Kenapa semuanya jadi seperti ini? Kulihat kedua tanganku yang bersimbah darah. Tidak jauh dari tempat tubuhku berdiri, aku melihat sebilah pisau dengan gagang emas yang tergeletak begitu saja di lantai. Sayang keindahan gagang emas itu tidak mampu menyamarkan bercak darah yang melumuri bilah pisaunya. Sangat pekat dan segar. Darah siapakah ini?
***
Aku berusaha untuk menggerakkan tubuhku, mengambil langkah satu demi satu, berjalan perlahan. Seluruh tubuhku terasa bak cangkang telur, meski keras namun mudah pecah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, tapi aku tahu ada sesuatu yang terjadi tadi malam.
Aku terus berjalan menuju ruang keluarga, mengikut jejak darah yang berceceran. Ketika sampai di muka pintu ruang keluarga, aku menyalakan lampu gantung yang paling besar di tengah ruangan. Kristal-kristal yang menggantung sekonyong-konyong memantulkan cahaya lampu, menyinari ruangan dengan keindahan yang tidak pernah membuatku berhenti untuk takjub. Sayangnya, pagi itu perasaan takzim sama sekali tidak singgah di hatiku.
Tepat di bawah lampu gantung kristal kebanggaanku itu, terdapat meja kaca yang biasanya digunakan oleh keluargaku ketika kami semua memiliki waktu untuk berkumpul di rumah. Meja dan sofa-sofa lembut yang tertata rapi mengelilinginya adalah saksi bisu dari 10 tahun kebahagiaan keluarga kecil kami.
Aku rasa masa keemasan itu akan segera berakhir. Di pinggiran meja, aku melihat seonggok tubuh manusia yang begitu kukenali di luar kepala. Tubuh itu terkulai lemas dalam posisi menengadah, memandang langit-langit ruang seakan-akan ikut mengagumi cahaya pantulan kristal. Dari perutnya terlihat darah yang mengucur dan menghiasi permadaniku, memberi sentuhan merah pada putih bersih yang suci. Kami lebih dari dekat, sebab keseluruhan masa kecil kuhabiskan dengannya. Gaya rambut, postur tubuh, dan selera berpakaiannya sangat familiar. Bahkan wajahnya mampu kukenali dalam sekali pandang karena wajah itu adalah wajah yang sama denganku.
***
Aku mengingat umur 7 sebagai umur yang membahagiakan. Setelah terpisah satu tahun lamanya, akhirnya aku berkumpul kembali dengan kembaranku. Keluarga kecilku akhirnya lengkap, hanya kurang sesosok ayah. Namun bagaimana aku bisa mengharapkan Ayah akan kembali di saat kedua orang tuaku baru saja bercerai?
Tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama, pahitnya tidak lama kemudian aku rasakan. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini mulai tumbuh. Apakah sejak perhatian yang biasanya Ibu berikan padaku mulai berangsur-berangsur berpindah pada kembaranku? Mungkinkah itu hanya pemikiran burukku saja? Atau iblis sudah mulai menaruh perhatiannya padaku dengan niat mengusik kemurnianku?
Yang jelas, Ibu sekarang berubah. Tiada sudah Ibuku yang setiap hari bertutur dan berperangai lembut. Sekarang Ibu lebih sering memarahiku dan hanya menyuruhku untuk belajar. Kehidupanku hanya berputar pada sekolah, olimpiade, dan kursus. Aku tahu bahwa sejak Ayah dan Ibu bercerai, Ibu jadi lebih ketat terhadap pendidikanku. Ibu merasa yang menyelamatkannya dari keterpurukan finansial hanyalah pendidikannya yang tinggi. Maka Ibu merasa perlu untuk mengarahkanku agar tidak lalai terhadap studi akademikku.
“Kamu itu kalau sudah besar akan mengerti kenapa Ibu memaksamu untuk belajar dan kamu akan berterima kasih pada Ibu!” Hari itu aku dan Ibu bertengkar hebat karena lagi-lagi aku menolak untuk berangkat mengikuti pembinaan olimpiade. Ibu memang tidak pernah menggunakan kekerasan karena kata-kata adalah senjatanya.
“Lalu mengapa kakak juga tidak disuruh belajar, Bu?” tanyaku meraung-raung. Ibu menatapku tanpa sekalipun merasa iba. Tanpa menjawab, Ibu meninggalkanku sendirian. Berkali-kali aku mengharapkan Ibu untuk memberiku waktu istirahat, untuk sekadar bermain di akhir pekan, namun tidak ada satu pun yang dikabulkan.
Aku hidup dengan merasa terpenjara selama masa mudaku. Hingga akhirnya pada umur 17 tahun aku menyerah sepenuhnya. Masa kecilku kuhabiskan dengan perjuangan mencuri kembali perhatian Ibu. Aku mengira jika aku sudah mampu untuk memenuhi ekspektasi Ibu, maka perhatian Ibu akan kembali tercurahkan kepadaku. Namun kenyataannya tidak pernah seindah harapan.
Alih-alih menjadi anak yang baik, aku justru mencari perhatian pada lingkungan pertemananku. Aku menjadi orang yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Rumah sudah tidak lagi menjadi tempat yang nyaman bagiku. Pendidikanku kuabaikan sepenuhnya. Aku mencari kesenangan dengan melakukan berbagai kegiatan nakal sebagaimana anak remaja. Aku rasa saat itu tidak ada satu pun hal nakal yang tidak kulakukan. Perubahan sikapku ini membuat Ibu semakin marah. Kembaranku yang tetap pada jalan yang lurus itu pun semakin dipuji-pujinya.
“Seharusnya kamu mencontoh kakakmu, lihat dia! Tidak pernah sekalipun berbuat onar dan membuat Ibu malu! Ibu menyesal pernah melahirkanmu!” Itu adalah kalimat kejam yang akan menghantuiku seumur hidup. Ada kalanya aku merasa bahwa dunia begitu tidak adil. Bagaimana bisa manusia yang kelak di kakinya akan menjelma surgaku malah menjadi alasanku menderita setiap harinya?
Aku sadar diri betul akan kekuranganku dalam mengusahakan kebahagiaan Ibu. Di saat saudara kembarku menghabiskan waktunya menemani Ibu berbicara, aku menyendiri di kamar remangku. Aku tahu bahwa tiada yang mengharapkan keberadaanku. Namun tanpa dapat aku sanggah, aku merasa iri hati melihat Ibu yang begitu menganakemaskan saudara kembarku. Aku pun ingin disayang, ingin dibelai, ingin dimanja-manja. Apabila benar kami dari rahim yang sama, mengapa perlakuan kepada kami begitu berbeda? Ibu tempatkan aku jauh terperosok di dalam tanah dan saudara kembarku ia tinggikan bersanding dengan Bulan sang Ratu Malam. Mungkin tanpa sadar, kecemburuan ini yang seringkali membuatku memusuhi saudara kembarku.
Buntut dari segala pertengkaran kecil kami terjadi di saat kami berdua berumur 22 tahun. Selama ini di dalam hatiku sudah tertanam ranjau permusuhan dan pertengkaran kali ini menjadi pemicu yang meledakkan sumbunya. Pertengkaran besar kami ini berawal dengan uang yang kupinjamkan padanya. Aku pun sebetulnya tidak terlalu peduli karena itu kubilang padanya untuk perlahan menyicil kembali uangnya. Namun bulan berganti tahun dan uangku belum juga kembali sepeser pun. Saat itu kami sedang lelah dengan kuliah dan mungkin karena itu jugalah emosi membutakan kami sepenuhnya.
“Maksudku saat itu adalah kau membayar iuran secara berkala. Tidak masalah jika membutuhkan waktu yang lama! Bukannya membayarku, kau malah membeli banyak barang bermerek! Bagaimana aku mau percaya kau akan mengembalikan uangku?!”
“Aku pikir maksudmu saat itu adalah aku bisa membayar kapan pun aku mau! Ini bukan salahku! Kau memberiku informasi yang keliru!”
Entah setan apa yang merasukiku hingga tanganku terasa gatal bukan kepalang ingin menampar wajah saudara kembarku. Jika kupikir-pikir kembali, mungkin itulah pertama kali terbesit keinginan untuk menggunakan kekerasan. Hari itu kekecewaan, kecemburuan, dan kebencianku seakan-akan meminta pembebasan dari kurungan akal sehat. Aku merasa Sang Iblis mengeratkan genggamannya padaku. Senyumnya mengingatkanku bahwa dia dan kutukannya akan terus membayangi sejauh apa pun aku berlari.
***
Sudah setahun aku mendekam di balik jeruji penjara. Jika ada yang bilang bahwa dua tahun yang lalu aku memiliki sebuah keluarga yang sempurna dan harmonis, maka aku akan menyanggah dan merutuki kebohongannya. Setahun cukup untuk membuatku kehilangan segala kebahagiaan yang aku miliki. Yang tersisa hanyalah rasa menyesal dan ketakutan karena aku tahu di saat aku benar-benar bisa bebas dari besi-besi yang selama ini mengurungku, maka tandanya malaikat maut sudah siap untuk menjemput.
Dosa yang kulakukan tidak akan mampu untuk diampuni, setidaknya di dunia ini. Bukankah manusia sungguh hebat? Mereka bisa menjadi malaikat namun berubah menjadi iblis pada keesokan harinya. Aku tidak tahu apa yang merasukiku malam itu. Namun malam minggu yang seharusnya penuh canda tawa justru terjadi tragedi berdarah yang berakhir dengan tewasnya saudara kembarku.
Ingatanku sama sekali kabur. Namun hasil penyelidikan polisi menunjukkan bahwa pada malam minggu itu aku menikam saudara kembarku setelah bertengkar hebat. Setelah perutnya tertusuk pisau bergagang emas, saudaraku sempat kabur keluar rumah melewati ruang keluarga. Namun karena tusukannya yang terlalu dalam maka tubuhnya ambruk di ruang keluarga hingga besok paginya kutemukan sudah tidak bernyawa.
Yang membuatku begitu terpuruk adalah aku tidak sanggup untuk mengingat alasan kami bertengkar. Sehebat apa perkara yang kami debatkan hingga akhirnya aku kecolongan emosiku sendiri dan memutuskan untuk mengakhiri hidup saudara sedarahku? Atau malam itu ada iblis yang merasukiku hingga aku tidak dapat berpikir dengan jernih? Aku tahu bahwa kebencian dan rasa iri hatiku sudah begitu dalam tapi aku tidak tahu kalau keduanya sudah sebuas itu menguasai nuraniku hingga aku menjadi gelap mata.
Aku ingin percaya bahwa malam itu aku dikuasai iblis yang selama ini bersarang di dalam diriku. Iblis yang dari awal kehidupan sudah menemaniku dan kupelihara dengan perasaan kebencian dan kecemburuanku. Jika betul iblis telah menguasaiku, maka sudah sepatutnya ia gembira karena tidak lama lagi aku akan menyusulnya ke neraka.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 11 Mei 2025.
Tentang Cerpenis
Fafa
Hidupnya sejak kecil selalu dipenuhi buku bacaan. Untuknya, membaca sama pentingnya dengan makan dan minum, walau tidak lebih penting dari ibadah. IG: @fafa_keempat.
Testimoni Fafa
Saya kembar maka saya tahu betul rasanya menjadi kembar dan hidup sebagai kembar. “Iblis dalam Semalam” adalah upaya saya untuk menjawab setiap pertanyaan “Bagaimana rasanya terlahir kembar?”. “Iblis dalam Semalam” juga vokalisasi gugatan nyata saya terhadap pola asuh orang tua yang ternyata memegang peran lebih penting dari yang dikira.
Saat pertama kali mengetahui cerita saya dipilih sebagai pemenang, rasanya senang bukan kepalang. Saya tidak pernah menyangka kalau inspirasi kisah keseharian saya akan mampu menenangkan sayembara sekompetitif ini. Terima kasih, Cerpen Sastra, telah menyediakan media menulis bagi saya dan teman-teman pecinta sastra lainnya! Semoga ke depan, Cerpen Sastra bisa semakin maju dan melahirkan sastrawan-sastrawan yang tidak hanya berbakat, namun juga memajukan peradaban!

