“Anakku di mana? Anakku hilang. Nduk, adikmu nggak ada. Perutku kempis, anakku hilang.” Tangisan ibu memecah pagi. Aku yang masih tertidur langsung terbangun, terduduk, menatap ibu yang masih meratapi perutnya yang mengempis. Aneh. Seharusnya perut ibu besar, membulat, sebab di dalamnya ada janin yang sudah berusia tujuh bulan. Usia yang cukup untuk membuatnya terlihat bahkan dari kejauhan. Dalam semalam, seolah ibu sudah mengeluarkan semua isinya, tanpa jejak dan sisa. Seolah kehamilan tujuh bulan itu hanya lelucon yang tidak nyata.
…
Sejak kapan? Dari mana mulainya? Aku mendadak mengingat kejadian beberapa hari lalu. Kata orang, maghrib adalah waktu yang terlarang bagi ibu hamil dan anak-anak berada di luar. Seharusnya, mereka sudah di dalam rumah dengan pintu dan jendela yang terkunci. Tapi di maghrib itu, ibu yang menggendong adik keduaku, tergopoh-gopoh menuju ke tukang pijat terdekat. Bahkan perutnya yang besar tak menjadikannya halangan untuk menggendong anaknya yang menangis sembari memegangi kakinya karena terjatuh dari sepeda.
“Nduk, kamu masuk saja. Tunggu di rumah sampai ibu pulang. Jangan lupa untuk menutup semua pintu. Ibu mau bawa adikmu ke tempat Mbah Ni untuk dipijat.”
Aku hanya mengangguk walaupun hatiku terasa tidak nyaman. Tak bisa kupungkiri kalau aku juga merasa kasihan pada adikku itu. Nampaknya kakinya terkilir dan benar-benar menyakitkan untuknya. Aku menunggu di rumah sendirian, menghidupkan semua lampu karena hari sudah gelap. Adzan dikumandangkan tak lama kemudian dari surau-surau di kampungku. Ayahku sendiri bekerja sebagai seorang karyawan PT di daerah lain yang hanya pulang dua bulan sekali.
Cukup lama ibu pergi, lalu pulang dengan menggandeng adikku yang sudah bisa tertawa. Nampaknya benar-benar ampuh pijatan dari Mbah Ni, dukun pijat yang sudah berusia senja itu.
”Adek tidak apa-apa, Bu?” tanyaku sesaat setelah mereka masuk rumah.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit terkilir dan sudah dipijat tadi.”
“Kok lama?”
Ibu berjalan menuju kamar mandi, mengajak adikku yang baru berusia lima tahun untuk ikut dengannya. Ia membasuh kakinya dan kaki adikku, lalu menghampiriku yang duduk di ruang keluarga. Rumah kami yang tidak terlalu besar membuatku dapat mengamati semuanya dari sini.
“Iya. Tadi ada nenek-nenek yang mengajak ibu berbicara. Ia sempat mengusap perut ibu juga. Katanya teringat dengan cucunya yang juga hamil seperti ibu.”
“Nenek? Siapa?”
“Entahlah. Ibu belum pernah lihat. Tapi katanya tadi orang sini, namanya Mbah Tholib.”
Aku hanya mengangguk mendengar cerita ibu. Kami sendiri belum banyak mengenal penduduk desa ini karena baru pindah sekitar lima bulan yang lalu. Saat ini aku masih kelas lima SD, saat yang tanggung untuk pindah sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi, rumah kami di desa sudah selesai dibangun dua tahun yang lalu. Kalau menunggu sampai kontrak bapak selesai atau di-PHK, kemungkinan akan terlalu lama kosong dan itu tidak baik. Jadilah aku, ibu, dan adik yang pulang dan menempati rumah, meninggalkan bapak di mess PT yang pulang dua bulan sekali. Selain itu juga, rumah di desa ini masih satu komplek dengan keluarga bapak, jadi setidaknya masih ada keluarga lain jika ada sesuatu terjadi.
Setelah itu tidak ada yang berbeda. Semua tetap sama. Perbedaan baru dirasakan sekitar seminggu setelah maghrib itu alias di malam ibu kehilangan janinnya. Tidak biasanya kami merasakan kantuk yang teramat sangat selepas maghrib. Bahkan ibu yang biasanya mengaji sampai isya pun terpaksa harus menyudahi ngajinya di beberapa ayat pertama. Kami menyerah sebelum adzan isya berkumandang.
“Sudah ngantuk, Nduk? Tidur aja, yuk! Ibu juga sudah tidak kuat untuk menahan kantuk ini.”
Aku yang di hari lain terbiasa begadang sampai malam akhirnya mengalah, ikut pergi ke kamar dengan adikku yang sudah setengah tertidur. Di persimpangan antara tidur dan sadarku, kudengar seseorang membuka pintu. Orang itu bertubuh agak pendek dengan pakaian dan blangkon serba hitam bersama seseorang bertudung hitam yang mengekor di belakang. Di penglihatanku saat itu, mereka masuk dengan santainya.
Karena terkejut seketika aku terbangun dan berteriak, “Bu! Ada yang masuk! Ada orang yang masuk!”
Ibu yang sudah tertidur pun terkejut, ia terbangun sembari sedikit memarahiku.
“Hus! Tidak ada siapa-siapa! Sudah, tidur saja lagi. Kamu itu hanya bermimpi.”
Tapi, rasanya benar-benar nyata untuk dikatakan sebuah mimpi. Karena masih mengantuk, aku kembali tertidur. Di dalam tidurku, aku seolah melihat seseorang yang tadi masuk kini berdiri di sebelah ibuku. Sosok bertudung itu mengelus perut ibu, kemudian seolah menarik sesuatu.
Semua prosesnya terasa lama bagiku sampai sesuatu tiba-tiba keluar dari jalan lahir. Seorang bayi laki-laki lengkap dengan tali pusar yang masih tersambung dengan ari-ari keluar dari perut ibu, lalu melayang dan digendong sosok bertudung tersebut. Setelahnya, sosok bertudung itu menghilang lebih dulu, meninggalkan laki-laki berblangkon yang berkomat-kamit, kemudian ikut menghilang. Anehnya aku tidak terbangun dan menganggap semua hanya mimpi.
Pagi itu aku tidak pergi ke sekolah, melainkan mengikuti ibu dan adikku ke rumah seorang dukun yang masih memiliki hubungan persaudaraan dengan kami dari pihak ibu yang rumahnya berada di desa sebelah. Sesampainya di sana, ibu diberikan sebuah minuman yang aku sendiri tidak tahu itu apa. Tapi sepertinya air doa.
“Tunggu di sini, Nduk. Biar mamak sama masmu yang kerjain dari dalem. Kamu sama anakmu di sini aja.”
Ibu menurut dengan mengangguk lesu. Tangannya masih mengelus perutnya dengan tatapan yang kosong menatap ke depan. Bahkan aku dan adikku saja hampir tak dianggap keberadaannya.
Karena apa? Sejak kapan? Kupikir permasalahan utamanya adalah nenek-nenek yang dibilang ibu ketika pulang kala maghrib itu. Nenek yang anehnya tidak pernah kutemukan di mana pun tempatnya meskipun aku bertanya sana-sini, tetap saja nihil. Hanya sebuah fakta aneh yang kutemukan: Mbah Tholib sudah meninggal sekitar sepuluh tahun yang lalu. Mbah dan Pakde-ku keluar dari kamar khusus dengan raut wajah yang tak terbaca. Aku melihat seperti nyaris tak ada harapan di sana.
“Anakmu tidak bisa diambil lagi, Nduk. Dukunnya lebih kuat dari mamak. Dia laki-laki, tampan, tapi sudah diamankan sama dukunnya dengan dimasukkan ke dalam rahim ibu yang meminta anak. Bagaimana bisa kamu kecolongan seperti ini? Apa kamu pernah keluar di saat maghrib?”
Ibu yang memiliki tatapan layaknya ikan mati menatap si mbah dengan mata yang berkaca-kaca.
“Iya, pernah, Mak. Waktu itu mengantar Cahya untuk dipijat karena dia jatuh dari sepeda.”
Si Mbah menghela napasnya. “Apa nggak bisa ditunda?”
Tatapan ibu tiba-tiba mengarah adikku, Cahya, dengan tajam.
“Dia nangis! Padahal seharusnya aku bisa mendapatkan anak laki-laki. Kalau saja bukan karena dia yang menangis terus-menerus, aku tidak akan keluar maghrib dan mengalami ini.”
Nada suara ibu meninggi.
“Sudah, sudah. Seharusnya tidak terlalu fatal kalau tidak bertemu perantaranya. Apa kamu ingat kapan kamu bertemu perantaranya?”
Ibu terdiam. Seolah ia melupakan sesuatu.
“Mbah Tholib itu siapa, Mbah? Ibu bertemu dengannya maghrib itu. Tapi besoknya, saat aku bertanya ke tetangga, orang itu sudah meninggal sepuluh tahun lalu,” cicitku tiba-tiba. Kupikir Si Mbah pasti tahu.
“Dia memegang perutmu?”
Pandangan Si Mbah kembali ke ibu. Ibu mengangguk pelan.
“Itu perantaranya. Ritual ini dinamakan pujon, yaitu memindahkan jabang bayi dari rahim orang agar hamil. Sosok itu menandaimu untuk mengambil anakmu saat kamu terlelap. Dia bukan Mbah Tholib, melainkan sosok lain yang meminjam nama seseorang yang sudah meninggal. Sudahlah, ikhlaskan. Sepertinya orang yang menginginkan bayimu adalah orang berada dan benar-benar menginginkan anak. Berdoa saja semoga ia dirawat dengan baik. Sekarang fokus pada anak yang sudah ada. Kasihan Cahya dan Dinar, keduanya masih anak-anak. Mamak akan membantumu untuk mengandung lagi.”
Ibu tidak menjawab, melainkan hanya menangis dengan keras.
Setelah kejadian ini, sikap ibu berubah drastis. Terutama pada Cahya yang dianggap sebagai penyebab kesialan ini. Bapak langsung pulang sejak kejadian ini, tapi beliau tidak bisa berbuat banyak. Terlebih waktu liburnya terbatas. Yang lebih menyakitkan, ibu tak kunjung hamil sejak kejadian itu sehingga kami sering kali menjadi tempat lampiasan emosinya.
Aku sedikit banyak tahu mengapa ibu begitu berubah karena kehilangan seorang anak. Mertua ibu, ipar-iparnya, hampir semua selalu mempermasalahkan ibu karena tidak bisa mempunyai anak laki-laki.
Permasalahan yang sepele bagiku yang masih anak-anak ini, tapi sepertinya masalah yang besar bagi orang dewasa. Karena sejak ibu kehilangan adikku saat itu, nenek dan saudaraku dari pihak bapak yang lain semakin keras mencecar ibu, apalagi ketika mereka mengetahui kalau adikku yang hilang berjenis kelamin laki-laki. Mereka semakin mengatai ibu tidak becus dalam menjaga anaknya. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 16 Juli 2023
Cerpenis
Hardina Okteviara Hapsari
Memiliki hobi menulis, menonton anime, dan bermain game. Gadis kelahiran Tulang Bawang. Kini tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri Universitas Lampung jurusan ilmu hukum. Ia dapat disapa di IG-nya: @hapsarieagleon12
Testimoni Hardina Okteviara Hapsari
Selasa, 18 Juli 2023
Sebagai seorang yang suka menulis, saya sering mencari wadah untuk menyalurkan hobi. Saya dipertemukan dengan @cerpen_sastra. Di sana, saya tertarik berpartisipasi. Ketika membaca karya pemenang, keinginan saya mendadak ciut karena diisi penulis keren. Lalu, saya berpikir, kalau tidak mencoba, mana mungkin tahu hasilnya. Saya sendiri tertarik lebih pada tema horor. Beruntung, sayembara tidak terbatas tema tertentu yang membuat saya sedikit percaya diri. Karenanya, saya mencoba mengirim tanpa berharap lebih. Siapa sangka, karya perdana saya mampu menarik perhatian juri di tengah karya lain yang pasti luar biasa. Lalu dipublikasikan di IG, di mana bisa dijangkau banyak orang.
Sedikit banyak saya merasa bangga sekaligus terharu karena punya jejak abadi yang semoga bisa diingat orang lain. Terima kasih saya persembahkan pada @cerpen_sastra yang memberi kesempatan dan apresiasi atas karya-karya hebat yang diciptakan penulis-penulis hebat. Tidak ada salahnya untuk mencoba karena ketika kita mencoba, mungkin 50% adalah kegagalan. Tapi saat kita tidak mencobanya sama sekali, maka di sana hanya ada 100% kegagalan.

