Site icon cerpensastragrup

Hujan di Sudut Toko Buku (Cerpen Nie)

Sumber Ilustrasi: Pexels/Pixabay.

Hujan pertama yang kuingat adalah menemukanmu membaca buku-buku menyeramkan, yang harus memiliki mental sekuat rahasia orang-orang dengan negeri di tangannya. Buku-buku itu di sudut. Gelap, mencekam, lembap oleh kesedihan yang dibungkam. Namun, kau di sana. Kacamatamu mengembun, tetapi tatapanmu penuh yakin ketika bertaut denganku.
***
Di tengah hujan yang masih senang mencumbu tanah dan aromanya yang candu, aku mengikutimu duduk di sudut. Saat itu hampir seperti bersembunyi, dengan bohlam kuning temaram, dan kau kebingungan ketika aku mendorong dadamu agar tidak menonjol.

“Ini waktu-waktu yang membuat orang lebih ingin menutup pintu dan segalanya.” Napasku tertahan. Kau melepas kacamatamu. Lagi-lagi, kau mencolok. Lesung pipi dan tatapanmu, seperti surat dengan prangko yang amat ditunggu kedatangannya. Itulah yang memenuhi rongga tubuhku.

“Aku bisa menjaga nama toko buku ini, Nona,” katanya, memberi pembatas buku sebagai jeda yang tiba-tiba, “seandainya aku tertangkap. Kau hanya perlu menyimpan buku-buku ini dengan segala yang kau bisa. Merekalah arti toko buku.”

Tatapannya luwes. Seolah kami adalah rekan lama. Hujan yang mulai berhenti menggebu membuat debar jantungku kacau. Dan sekaligus membuat kepalaku terbakar.

“Itu yang dikatakan para pelanggan rekan toko buku lain,” kataku dengan pertahanan tubuh yang bergetar.

“Pada akhirnya, yang tersisa adalah toko buku hiburan rakyat kegemaran para penguasa. Tidak memberi makna. Tidak menyirat kebebasan. Tidak menjual kecerdasan.” Aku memalingkan wajah. Racauan berita di koran terputar dalam kepala. Diam-diam menghormati yang gugur sebelum mekar. Mengutuk mereka yang mencuri raga untuk memanjangkan umur dosa.

Tubuhku kembali tertuju padamu. Kau menimbang-nimbang buku disampul transparan, serupa buku lain di tempat ini. Namun, sedikit lebih redup.

“Kau juga dengan berani masih menaruh buku ini di rakmu.” Suaramu merendah, merambat dengan irama yang terasa lambat di telingaku.

“Itu sudah ada sejak sebelum ayahku tiada. Ah, beliau benar-benar tiada karena—“

“Demam tinggi. Ya. Itu bukan semata omongan belaka. Beliau orang yang berani dan cerdik.” Mataku memicing.

Laki-laki ini mengetahuinya terlalu jauh sebagai seorang pelanggan.

“Apa hubunganmu dengan ayahku?”

Ia menghela napas. Bibirnya sedikit melebar. Ia memegang bahuku, kami beranjak bersama perlahan. Sesungguhnya, aku tak benar-benar memiliki tenaga untuk menghadapinya. Sudah cukup lama sejak sudut buku ini kehilangan peminat. Siapa pula yang minat dengan kematian muda? Namun, ayah tak pernah memindahkannya.

“Mereka adalah nyawa toko buku ini.”

Suara yang menggema dalam kepalaku secara bersamaan terucap oleh laki-laki itu. Napasku terasa sulit. Tungkaiku mundur beberapa langkah. Tiba-tiba tangannya menarik lenganku.

“Aku mendengar bel pintumu bergerincing.” Hangat napasnya menerpa. Perutku bergolak tak nyaman, merinding sebab banyak hal. Hujan yang usai, seseorang memasuki toko buku dan kemunculan laki-laki ini.

“Keluarlah. Dan ini. Bersih.” Ia memberi selembar sapu tangan. Menunjuk ke arah dahi dan pelipisku yang basah. Tangannya mendorongku perlahan. Langkahku mulai menjauh sembari menyeka basah di wajahku. Aku menoleh sesekali. Ia tampak menyelipkan sesuatu ke dalam buku itu, lalu menaruhnya kembali di rak.

Tatapan kami bertemu lagi. Lesung di pipi kanannya begitu dalam. Gegas aku memalingkan wajah dan kembali ke meja sirkulasi. Ia berjalan keluar, melirikku sekali. Terasa intens. Kemejanya kotak-kotak maroon dan hitam. Resleting jaketnya terbuka bebas. Sama sekali tidak ada usaha untuk menutupi sesuatu yang membahayakannya. Itulah hujan yang membekas pertama kali. Cuaca kembali tak menentu. Serupa koran-koran recehan yang beterbangan, mencekok warga dengan dosis tinggi, menumpuk luka yang membusuk oleh tangan para pengendali negara.

Pagi itu, sinar matahari terasa menyengat. Entah mungkin modifikasi cuaca, sebab beberapa bulan belakangan, tak ada berita toko buku yang memikat penguasa. Arsip kepulangan mereka yang tertunda lama tak bertambah. Sementara di sini mulai ramai pembaca. Beberapa mengambil tanpa beban. Lainnya mengintip hati-hati koran yang berdebu di sudut. Menunjukkan dua hal yang seringnya beriringan; para warga sebenarnya menyukai gagasan, dan menghindar dari rasa keinginan dengan dompet yang sulit diisi. Alih-alih semakin menyilaukan, langit justru diselimuti oleh rintik-rintik kesunyian.

Ia semakin banyak, sekaligus mengosongkan toko buku ini.

Langkahku perlahan mengelilingi rak, mengembalikan buku-buku yang usai tak usai dibaca, dan tertahan lagi di sudut itu. Tatapanku berhenti pada buku terakhir yang ia sentuh. Ingatan tentang kertas yang terselip di sana menggelitikku. Dan hujan itu menjadi yang kedua, ketika tanganmu menyentuh bahuku, membangkitkan memoar yang mengendap, membuat bahuku terlonjak. Seketika aku berbalik dengan napas tertahan. Hujan terdengar lebih banyak. Dan senyum beserta tatapanmu amat penuh.

“Apa Nona ini sudah berani seperti ayahnya?” Tangannya hendak meraih buku itu. Namun, bersamaan dengan rasa panas yang meledak, alis mengerut, aku mencengkeram tangannya.

“Di pihak mana kau berada?” Dengan segala usaha meruntuhkan rasa takut, aku menatapnya dalam. Sudut bibirnya tertarik lagi. Ia melepas cengkeramanku perlahan. Buku itu pun kembali dalam genggamannya. Ia menyenderkan punggungnya, menguasai sudut temaram itu dan mengambil beberapa—tidak, cukup banyak carik-carik kertas yang berpencar dalam buku itu. Ada satu paragraf penuh tentang program penguasa yang sia-sia sekaligus menguntungkan. Lainnya berupa daftar nama-nama pemain kotor, analisis strategi-strategi yang digunakan melahap hak warga, kisah tentang hewan-hewan yang menjadi raja.

“Aku ada di pihakmu.” Seketika, fokusku buyar, tubuhku menjauh dari bisiknya yang menggetarkan. Ia menarik tanganku lembut hingga kami duduk berhadapan. Tangannya membersihkan kacamata dengan selembar tisu dari saku. Ia lantas memakainya kembali, seketika menatapku dalam. Aku tertegun dan kembali pada kertas-kertas itu.

Suara bisiknya memenuhi udara di antara kami. Menyadarkanku betapa kami begitu rapat, seperti kasus-kasus penguasa yang sukar ditembus. Tangannya bergerak bebas tatkala menjelaskan apa yang ia baca di sudut temaram itu. Matanya melebar setiap aku menanggapinya. Aku menerawangnya jauh. Lama-kelamaan, sorot mata, kata-kata, gerakan tangan, dan senyum sinisnya ketika mengetahui kebenaran-kebenaran mulai membekas di kepalaku.

“Apakah kau pernah bertemu dengan ayahku?” Aku sadar telah melempar pertanyaan itu di tengah jeda. Segalanya, bahkan semangatnya, seakan ada ayah di dalam dirinya. Semangat bahwa negara ini bisa seutuhnya kembali di tangan rakyat lagi. Negara ada sesuai kebutuhan rakyatnya, bukan semata nafsu sepihak lainnya.

Aku memeluk lutut sementara lesung pipinya tampak ketika ia mengulum bibir. Ia menyenderkan punggung.

“Sudah lama aku mengunjungi toko buku ini. Sebelum kamu ada di sini sepenuhnya. Sebelum ayahmu sakit.”

Mendengarnya, memori-memori mulai berkelebat. Ibu sampai menangisi ayah malam itu. Panas ayah tinggi. Namun, ia malah duduk diam di meja sirkulasi ketika malam larut dan toko buku telah tutup. Matanya terfokus pada secarik kertas. Aku melihat mereka di ambang pintu. Dua pertanyaan membumbung di kepala; mengapa ayah keras kepala? Dan apakah toko buku kami melakukan kesalahan?

“Saat itu kepalaku panas. Kelakuan ayahku dan teman-temannya kurang ajar. Aku tak sudi berada di rumah kotor hasil ia menginjak rakyat.” Lamunanku pecah. Ia membetulkan posisi, melihat ke sana kemari. Hujan kedua itu hampir mereda. Seolah memberi tahu waktu kami tinggal sejengkal.

“Kau pasti mengetahuinya. Musim mencekam ketika itu amat lebat. Namun, ayahmu membahasnya dengan berani.
Katanya, keberanian bisa kalah jika tidak dirawat dengan tekad.”

Bibirnya melebar. Seolah ada ayah di matanya. Buku itu digenggamnya, beserta carik-carik kertas itu.

“Dan sampailah aku di sini. Masih merawat keberanian itu. Hingga kau menemukanku.” Ia menunjukkan buku itu dengan senyum penuh. Tatapannya seakan menyelimutiku. Dan terasa yakin. Seperti ayah.

Aku baru paham ketika tahu ada buku-buku itu. Aku protes, meminta ayah menyingkirkan itu. Namun, ia menggeleng lembut, bahkan tersenyum.

“Pasti masih ada seorang pemberani.”

Hujan benar-benar selesai. Kau menyentuh lenganku dan kami beranjak bersama. Suaramu menggelitik, menyuruhku pergi lebih dulu. Dan aku terpaku pada lesungmu sebelum kau pergi dari toko buku.

Pertemuan itu terpatri begitu lama. Dan rasanya membuatku gemetar tak keruan tatkala mendengar ada seseorang yang dibawa pergi lagi. Wajahnya memenuhi pikiranku, suaranya menguasai runguku. Sampai hujan ketiga, tukang pos datang dengan setengah kuyup. Tak ada nama pengirim. Namun, dari tulisannya yang menulis nama toko buku ini membuat
napasku tertahan.

‘Sangat menyenangkan berbagi hujan dan pemikiran-pemikiran yang dibenci denganmu. Aku berharap kau baik-baik saja. Terima kasih karena sudah berani menjaga buku-buku itu, amanat dari ayahmu. Aku beruntung bisa bertemu dengan putrinya.’

Aku mengernyitkan dahi. Membolak-balikkan surat itu. Tak ada tulisan yang menjelaskan keadaannya. Dan hujan semakin deras. Sesuatu memberatkan pelupuk mata.

Waktu pun beterbangan. Selama itu aku mulai mengetikkan tulisannya yang terselip pada buku-buku. Antara ingin mengabadikan gagasannya dan tubuhku yang menolak lupa sewaktu kami duduk bersama. Dan toko bukuku masih beroperasi.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 24 Mei 2026.

Tentang Cerpenis
Nie

Sedang berusaha giat berkelana lagi dan menghidupkan hobinya. IG: @eilnsya

Testimoni Nie

Jika cerpen saya sebelumnya terinspirasi dari ketukan nada lagu, kali ini ia datang dari visual seorang seniman modern. Sebenarnya, saya tak yakin niat apa yang menyertai cerpen “Hujan di Sudut Toko Buku” ini, dan salah satu cerpen yang sudah lolos di sini pun ikut andil dalam imaji saya. Hanya saja, saya mencoba menonjolkan diksi, emosi, dan atmosfer; bagaimana sebuah perasaan bisa bernapas dalam keadaan di mana kebebasan dan harapan hampir tak memiliki bayang-bayang.

Terima kasih Cerpen Sastra atas kesempatannya sekali lagi. Semoga selalu menjadi wadah sastra yang luas dan eksploratif.

Exit mobile version