya?” Mbok Yan membela diri.
Kedua petugas yang datang tidak bisa berkutik lagi. Mereka serba salah juga. Sementara itu Mbok Yan menarik turun rolling door warungnya dan masuk ke rumah melalui pintu samping.
…
Kini setiap malam, anak Aki Papa duduk di saung di halaman rumah terbengkalai itu. Ia menyalakan perapian dari daun-daun kering yang berjatuhan di sekitar halaman.
Pohon-pohon mangga yang besar dan tinggi cukup untuk menyembunyikan dirinya. Saat sebuah truk pasir berhenti, dengan sigap ia mengeluarkan tongkat panjang dan menghadang truk itu.
“Pergi! Dilarang berhenti di sepanjang jalan ini! Lihat tandanya!” teriak anak Aki Papa sambil menunjuk plang bertuliskan huruf S yang dicoret garis merah. Si supir hanya mengangguk-angguk dan tersenyum tanpa dosa sebelum kembali menjalankan truknya.
Anak Aki Papa kembali duduk di saung sampai adzan subuh berkumandang.[*]
Minggu, 7 Januari 2024.
Cerpenis
Dhea Fajrin Barkah
Cerpen dan puisinya pernah tayang di Semilir.co. Menikmati peran sebagai Gadis Rumah Tangga. Bisa dihubungi di @ddheafb
Testimoni Dhea Fajrin Barkah
Ini adalah kali kedua cerpen saya tayang di Cerpen Sastra. Rasa syukur yang tak terkira, mengingat pesaing di sayembara Cerpen Sastra terdiri dari berbagai kalangan mulai dari penulis senior hingga pemula seperti saya.
Hal ini menunjukkan bahwa penilaian murni kepada karya, bukan kepada siapa penulisnya. Hal ini juga berarti kesempatan terbuka untuk siapa saja, jadi tidak ada alasan untuk berkecil hati pada karya sendiri.
Terima kasih Cerpen Sastra. Semoga panjang umur dan berkah adanya!

