Langit yang kian menghitam mengurungkan niatku untuk pulang ke rumah. Aku tidak membawa payung ataupun jas hujan, jadi aku sudah sangat yakin akan kehujanan di jalan jika tetap pulang. Aku kembali duduk di sudut kafe itu dan menikmati air hujan yang perlahan sudah mulai menetes membasahi jendela di kafe itu. Puas dengan memandangi air hujan, aku kembali memfokuskan pandanganku pada salah satu buku yang ada di tanganku, melanjutkan membacanya.
…
Tak lama dari itu, fokusku terpecah saat melihat rombongan ibu-ibu yang memasuki kafe. Ya mereka memasuki kafe dengan suara yang cukup membuat gaduh. Dari pakaian dan pernak-pernik yang mereka kenakan sepertinya mereka rombongan ibu-ibu sosialita. Mereka lantas duduk dan memenuhi kursi yang tak jauh dari tempatku berada. Aku pun mencoba mengabaikannya.
Tak lama aku mendengar suara pintu kafe yang terbuka dan menampilkan seorang wanita berumur 40-an diiringi dengan gadis di belakangnya. Gadis itu cukup cantik dan mungkin dia berumur sekitar 19 atau 20 tahun. Aku terus memperhatikan mereka hingga mereka duduk di antara ibu-ibu sosialita itu.
Awal-awal aku masih melihat gadis itu tersenyum dan menanggapi berbagai pertanyaan dari para teman ibunya. Meski begitu, dia lebih banyak diam jika tidak ada yang bertanya atau mengajaknya ngobrol. Beberapa menit kemudian aku melihat dia mulai merasa tak nyaman berada di sana. Terlihat dari cara duduknya yang sepertinya ingin segera pergi dari sana.
Aku terus memperhatikannya karena sepertinya dia tidak baik-baik saja, sementara para wanita di depannya tetap tertawa bahagia. Aku jadi semakin penasaran apa yang terjadi dengannya. Mungkin dia teringat dengan masalahnya sendiri, pikirku mencoba menerka.
Namun sepertinya pikiranku salah saat kulihat dia menatap salah satu teman ibunya dengan tatapan tak suka, membuatku penasaran apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan. Kutajamkan pendengaranku. Entahlah sejak aku memperhatikan gadis itu, pembicaraan para ibu yang semula terasa sangat bising lenyap seketika.
Satu menit … dua menit … tiga menit … pembicaraan mereka masih terdengar wajar di telingaku. Hingga pada akhirnya pembicaraan mereka mulai tak enak kudengar.
***
Hari itu aku ikut mamahku pergi ke acara pertemuan bersama teman-temannya. Aku memang sering diajak ikut acara ini sejak aku masih kecil. Namun aku tidak menyukai pertemuan itu termasuk teman-teman mamahku. Pasalnya saat mereka berkumpul, mereka akan membahas sesuatu yang membuatku bosan mendengarnya. Ya, mereka akan membahas masa lalu mereka, termasuk juga mantan pacar mereka.
Entahlah aku bingung dengan pola pikir mereka, padahal mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak yang harus lebih dipikirkan tapi sempat-sempatnya mereka berpikir tentang orang lain yang notabenenya juga sudah berkeluarga. Ditambah lagi mereka membicarakannya di hadapanku. Di hadapan anak yang belum cukup umur untuk memahami hal tersebut, namun seolah dipaksa untuk tetap mendengarnya. Dari situlah aku mulai membenci perkumpulan itu, teman-teman mamahku dan kadang juga mamahku bahkan hingga sekarang aku sudah memasuki usia yang dapat dibilang sudah sangat paham terkait dengan topik pembahasan mereka.
Terkadang aku berpikir bagaimana mereka bisa melahirkan generasi muda yang peduli akan pendidikan dan bangsanya jika sang ibu dari generasi muda itu pun tidak memiliki wacana yang jelas untuk ke depannya. Mungkin berkumpul bersama dengan teman dan membicarakan topik obrolan yang ringan memang sangat diperlukan, namun jika topik obrolannya sama sekali tidak membawa manfaat dan justru membuat sakit hati anak yang mendengarnya bukankah hal tersebut seharusnya dihentikan.
Beberapa kali rasa takut pun menghinggapi diriku. Rasa takut akan masa yang akan datang. Rasa takut yang kemudian memunculkan pertanyaan apakah di masa yang akan datang aku juga akan seperti mereka? Membicarakan sesuatu yang tidak berguna dan tidak mempedulikan perasaan seorang anak.
Aku sungguh merasa iri dan insecure jika melihat seorang wanita yang bisa membagi waktunya untuk keluarga, karir, dan pendidikannya serta pendidikan anak-anaknya sehingga mereka tidak memiliki waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk berkumpul tak jelas bersama teman-teman.
Tapi bisakah aku menjadi seperti wanita tersebut padahal sudah sejak kecil aku dilibatkan dalam perkumpulan tak jelas ini? Usia yang seharusnya tidak mendengarkan penuturan tak mengenakkan. Usia di mana seharusnya masih bermain dengan bahagia namun sudah mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di depan.
Dan di sinilah aku, kembali berada di tempat itu saat usiaku sudah cukup untuk dibilang paham akan segala hal di depan mata. Sebenarnya saat itu aku merasa sangat malas untuk mengantar mamahku ke sana. Tak lain karena aku sedang mengerjakan tugas-tugas kuliah yang begitu banyak. Tapi mamahku memaksa dan akhirnya aku menurut saja, meskipun dengan perasaan setengah-setengah. Entah mengapa, aku juga bingung, rasanya malas sekali pergi ke sana. Seolah aku memang dicegah untuk tidak datang ke tempat itu.
Sesampainya di sana, seperti biasa mamahku mengobrol dengan teman-teman lamanya. Aku pun sesekali tersenyum dan menanggapi jika ada yang bertanya padaku. Ya, meskipun itu hanya senyum palsu saja, tapi mau tak mau aku tetap harus bersikap sopan. Waktu berlalu dan aku mulai bosan. Bosan mendengarkan ocehan mereka yang seolah tak bosan membicarakan hal yang sama ketika bertemu.
“Apa tidak ada bahasan lain yang lebih penting?” itulah yang selalu aku pikirkan. Namun aku tetap diam saja, tak berkomentar apa-apa. Hingga pada satu titik mereka mulai heboh di saat pembahasan mereka seolah sudah asyik-asyiknya. Yaitu saat di mana mamah mulai mengungkit masa lalu teman-temannya yang tidak jadi menikah dengan mantan pacarnya. Dan begitu juga dengan teman-teman yang lain, mereka mulai membahas tentang mantan pacar mamahku.
Saat itu aku mulai berharap mamahku akan diam saja tidak menanggapi ucapan mereka. Namun yang kudapati yaitu mamahku mulai membahas mantan pacarnya. Ditambah lagi dia mulai membicarakan informasi terbaru tentang mantan pacarnya. Sontak teman-teman mamah heboh, mereka menduga bahwa mamah masih memiliki hubungan dengan mantan pacarnya.
Karena sudah jengah dan malas mendengar hal tersebut, aku mengajak mamah pulang. Namun seolah perkataanku tak ada yang mendengar. Mereka masih asyik membahas topik pembicaraan mereka. Saat itu dadaku terasa sakit. Sakit yang teramat sangat. Mamah, orang yang paling aku hormati lagi-lagi membahas pria lain selain papahku. Bagaimana hal itu tidak membuatku sakit sebagai anaknya. Karena sudah terlalu marah, akhirnya aku memukul meja yang ada di hadapanku. Berharap mereka berhenti.
Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku, bersiap meluncur ke pipi. Aku keluar dari kafe tersebut. Berdiri sebentar di depan pintu masuk dengan air mata yang sudah mengucur deras. Aku melihat ke atas untuk menahan air mataku turun. Namun hujan yang kala itu turun dan membasahi wajahku seolah berkata, “Menangislah, aku akan menutupi tangismu dengan tetesanku, hingga tidak ada seorang pun yang tahu bahwa kau tengah menangis.”
***
Aku melihat gadis itu berjalan ke luar kafe ini. Ia berdiam sebentar di sana, di depan pintu masuk kafe itu. Aku masih memperhatikannya saat ia mulai menyalakan mobilnya dan bersiap pergi dari sana. Namun seolah masih ada yang dipikirkannya, ia mematikan mesin mobil tersebut dan bersandar di kepala jok mobil yang tengah didudukinya.
Matanya yang basah terpejam beberapa saat hingga kulihat ibunya memasuki mobil tersebut dan mereka berlalu dari pandanganku. Aku terdiam sejenak, disusul dengan hembusan napas panjang. Apa yang aku lihat baru saja seolah juga membuatku ikut merasakan beban yang gadis itu emban. Mengingat pembicaraan mereka sungguh membuatku tak nyaman.
Sekarang aku paham kenapa gadis itu merasa seolah ingin pergi dari sana. Pun jika aku jadi dia sudah pasti aku pergi dari sana saat itu juga, atau bila perlu kubanting saja meja di depan mereka. Entah apa yang akan mereka pikirkan nantinya, toh mereka juga tidak memikirkan perasaanku di sini. Tak masalah mereka akan memandangku aneh, asalkan kemarahanku terlampiaskan. Tapi sekali lagi gadis itu bukanlah aku, dia mungkin masih bisa berpikir jernih dan memilih untuk mengeluarkan emosinya lewat tetesan air matanya.
Dari kejadian ini aku berpikir bahwa jika kita sudah menikah apalagi mempunyai anak maka, jangan sekali-kali membahas mengenai mantan pacar di hadapan anak jika bukan anak sendiri yang meminta kita untuk membahasnya. Karena ya seperti yang aku lihat tadi pembicaraan mengenai mantan pacar akan menimbulkan perasaan sakit yang teramat sangat di hati seorang anak. Dan rasa sakit itu akan selalu membekas di sana, atau paling parahnya lagi bisa menjadi trauma yang sulit untuk disembuhkan. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 18 Juni 2023
Cerpenis
Novela Shinta S.
Hobi menonton film dan drama. juga hobi membaca dan menulis cerpen. Ia dapat disapa di akun Instagram: @novela.shntsftr_
Testimoni Novela Shinta S.
Selasa, 20 Juni 2023
Hadirnya @cerpen_sastra saya yakin merupakan suatu hal luar biasa bak hadiah bagi para penulis cerpen. Saya sendiri baru mengetahui @cerpen_sastra belum ada satu bulan. Awalnya saya tertarik untuk ikut tak lain karena mengejar hadiah, namun setelah dua kali hanya masuk nominasi, akhirnya saya memutuskan untuk menulis hanya karena saya suka dan mencoba menutup mata dari hadiah yang ada.
Dan di saat hal ini saya lakukan, karya saya justru menjadi karya terpilih dalam sayembara cerpen di Minggu ini. Tentu saya sangat bersyukur dengan hal tersebut. Besar harapan saya agar @cerpen_sastra bisa berkembang menjadi lebih baik lagi dan mampu mempublikasikan karya-karya anak bangsa yang luar biasa.
Di samping itu, saya juga berharap @cerpen_sastra mampu menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin menjaring para penulis dengan karya-karya hebatnya sehingga para penulis cerpen akan selalu memiliki wadah untuk karya-karyanya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak kepada @cerpen_sastra.

