Site icon cerpensastragrup

Hutan Larangan Cak Badrun (Cerpen Rosul Jaya Raya)

Sumber ilustrasi: iStockphoto/Alena Kravchenko.

Aku tak paham sampean Cak (Kak) Badrun. Sampean penuh simpati pada sesama, mengerti dan memecahkan persoalan manusia. Bahkan barang membunuh semut pun sampean enggan, terlebih lagi hewan lain. Tapi ketika sampean bercerita sudah menghabisi nyawa Qomaruddin, jiwaku terlompat. Benakku jumpalitan. Kehidupan ibarat hutan larangan, penuh misteri, kata sampean Cak. Sekonyong-konyong aku teringat kegemaran sampean mengoleksi dan membaca buku-buku psikologi dan silat.
…

Demikianlah hutan larangan, penuh misteri, seperti dalam dongeng-dongeng. Tak diketahui di dalamnya berisi apa, entah siluman, kurcaci, peri, monster, raksasa, jârângkong (hantu), satwa dan tanaman langka. Sebelum menyusurinya hingga sampai ke inti, kalian akan ditelan dan tak pernah kembali.

Di kafe yang bernuansa sunyi ini, tak ada musik disetel dan tempat berkaraoke pengunjung, pun pelayannya bersikap dingin, tak ramah seperti pelayan kafe pada umumnya. Beberapa jenak sebelum sampean bercerita pembunuhan, sampean memperhatikan lelaki dan perempuan, sedang berpacaran.

Aku menoleh ke mereka. Si lelaki mempersembahkan hadiah cincin dalam kotak berbentuk hati. Si perempuan tertakjub dan teramat senang. Aku pikir mereka pasangan yang sudah sangat merekat, tapi ucap sampean berbeda.

“Lihatlah perempuan itu Lek (Dik). Dia tak mencintai si lelaki.”

“Masa Cak? Kupikir mereka pasangan yang saling mencintai,” sahutku sambil menanti argumen sampean Cak.

“Ya, aku tahu dari si perempuan yang menaruh tas jinjingnya. Lihatlah dia menaruhnya di bangku sebelah tempat dia duduk. Padahal biasanya perempuan yang berpacaran akan menaruhnya dekat si lelaki dan tak masalah kalau disentuh si lelaki. Secara teori, ini disebut sikap pertahanan diri. Tas perempuan dalam titik tertentu sama seperti hatinya. Dari caranya menaruh tas, menunjukkan si perempuan tak memercayai
hatinya pada si lelaki.”

Tapi sampean setuju kalau si perempuan gembira saat diberi hadiah. Ya, tampak dari pupil matanya yang membesar, terang sampean Cak.

“Perhatikan Lek, perempuan itu sebenarnya tak ingin mendengarkan omongan si lelaki. Lalu dia berbicara bohong membalas omongannya.“

Aku dan sampean mengamati keduanya.

“Cak perempuan itu keluar.”

“Sepertinya dia tak akan kembali.”

Benar saja perempuan itu memang tak kembali. Sudah sekitar lima belas menit. Lalu si lelaki mengangkat telepon dan beranjak pergi meninggalkan kafe ini sendirian. Barangkali mendapat kabar dari si perempuan kalau dia sudah pergi.

Tanda kalau si perempuan tak ingin mendengarkan omongan si lelaki, kata sampean Cak, adalah menyentuh cuping telinganya. Dan tanda si perempuan berbohong, ialah menyentuh bibir tatkala berbicara.

“Suhu di kafe ini tak terasa dingin. Tapi si perempuan menyilangkan tangan. Ini posisi pertahanan diri atau tertutup. Dari awal si perempuan sudah menunjukkan gejalanya. Lalu dua kali si perempuan menoleh ke arah pintu masuk dan posisi kakinya yang menyilang menuju ke arah sana, artinya dia ingin ke pintu itu lalu meninggalkan si lelaki.”

Aku terkesan dengan kemampuan sampean Cak. Tak sia-sia bapa‘ (ayah) dan embu‘ (ibu) selalu membelikan buku psikologi yang sampean minta. Bertumpuk-tumpuk di meja di sebelah ranjang kamar sampean. Tak ayal teman-teman sampean sering berkunjung ke rumah, menanyai macam-macam persoalan jiwanya. Tapi, aku kesal pada sampean Cak, karena menolak berkuliah jurusan psikologi. Justru memilih menjadi petani dan peternak.

Saban pagi sampean pergi ke sawah. Sepulangnya sampean mendorong gerobak dorong yang penuh rumput, untuk pakan dua ekor sapi dewasa dan satu ekor anak sapi, serta enam ekor kambing. Sampean sangat menikmati kerja begitu. Padahal bapa‘ dan embu‘ menyarankan sampean kuliah dan menyanggupi membiayainya.

Bapa‘ dan embu‘ pedagang sate sukses di Surabaya. Kami punya rumah di sana. Aku pun lebih sering berumah di sana, meski aku kuliah di Bangkalan. Sebab aku tidak betah di kampung. Bahkan aku merasa seperti bukan keturunan orang Madura. Tapi sampean berbeda. Sampean lebih banyak tinggal di kampung. Mengurus sawah dan ternak.

“Kalau semua pemuda di sini pergi merantau Lek. Entah bekerja ke luar kota atau ke luar negeri, lantas siapa yang akan bertani dan berternak? Siapa yang akan menggantikan orang yang sudah po-seppo (sepuh-sepuh)?” Tandas sampean Cak Badrun suatu siang, saat duduk di lincak, sepulang dari sawah.

Meski sampean hidup di desa tapi pengetahuan sampean bukan main. Sampean sangat cerdas. Tak heran, sebab sampean gemar membaca buku. Buku ilmiah ataupun fiksi semua dilahap. Meski prioritas buku yang sampean baca tentang psikologi dan silat. Mangkanya aku selalu berkali-kali menyarankan sampean berkuliah, tapi berkali-kali sampean menolak. Padahal sudah aku ceritakan asyiknya berorganisasi bagi mahasiswa. Padahal sudah aku beri harapan, kelak sampean Cak Badrun akan menjadi psikolog hebat.

Suatu sore, sepulang kuliah, aku di rumah Surabaya, mendengar kabar dari kampung kalau sampean habis berkelahi dengan Toya hingga dia babak belur. Aku menelepon sampean. Sampean geram pada Toya karena melihatnya melecehkan Maryam, putri bungsu klèbun (kepala desa). Untungnya klèbun tak memperkeruh perkara itu ke polisi. Klèbun hanya memarahi dan memberi peringatan agar Toya tak mengulangi perbuatan bejatnya pada siapa pun. Lantas aku teringat kegemaran sampean membaca buku-buku silat. Sampean tak ikut perguruan silat mana pun. Barangkali sampean berlatih sendiri.

Kemudian seminggu yang lalu, aku pergi ke Madura untuk melihat sampean bertanding karapan sapi.

“Datang Lek, aku besok bertanding,” kata sampean. Aku menyetujuinya.

Pernah suatu ketika aku tanyai, “Mengapa sampean sudi menjadi tokang tongko‘ (pemacu karapan sapi)?”

“Karena aku lahir di Madura, maka kalau bukan aku yang turut menjaga kebudayaan ini, lantas siapa lagi?” Demikian jawaban tegas sampean. Aku mengangguk.

Sore itu, sampean bertanding. Tarian adat membuka pertandingan. Lalu dalam arena, tokang tongko’ memacu sapinya di atas kaleles (alat karapan sapi yang berada di tengah-tengah sepasang sapi). Pertandingan satu lawan satu. Debu beterbangan ditingkahi pacuan kaki-kaki sapi dan kaleles yang diderek. Komentator memandu pertandingan. Penonton bersorak-sorai. Asyik sekali menontonnya.

Final mempertemukan sampean dengan Qomaruddin. Sampean bilang kalau Qomaruddin tengah dirundung kesedihan. Tampak dari wajahnya, kata sampean. Dan sampean bercerita, kalau kemarin embu‘ Qomaruddin dirawat di rumah sakit sebab kencing manis. Bias kesedihan itu cerlang. Qomaruddin yang dibanjur kemalangan, tak akan maksimal bertanding, ucap sampean.

Tapi, sayangnya sampean kalah tanding melawan Qomaruddin. Sampean sungguh kecewa. Jiwa sampean terisak. Lalu tiga hari yang lalu, Qomaruddin ditemukan tewas dengan luka sayatan sekujur badan dan kepalanya bocor. Astaghfirullah! Sampean pelakunya Cak. Sampean bercerita padaku hari ini, di kafe bernuansa sunyi ini.

Sampean mengajaknya carok (berduel dengan celurit untuk mempertahankan harga diri), jam satu malam, di dekat sawah desa, saat semuanya lelap dalam selimut. Tempat itu gelap—masing-masing kalian memegang senter—dan tak akan dikunjungi seorang pun saat jam segitu. Jahat sekali sampean Cak!

“Manusia berubah-ubah seperti bunglon yang mimikri,” sergah sampean Cak.

Air mata sampean berlelehan Cak lalu berkata hendak menyerahkan diri ke polisi.

Aku memegang telapak tangan sampean yang jatuh di meja ini. Serta-merta sampean menariknya. Mengapa Cak? Aku hendak menenangkan sampean. Aku tak tahu Cak, mengapa dari dulu sampean tak pernah menyentuhku dan melarang aku menyentuh sampean? Aku adik kandung sampean Cak. Aku pun menanyakan itu.

Aku terperanjat seusai mendengar pengakuan sampean Cak Badrun. Kalian sekeluarga menyembunyikannya dariku.

“Tolong sampaikan maafku pada bapa‘ dan embu‘ telah mengatakan rahasia sebenarnya padamu Lek. Dua puluh tahun yang lalu, bapa‘ dan embu‘ tatkala bekerja di rantau Jakarta, mereka menemukan kardus yang berisi bayi perempuan di kolong jalan layang. Lalu mengadopsinya sebagai anak, dan perempuan itu ialah kamu Lek. Maafkan aku Lek. Maaf sekali lagi Lek. Senyatanya sudah lama aku jatuh cinta padamu Lek. Nian besar cintaku Lek. Karena itu sampai sekarang aku masih melajang.“(*)
Bangkalan, 10 April 2024

Tanggal tayang:
Minggu, 28 April 2024

Tentang Cerpenis

Rosul Jaya Raya 
Bergiat sastra dalam Kalam Literasi Kwanyar dan Komunitas Pencinta Literasi. Cerpenis keturunan Madura, kelahiran Bekasi, kini berdomisili di Surabaya. IG: @rosuljayaraya24

Testimoni Rosul Jaya Raya

Sudah 3 kali saya mengirim cerpen ke @cerpen_sastra (Netizen, Kisah Miskin di Depan Sekolah, dan Hutan Larangan Cak Badrun). Dua cerpen awal tidak terlalu saya kerjakan serius, tapi Hutan Larangan Cak Badrun saya garap serius melalui perenungan panjang dan riset.

Dalam Hutan Larangan Cak Badrun, saya ingin mengurai manusia yang penuh misteri. Memakai alegori hutan larangan dan bunglon yang mimikri. Lalu, saya masukkan kejadian sosial, kebudayaan, bahasa daerah, di Madura (kampung saya).

Juga menggunakan PoV menarik, tokoh unik, alur meneror mental, gaya bahasa dikeren-kerenkan. Ini jadi pelajaran bahwa menulis cerpen harus dikerjakan dengan serius. Komplit. Memakai perenungan dalam, riset sana-sini, gagasan unik, dan penceritaan menarik hingga menimbulkan hal fantastis untuk ditawarkan kepada pembaca. Akhirnya cerpen kalian bisa terbit di media mana pun.

Exit mobile version