Malam begitu pekat. Kabut turun membawa hawa dingin yang menyelimuti tubuh Karmin. Pria itu terus berjalan mengendap-endap dengan sebuntal beras kuning dan beberapa koin di tangannya. Dilihatnya tiga orang penjaga yang sedang mengobrol sambil menyeruput kopi di sisi kuburan milik mayat yang belum lama disemayamkan.
…
Di balik rimbun pohon beringin, Karmin menyelinap mencari tempat sembunyi. Peluhnya bercucuran meski ia sudah melakukan ritual itu berkali-kali. Karmin menunggu, sampai kopi para penjaga kuburan yang masih baru itu tandas barulah dengan fasihnya, ia merapal mantra aji sirep begananda(1).
Seusai merapal mantra, ia tebarkan beras kuning dan beberapa koin ke empat penjuru mata angin. Dan terakhir, ia tiupkan segenggam beras itu ke arah para penjaga kuburan. Tanpa menunggu lama, ketiga orang itu limbung, ambruk, dan tertidur disertai mimpi panjang.
Perlahan, ia dekati gundukan tanah merah beraroma bunga setaman itu. Dengan tangan-tangannya, ia cepat-cepat menggali tanah kuburan yang masih gembur itu. Ia ingat betul, mayat ini meninggal tepat pada Jumat Kliwon, baru lusa kemarin. Ditambah gerimis yang datang mengguyur tanah, memudahkannya untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Setelah si mayat terlihat, diendusnya kain kafan itu. Ia gigit tali pengikat seluruh badan si mayat hingga terlepas. Lalu ia segera naik dan meninggalkan tanah pekuburan begitu saja.
Menjelang pukul tiga dini hari, salah seorang penjaga kuburan itu terbangun. Ia terperanjat melihat kuburan di sampingnya terbongkar menganga. Tak percaya dengan apa yang terjadi, ia membangunkan kedua kawannya yang masih terbuai mimpi.
“Kang! Bangun, Kang!” ujarnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh kedua kawannya. Tak mendapat respon dari keduanya, ditambah suasana pekuburan yang berkabut membuat Hadi panik dan semakin keras membangunkan Yono dan Tarmin.
“Kang! Kita kecolongan, Kang! Kita kecolongan!” Hadi mengguncang tubuh kawannya lebih keras lagi. Barulah saat itu, Yono dan Tarmin mulai membuka mata. Seketika mereka terbelalak.
“Heh, apa katamu? Bisa-bisanya kalian ini tidur. Lalu ini perbuatan siapa? Kok bisa kecolongan?” tanya Yono dengan kebingungan.
“Ndak tahu, Kang, semua terjadi begitu saja,” pungkas Hadi.
Kejadian itu menggegerkan seantero kampung, sudah lama tak ada desas-desus tentang pencurian mayat atau sejenisnya. Kini berita kecolongan itu membuat was-was seluruh warga kampung. Semua tak mengira kejadian itu terulang kembali. Tak bisa menuntut, keluarga si mayat hanya bisa pasrah dan meminta warga desa kembali memakamkan si mayat dengan layak.
Di sisi lain, Karmin seolah mendapat kemenangan. Ia selipkan tali pocong si mayat itu di kotak khusus dan ia simpan di dalam lemarinya. Tak menunggu waktu lama, usaha yang dimiliki Karmin kian melejit. Puluhan truk pengangkut pasir terlihat hilir-mudik, sebentar singgah di rumahnya, lantas pergi dan disusul truk-truk lainnya.
Karmin merasakan nikmatnya menjadi orang kaya. Rumahnya makin bagus dan duitnya bagai keran terbuka, mengalir dan tak habis-habis tujuh turunan. Bahkan, ia sempat membangun beberapa kios untuk disewakan menjadi pertokoan. Ia juga membeli petak-petak sawah untuk investasi.
Tak ada yang menaruh curiga padanya, warga kampung menganggapnya ketiban warisan. Orang tuanya dulu memang berasal dari kalangan berada. Jadi mereka menganggap, kekayaan Karmin pun tinggalan dari orang tuanya dahulu. Beberapa warga pun juga banyak yang menyewa kios Karmin untuk berdagang.
Hidup bergelimang harta memang menyenangkan. Segala keinginan anak istri terpenuhi. Tak perlu risau memikirkan makan dan kebutuhan lainnya. Bisnisnya semakin berkembang. Selain bisnis pasir, ia juga mendirikan usaha jual-beli hasil bumi dan toko bangunan.
Sampai ketika hari itu dikehendak, Karmin didatangi Nyi Sekar Melati, ditagih janjinya. Perjanjian dengan Nyi Sekar Melati pun terbayang-bayang di kepalanya. Kerap kali ia bermimpi bertemu dengan sosok yang terus meminta jiwa. Namun, mimpi itu hanya dianggapnya bunga tidur saja. Ia abai akan semua kesepakatannya dulu dengan Nyi Sekar Melati. Dengan santainya, esoknya ia kembali menghitung duit dan berleha- leha di kursi penyetoran.
Untuk kesekian kalinya, Nyi Sekar Melati mendatanginya dalam mimpi. Kali ini tidak main-main. Ia membawa pasukannya yang siap mengambil jiwanya kapan saja, bahkan saat itu juga sebab sudah tiga purnama ia tak menyerahkan tumbal nyawa.
“Akan aku menjemputmu, Karmin, tunggu saat malam Anggara Kasih(2),” suara itu berbisik di telinganya.
Seketika Karmin terbangun dengan peluh bercucuran. Istrinya yang terkaget lantas memberinya air minum.
“Tolong, tolong selamatkan jiwaku! Tolong!” ucapnya dengan nada gugup.
“Kau ini kenapa, Yah?” tanya istrinya yang tak tahu-menahu soal mimpi Karmin dan perjanjiannya dengan Nyi Sekar Melati.
“Tolong! Jika aku meninggal, cari orang suruhan untuk menjaga kuburanku. Nyi Sekar Melati akan membawaku pergi, pesugihan itu, pesugihan itu,” ucapnya terbata-bata.
Bagai disambar petir, sontak istrinya kaget. Tiba-tiba suaminya berbicara tentang kematian. Ia baru tahu jika selama ini suaminya menjalin hubungan dengan makhluk halus demi mendapatkan kekayaan duniawi. Tak mengira suaminya telah bertindak serong selama ini. Ia tak bisa berkata-kata. Apa boleh buat, kekayaan yang dimilikinya selama ini hanyalah seucap janji yang pada suatu saat akan ditagih. Ia menangis sejadi-jadinya.
Benar saja, tepat malam Anggara Kasih, Karmin dijemput oleh Nyi Sekar Melati. Ia meninggal, mengenaskan. Istrinya yang mengetahui semua rahasia, menutup mulut tentang apa yang menimpa suaminya. Sesuai pesan suaminya, ia mencarikan orang suruhan untuk menjaga kuburan suaminya, dan orang suruhan itu tak lain adalah tiga sekawan yang dulunya disirep Karmin sewaktu ia mencuri tali pocong dari mayat baru yang meninggal tepat di hari Jumat Kliwon.
Tak ada tanda-tanda yang mencurigakan selama mereka bertiga menunggu kuburan Karmin. Tak ada sirep, tak ada harimau. Konon, harimau akan datang membawa tubuh si mayat yang meninggal pada malam Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon. Namun, ia juga tak menampakkan kemunculannya. Di malam terakhir, Tarmin mendengar lolongan anjing, bersahut-sahutan tak ada hentinya sampai menjelang subuh.
Tapi tidak dengan Hadi dan Yono, keduanya bahkan tak mendengar suara itu. Mereka menganggap Tarmin sedang mengada-ada.
Usai kematian Karmin, kehidupan kampung kembali berjalan seperti biasanya. Hadi, Yono, dan Tarmin pun bebas dari tugas menunggui kuburan Karmin. Mereka melanjutkan pekerjaan normalnya sebagai petani. Namun, kejadian aneh menimpa diri Tarmin.
Tak disangka, selepas pulang dari ladang jagung menjelang magrib, ia bertemu Mbah’e(3). Harimau itu berjalan menuju ke arahnya. Sontak saja hal itu membuat Tarmin terkejut bukan kepalang. Jantungnya berdegup kencang. Lututnya gemetaran hingga tak mampu berjalan.
Harimau itu sendiri seperti tak peduli dengan keberadaan Tarmin. Dengan santai harimau itu melintas tepat di samping Tarmin. Bahkan badannya sempat saling bersenggolan dengan kaki Tarmin, karena jalan yang dilalui cukup sempit. Dan yang tak kalah mengejutkan dan membuat nafasnya terasa berhenti, adalah ketika melihat sesosok mayat yang masih lengkap dengan kain kafannya dibawa binatang buas itu.
Aroma busuk dari mayat itu pun menyeruak dan menusuk hidung Tarmin hingga membuat dadanya sesak. Tarmin berdiri mematung sambil lututnya terus gemetaran. Lantas harimau itu menghilang di balik pepohonan jagung. Masih ingat betul itu adalah mayat si Karmin.
Setelah menenangkan diri, Tarmin bergegas pulang. Masih dengan tubuh gemetar dan kaku, sesampainya di rumah, ia tumbang dan pingsan. Istrinya yang melihat kondisi suaminya segera meminta tolong kepada tetangga untuk membopong Tarmin ke Puskesmas Rawat Inap.
Malamnya, Tarmin tersadar dan berteriak, “Gondolayu!(4) Gondolayu!” kepada istrinya. Ia coba ceritakan sosok harimau yang dilihatnya di kebun jagung petang tadi. Sang istri terheran-heran mendengarkan cerita itu.
Antara percaya dan tidak, pikirannya bertanya- tanya: apa yang sedang terjadi dengan suaminya? Namun, selang beberapa waktu, tubuh Tarmin tak bisa digerakkan. Mulutnya tak bisa lagi mengucap sepatah kata pun. Lantas ia dipindahkan ke Rumah Sakit yang lebih besar di Kota.
Dari hasil pemeriksaan dokter, terjadi pecah pembuluh darah ke otak yang diduga terdapat aliran darah yang tiba-tiba begitu kuat. Rasa terkejut sekaligus takut membuat jantung Tarmin berdebar hebat. Sementara pembuluh darahnya yang kurang baik menyebabkannya pecah hingga berujung stroke. Dua hari Tarmin mendapat perawatan di rumah sakit, tak ada tanda-tanda pulih. Bahkan tak hanya stroke, kondisi kesehatan Tarmin juga ikut menurun sampai akhirnya menghembuskan napas terakhir di ruang ICU.(*)
(1) Aji Sirep Begananda adalah sebuah ilmu gaib kanuragan khas Jawa yang berguna untuk menyirep atau menidurkan orang secara massal.
(2) Anggara Kasih, atau Selasa Kliwon, yang memiliki makna “malam penuh kasih sayang”. Dianggap penting dan sakral dalam kehidupan masyarakat Jawa. Selama malam ini, banyak orang melaksanakan ritual atau upacara.
(3) Julukan khas dan penuh hormat dari orang Jawa untuk menyebut harimau atau macan.
(4) Gondolayu berasal dari bahasa Jawa, gondol yang artinya membawa pergi, serta layu yang artinya kabar duka yang bisa dianalogikan dengan orang meninggal atau mayat.
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 1 September 2024.
Tentang Cerpenis
Eka Prasiptya Ayu Saputri
Sedang melanjutkan studi Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Lahir di Wonogiri, bertepatan dengan tanggal lahir Hafsah, istri Chairil Anwar. Ia belajar di Komunitas Susastra KMSI UNY. Ia juga mendapat mandat menjadi vokalis hadrah di kelompok muda-mudi di kampungnya. Dapat dihubungi melalui IG @ekaprsty_ayu.
Testimoni Eka Prasiptya Ayu Saputri
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Cerpen Sastra, yang telah menyediakan ruang bagi para penulis sehingga para penulis seperti saya dapat menyalurkan ide-ide yang menarik dan bahkan di luar nalar. Dengan adanya Cerpen Sastra ini, semoga makin banyak anak-anak muda yang mau berkecimpung dan menyalurkan ide-idenya di dunia kepenulisan, khususnya sastra. Tak lupa, saya juga mengucapkan terima kasih kepada Komunitas Susastra KMSI UNY (@susastrakmsi) yang menjadi ruang belajar saya selama berkuliah, sukses selalu.
Menulis adalah jalan kehidupan, begitu menurut saya. Jadikan pengalaman sebagai napas kehidupan melalui tulisan. Meskipun saya bukanlah sastrawan sejati, namun saya menulis agar tetap hidup. Sekali lagi, terima kasih untuk Cerpen Sastra, Bang Horas, yang telah memberikan kesempatan kepada cerpen saya untuk dimuat di media @cerpen_sastra. Sukses selau, berkah selalu. Terima kasih banyak atas kesempatannya.

