Nama aslinya Imam Akramul Karim. Tapi orang-orang memanggilnya Glontho, lengkapnya Glontho Beger. Sewaktu kecil ia hidup menggelandang dari satu pasar ke pasar yang lain. Orang-orang di seluruh pasar kecamatan ini tahu belaka siapa Glontho, siapa yang tak kenal Glontho Anak yatim piatu berbadan bongsor dan kumal dengan wajah tolol, ia sering kali dijuluki bocah nol karena perilaku dan perangainya yang memang tolol. Kelebihan Glontho hanya satu, kalau boleh ini disebut sebagai kelebihan; ia setia kawan. Ia tidak pernah sekalipun meninggalkan kawannya, bahkan ketika kawannya tertangkap basah mencuri ayam dan dihajar massa, Glontho tetap bergeming di tempatnya, bahkan dengan tololnya malahan mendekati temannya yang sedang dihajar dan ia pun akhirnya ikut babak belur dihajar massa. Dengan badannya yang besar dan wajahnya mirip orang idiot, ia dengan cepat segera ditakuti sekaligus dikasihani oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya.
…
Saat beranjak dewasa, Glontho telah menguasai lahan parkir di seluruh Dukuh Eblek, setiap ada acara apa pun dia yang akan menjadi koordinator tukang parkir, dia yang akan menjadi ketua tukang parkir, dan dia pula yang akan menarik uang tiket masuk dalam berbagai acara yang diadakan di Dukuh Eblek.
Pada suatu hari salah seorang kawannya yang dulu ketangkap basah mencuri ayam, kini mengajaknya merampok rumah orang kaya. Singkat cerita mereka berdua berhasil masuk dan menerobos keamanan perumahan elit itu. Saat hampir berhasil membawa segala harta benda dari dalam rumah itu keluar, naas Glontho dan kawannya ketahuan dan tertangkap basah oleh sang pemilik rumah, seorang ibu muda. Karena panik sang kawan ini langsung membekap mulut ibu muda itu, dan tanpa disengaja membuat si ibu muda kehabisan napas dan tewas. Memang dasar pikiran dan hati sudah dikuasai oleh setan dan iblis dari dasar, neraka syahwat si kawan naik ketika melihat kemolekan jasad ibu muda yang tergeletak di hadapannya. Ia kemudian menyetubuhi tubuh ibu muda itu yang sudah menjadi mayat, sedangkan Glontho melihat kejadian itu hanya bisa diam dan melongo seperti orang lengob tanpa melakukan apa pun.
Keesokan harinya, berita tentang perampokan di sebuah rumah elit dan menewaskan istri seorang tentara heboh, rumah yang semalam mereka rampok rupanya rumah seorang tentara yang menjadi pasukan khusus. Maka semenjak saat itu, Glontho dan kawannya bersepakat berpisah untuk menyelamatkan diri masing-masing dan mereka kemudian menjadi buronan yang paling dicari. Baru seminggu dalam pelarian, Glontho kemudian mendapatkan kabar jika kawannya itu tewas dengan cara yang mengenaskan. Kepala dan biji pelirnya hilang. Menurut kabar, leher kawannya itu dijerat dengan tali rafia, dan setelah mati kepalanya dipenggal dan dimasukkan ke dalam kantung kresek hitam lalu kepala itu dibuang ke selokan di dekat SD. Hari selanjutnya kawannya bernama Sitam tewas di pinggir jalan dengan dada berlubang, hari selanjutnya lagi seorang kawan pedagang asongan bertato mawar berduri bernama Yasbari tewas dengan tengkuk bolong, lain hari lagi seorang kawan bernama Ishak dengan tato naga setengah jadi di kakinya tewas di tebing jurang, dengan selangkangan berlubang. Penembakan-penembakan itu terus terjadi dan menewaskan semua orang-orang yang dikenal Glontho. Dia dengan sekuat tenaga lari dari kejaran para pembantai. Dan kini ia sedang bersama Mad Nuri, sahabat karib satu-satunya yang tersisa.
Pertama kali Mad Nuri bertemu Glontho adalah saat Glontho tengah dirundung oleh anak-anak di pasar, Glontho dengan badan besar dan wajah setengah idiot ternyata tidak bisa membela dirinya sendiri, ia malah menjadi bulan-bulanan para perundungnya. Mad Nuri yang melihat itu entah kesambet setan mana tiba-tiba menghampiri anak-anak perundung itu dan membantu Glontho untuk melawan. Mad Nuri perlahan menghajar satu per satu para perundung itu, tapi Mad Nuri yang bertubuh ceking tentu saja kewalahan menghadapi mereka sendiri apalagi, Mad kalah jumlah. Glontho yang sedari tadi diam saja melihat Mad Nuri melawan perlahan terbangkitkan semangatnya, Glontho jadi ikut-ikutan melawan, dan akhirnya mereka berdua berhasil menghajar para bocah perundung itu meskipun wajah mereka sendiri babak belur.
Semenjak saat itu, mereka menjadi akrab dan menjadi sahabat baik, mereka bahkan memiliki kecintaan dan pengetahuan yang sama tentang ebeg (sebelum kemudian mereka ikut nyantri sebentar di Musala Baitul Arifin, dan diwulang oleh Mbah Kamid). Mad dan Glontho tidak terpisahkan, di mana ada Glontho di situ ada Mad, begitu sebaliknya. Bahkan mereka pernah mencari indang bersama, meskipun hanya Glontho yang berhasil. Mad menerima keidiotan Glontho, dan Glontho menerima segala omongan yang keluar dari mulut sengak Mad.
“Lalu sekarang apa rencanamu, Tho?”
“Aku tak memiliki rencana Mad, aku bingung.”
“Memang anak tolol, bocah nol. Diajak merampok mau saja.”
“Aku kira hanya akan diajak mencuri di warung kecil-kecilan saja.”
“Ngutil di rumah anggota? Tolol!!! Badan saja yang besar tapi otak seperti otak udang, malahan lebih mulia otak udang meskipun otaknya taik setidaknya ia terpakai, tidak macam dirimu.”
“Jadi boleh aku menumpang di rumahmu, Mad?”
“Memang siapa lagi yang mau menampungmu, heh? Ok untuk beberapa hari masih ok, tapi untuk hari selanjutnya kita mesti bergerak, aku tak mau membahayakan emak dan adikku.”
“Bergerak ke mana?”
“Ya ke mana saja bodoh, yang penting kita bergerak. Petrus tak akan berhenti sampai kau mati, mereka mengincar orang-orang bertato entah itu kriminal atau bukan, entah itu preman atau bukan dan aku tak yakin mereka akan berhenti meskipun kau mati. Dan lihatlah aku di sini menjadi orang celaka yang mendampingi orang idiot macam dirimu, asu!!!”
“Aku tak tahu jika efeknya akan sedahsyat ini.”
“Ah tidak, tidak. Itu bukan sepenuhnya karenamu, kau hanya pemantik kecil, nyatanya hati para pembantai itu saja yang memang sudah terlanjur busuk.”
“Busuk bagaimana?”
“Lah lihat saja, siapa yang penjahat dan siapa yang mati? Teman-teman kita memangnya mereka penjahat? Kriminal? Mereka itu hanya pemuda patah hati yang besar omong dan suka berbicara kotor, itu saja.”
“Lalu mengapa mereka ditembak?”
“Karena mereka bertato.”
“Aku juga bertato.”
“Makanya kau juga diincar, bukan karena tato biji bunga matahari yang ada di tanganmu, tapi kau saja yang bodoh mencuri di rumah seorang tentara, dan membunuh istrinya pula, tolol betul.”
“Aku tak membunuh istri anggota tentara itu.”
“Ya kau memang tak membunuhnya, tapi kau ikut dalam perampokan itu, bukan?”
Glontho hanya diam.
“Mad, sebelum aku mati didor, aku ada permintaan.”
“Apa?”
“Pertama bawalah jaketku ini, itu satu-satunya barang berhargaku, dan aku ingin memberikannya kepadamu sebagai hadiah, hadiah persahabatan kita,” kata Glontho sambil melepaskan jaket army berwarna abu-abu dari badannya dan memberikannya ke Mad.
“Tak usah repot-repot Tho, kaya mau ke mana saja,” Mad cengar-cengir, tapi hatinya sebenarnya terharu sambil menerima jaket itu.
“Kedua, aku ingin ke tempat orang tuaku dulu.”
“Loh katanya kau yatim piatu, tak memiliki orang tua.”
“Ya memang.”
“Lah terus maksudnya ke tempat orang tuamu?”
“Tempat apa harus mesti rumah?”
“Lalu?”
“Ke kuburan.”
“Taik, bilang saja mau ziarah brengsek.”
Glontho dan Mad bergegas pergi ke pemakaman di perbatasan desa, Dukuh Eblek dan Watu Ceger. Pemakaman itu begitu sunyi dan dingin. Pohon-pohon besar tumbuh menjulang menambah kesan kekelaman dan keangkerannya, padahal hari masih sore tapi puluhan pohon-pohon yang menutupi makam menjadikannya teduh mendekati gelap. Di tengah pemakaman itu, ada satu pohon beringin yang paling besar, itu adalah tempat ditemukannya ayah Mad dalam keadaan tergantung tak bernyawa. Glontho kemudian mencari-cari kijing bapak ibunya, ketemu. Sebuah makam dengan kijing kayu yang sudah lapuk dimakan usia, yang tersisa hanya cat samar-samar berwarna putih pada kijing yang bertuliskan nama bapak dan ibu Glontho, Nyai Jaleng & Kartomirin. Makam itu lumayan bersih, karena memang Glontho sering merawatnya.
Glontho membaca suratan pendek yang ia hafal sepotong-sepotong dari ingatan yang tersisa saat dulu ia masih gemar mengaji bersama Mad di Musala Baitul Arifin, dan Mad di sampingnya mengamini dengan khidmat. Setelah selesai kirim doa, tiba-tiba dari arah belakang mereka, terdengar suara letusan tembakan, Glontho dalam sekejap langsung tersungkur ke tanah makam kedua orang tuanya dan darah mengucur dari kepalanya yang tertembus peluru. Mad segera menyadari apa yang sedang terjadi, ia segera berlari menjauh dari makam, dan masuk makin dalam ke rerimbunan pohon di pemakaman. Ia ingat lagi kawan-kawannya yang mati belum lama ini, Sawon, Ishak, Sitam, Nurtaji, Yasbari, Jayadi, Daldiri, mereka semua tewas dengan batok kepala, ulu hati, dan jantung tertembus peluru. Mad Nuri lari sekencang-kencangnya mengenakan jaket army abu-abu pemberian sahabatnya, Mad sangat ketakutan sekaligus terbakar oleh amarahnya sendiri. (*)
Purbadana, 2024
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 7 Juli 2024.
Tentang Cerpenis
Juli Prasetya
Seorang penulis muda asal Banyumas. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. FB: Juli Prasetya Alkamzy, IG: @juliprasety4
Testimoni Juli Prasetya
Glontho Beger, cerpen saya yang minggu kemarin jadi juara itu adalah kiriman cerpen saya yang ke 33 kalinya ke cerpen_sastra (percaya syukur, tidak ya ngga masalah, pengarang mah bebas) jadi coba kalian bayangkan saya harus mengalami 32 penolakan terlebih dahulu untuk kemudian diterima dan dipilih sebagai pemenang. Tapi setidaknya saya mungkin lebih beruntung ketimbang Kolonel Aureliano Buendia yang tidak pernah menang dalam 32 pertempurannya. Jadi yang baru nembak satu dua kali eh maksudnya kirim satu dua cerpen terus ditolak, terus ngeluh, seakan dunia runtuh dan sedih berkepanjangan, ngga mau makan, merasa dunia ini tidak adil, bacalah ini.Berhubung saya penulis muda baik hati dan tidak sombong, maka saya ingin berbagi informasi bagaimana cara menembus meja redaksi cerpen_sastra. Saya tanya kepada Bang Horas (founder), kenapa cerpen saya itu menang? Setelah ia bilang kalau karya-karya nominator lainnya juga tak kalah keren. Dan tahu kalian apa jawabannya? “Rahasia dapur Mas” dengan emoticon senyum.
Tahu kalian apa arti rahasia dapur? Artinya penilaian itu sifatnya subjektif, selera juri (meskipun 10 hal penilaian karya itu juga termasuk). Jadi karya kalian bukannya tidak bagus, cuma jelek aja eh maaf maksudnya cuma belum ketemu nasibnya saja, belum ketemu sama pembaca yang sefrekuensi dengan karya itu. Jadi jangan berhenti mencoba, berkecil hati, dan minder. Konsisten bermuka tembok dan kepala batulah terus (dibarengi kualitas karya tentu saja). Karena saya meyakini bahwa setiap karya ada pembacanya.
Cerpen_sastra bagaimana pun kecil dan sederhananya, ia adalah media alternatif yang benar-benar mengejawantahkan salah satu pandangan dari mantan kekasih saya Yuna Lestari (Im Yoona SNSD) berkait tentang cerpen. Katanya cerpen adalah suatu karangan yang habis dibaca dalam sekali rebahan dan gegoleran. Saya sedikit banyak mengamini pandangan mantan kekasih saya itu. Betapa tidak, dengan hanya menggeser jari di feed Instagram sebanyak sembilan kali (sambil rebahan atau tiduran) kalian sudah bisa membaca cerpen tanpa tumpukan iklan. Cerpen bagus lagi, seperti Glontho Beger itu. Hal ini tentu saja patut kita rayakan bersama. Selamat membaca, teruslah berproses.

