Site icon cerpensastragrup

Gantung (Cerpen Endang S. Sulistiya)

Sumber ilustrasi: read.id via balipuspanews.com.

Taraka, wartawan magang di sebuah koran lokal, bak memperoleh durian runtuh. Di saat ia tengah buntu ide liputan, datang malaikat penolong memberikan sumber berita.
…

Dengan sepeda motor tuanya, Taraka menuju tempat kejadian perkara. Ia menggebu-gebu meliput tragedi yang membuat heboh seantero Kecamatan Gaharu. Namun harapan besar Taraka patah seketika. Sesampainya di lokasi, kasus telah resmi ditutup. Dalam rilisnya, Kapolsek Gaharu AKP Hartanto menyatakan bahwa Yunika Safitri murni tewas karena bunuh diri. Diduga kuat mahasiswi tingkat akhir itu mengalami depresi. Skripsi yang tidak kunjung selesai disinyalir sebagai pemicunya.

Orang tua korban yang masih dalam perjalanan pulang dari Papua, tampaknya tak mau kasus bunuh diri itu jadi panjang. Bagaimanapun bunuh diri masih dianggap aib di masyarakat. Taraka nyaris meninggalkan TKP dengan tangan kosong. Ia baru saja sampai di halaman rumah penduduk di mana sepeda motornya terparkir ketika secara tak sengaja obrolan liar mampir ke telinganya.

“Pagi ini aku jadi salah satu orang yang datang paling awal di TKP. Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku. Mata mayat tidak melotot dan lidahnya tidak terjulur,” aku seorang bapak-bapak berkumis tebal, berpakaian batik gelap, berpeci hitam.

“Saat aku ikut membantu memandikan jenazah, tidak ada kotoran di anusnya. Kotoran baru keluar setelah perutnya ditekan-tekan,” aku seorang ibu-ibu bergamis dan berkerudung hitam.

“Sudah jelas itu! Berarti Yunika tidak gantung diri!” seru seorang nenek-nenek berkebaya pula mengenakan jarik.

“Kalau dipikir lagi, memang mustahil. Dia menggantung diri cuma pakai pashmina yang dipasang di jendela. Mana kakinya menyentuh lantai lagi,” timpal bapak-bapak berpeci.

Asa Taraka bersemi. Ia langkahkan kaki menuju teras rumah warga. Namun setibanya Taraka di dekat kerumunan, semua orang mendadak terdiam. Lalu satu per satu pamit undur diri. Kini tinggallah Taraka dan nenek pemilik rumah. Dari gelagatnya, Taraka menyadari nenek ini juga hendak menghindar.

“Bolehkah saya mewawancarai, Nenek?” Taraka menepuk pundak nenek itu secara perlahan.

“Kalau mau wawancara, sama Pak Kapolsek itu lho, Mas.” Nenek itu menunjuk ke arah mobil hitam Kapolsek yang melaju ke arah timur.

Melihat dengan jelas keengganan yang ditunjukkan oleh nenek itu, Taraka terpaksa menggunakan cara sedikit picik. Ia mengungkapkan tentang beban sebagai tulang punggung keluarga yang ditanggungnya. Ia juga menyebutkan konsekuensi yang akan diterimanya bila tak berhasil mendapatkan berita.

“Saya ini sudah tua, Mas. Sudah jarang keluar rumah. Kebalikannya Yunika masih muda, jarang sekali ia berada di rumah. Jadi, bukannya saya tidak mau membantu, saya ini memang tidak tahu banyak.”

“Kalau keluarganya, Nek?”

“Keluarganya membuka usaha di Papua. Dari tahun ke tahun makin sukses, makanya mereka memutuskan menetap di sana. Dengar-dengar Yunika akan ikut pindah ke sana setelah selesai kuliah. Eh, kok malah ada kejadian seperti ini,” ungkap nenek itu dengan raut sedih.

Jurus Taraka cukup ampuh. Nenek itu berkenan membuka diri sedikit demi sedikit.

“Nek, kalau tidak keberatan. Bolehkan Nenek ceritakan ulang apa yang dikatakan oleh para warga tadi tentang kondisi mayat?”

“Maaf ya, Mas. Saya tidak bisa menceritakan sesuatu yang tidak saya ketahui sendiri.”

“Baiklah. Lalu bagaimana dengan kesimpulan Nenek kalau korban meninggal bukan karena gantung diri?”

“Saya hanya bicara asal, Mas. Lupakan saja ya, Mas. Permisi, saya mau bersih-bersih rumah dulu.”

“Sebentar, Nek. Saya mohon sekali. Masih ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan. Saya bisa dipecat kalau tidak mendapatkan berita apa-apa.”

“Mas mau berita?” tanya nenek-nenek itu, serius. Taraka mengangguk sungguh-sungguh.

“Tunggu saja, Mas! Pasti tidak lama lagi, Mas akan mendapatkan berita gantung diri lagi.”

“Maksud Nenek?”

“Menurut mitos masyarakat sini, tidak lama dari sekarang, akan ada orang gantung diri lagi. Ke arah mana kepala korban menghadap, di situlah korban selanjutnya.”

Sebelum nenek itu masuk ke dalam rumah, Taraka melayangkan satu pertanyaan pamungkas.
“Ke arah mana kepala Yunika menghadap, Nek?”

“Timur!” jawab Nenek itu singkat.
***

Meski data yang diperolehnya tidak memadai, Taraka nekat memprosesnya menjadi berita. Mengerahkan semua kemampuannya, Taraka mengolah data minimalis itu menjadi berita yang menarik dan menggelitik. Unsur mitos dan mistis tidak terlupa Taraka sertakan. Sebab tidak dimungkiri, dua hal itu menjadi penguat atas lemahnya data yang dimilikinya. Hingga akhirnya naskah berita yang ditulis Taraka lolos kurasi dan terpampang di halaman pertama.

Efek media memang betul-betul dahsyat. Bagai bom, berita itu meledak dan berdampak luas. AKP Hartanto berkali-kali memijit keningnya. Itulah kebiasaannya saat dirundung kepanikan. Gara-gara ulah seorang wartawan ingusan, instansi yang dipimpinnya kini mendapat sorotan besar.

Polsek Gaharu dikesankan tidak profesional. Meski sebetulnya menemui beberapa keganjilan, kepolisian sektor dinilai cenderung pasif. Mereka tidak ada upaya sedikit pun untuk mengungkap kasus ini. Termasuk dengan tidak menawarkan opsi autopsi kepada pihak keluarga. Bagai terbakar jenggot, Polsek Gaharu langsung mengklarifikasi. Bahwa sedari awal pihaknya tidak ada tendensi di kasus tersebut. Justru pihak keluargalah yang getol memaksakan kehendak agar kasus segera ditutup.

Dari hari ke hari, gerakan masyarakat semakin besar. Masyarakat mendesak agar kasus dibuka kembali.
***

Polres Trembesi bergerak cepat. Segera setelah kasus diambil alih, mereka melakukan penyelidikan intensif. Barang bukti diamankan, saksi dipanggil. Kecurigaan kemudian mengarah ke Riko. Ia adalah orang terakhir yang terlihat menghabiskan waktu dengan korban di kamar kosnya. Fakta itu bersumber dari kesaksian beberapa teman kos Riko sendiri.

Ada saksi yang mengatakan malam itu melihat Yunika bergandengan mesra dengan Riko lalu masuk ke kamar kosnya Riko. Ada juga saksi yang menyatakan melihat Riko mengantar Yunika pulang pada tengah malam.

Riko telah mengakui malam itu dirinya memang menghabiskan waktu bersama Yunika. Riko juga mengakui ia sempat berhubungan intim dengan Yunika di kamar kosnya. Sejatinya yang ditunggu-tunggu adalah pengakuan Riko bahwa ia yang telah membunuh Yunika. Akan tetapi Riko justru bersikeras membantah bahwa ia bukan pelakunya.

Walaupun Riko tak mau mengakui, alat-alat bukti telah mengarah tepat kepadanya. Termasuk temuan sperma milik Riko pada kemaluan korban juga pada barang bukti. Tak membuang-buang waktu, polisi langsung menetapkan Riko sebagai tersangka. Langkah itu juga diambil untuk meredam krisis kepercayaan masyarakat kepada polisi.

Masih dengan tujuan yang sama, polisi juga mengizinkan Taraka dan wartawan lainnya untuk mewawancarai Riko. Kepada Taraka, Riko bercerita tentang kisah asmaranya dengan Yunika yang sering putus nyambung karena Yunika kerap kepergok selingkuh. Tanpa segan, Riko juga menguak sejak kapan dirinya dan Yunika mulai berhubungan selayaknya suami istri.

“Sudah berapa kali?” tanya Taraka.

“Tak terhitung, Mas.” Riko menjawab dengan naifnya.

“Yunika adalah gadis pertama?” tanya Taraka lagi.

“Bagiku Yunika pertama dan satu-satunya sampai sekarang. Tapi tidak dengan Yunika. Sebelumnya Yunika sudah melakukannya dengan orang lain dan terus melakukannya dengan orang lain. Yunika itu tidak pernah cukup dengan satu pria saja,” beber Riko.

“Kalau kamu sudah mengenal Yunika secara mendalam seperti itu, berarti kamu tahu mengapa Yunika memakai menstrual cup padahal tidak sedang haid?”

“Itu aku yang menyarankan!”

Betapa Taraka terperangah mendengar pengakuan itu. “Maksudmu?”

“Malam itu Yunika curhat banyak ke aku tentang sugar dadyd-nya. Katanya sugar daddy-nya itu hipersex dan kasar. Bahkan….” Riko menggantung kalimatnya.

“Kenapa kamu ragu-ragu? Katakan saja,” pinta Taraka.

“Bahkan Yunika memperlihatkanku luka-luka di sekujur badannya akibat keganasan sugar daddy-nya. Putingnya pernah digigit nyaris putus. Rambut kemaluannya pernah dibakar,” lanjut Riko berapi-api. Taraka tampak tersentak.

“Jadi aku menyarankan Yunika untuk memakai menstrual cup agar ia bisa mengelak ketika diajak berhubungan sama sugar daddy-nya,” imbuh Riko.

“Kamu kenal atau tahu siapa sugar daddy itu?” Taraka melayangkan pertanyaan kunci. Sayangnya tanggapan Riko ialah gelengan kepala lemah.
***

Risau. Sebetulnya Taraka sudah mengamankan kariernya berkat liputannya terhadap kasus Yunika. Akan tetapi jiwa kemanusiaannya belum merasa lega. Setahun berlalu, kasus Yunika masih dihadang kebuntuan. Autopsi sudah dilakukan, penyebab dan perkiraan jam kematian Yunika sudah didapatkan. Dipastikan Yunika meninggal karena asfiksia. Diduga kuat Yunika dihabisi dengan cara dibekap. Entah dengan bantal, guling atau selimut. Lalu diperkirakan Yunika kehilangan nyawanya antara pukul tiga dini hari hingga lima pagi.

Hasil penyidikan gamblang membuktikan bahwa Riko tidak bersalah. Riko memiliki alibi sangat kuat. Juga terlihat oleh salah seorang saksi bahwasanya Riko hanya mengantar sampai gerbang lalu pulang. Pelaku pembunuhan Yunika sepertinya memang bukan orang sembarangan. Ia sangat rapi dalam menjalankan aksinya. Dan sebagaimana dugaan banyak pihak, pelaku kemungkinan orang yang berpengaruh di pusaran kekuasaan.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 15 September 2024.

Tentang Cerpenis
Endang S. Sulistiya

Lulusan Administrasi Negara FISIP UNS. Tergabung dalam komunitas Diskusi Sahabat Inspirasi. Menulis
dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Karya-karyanya sudah tersebar di media cetak maupun media online. IG: @endangsrisulistiya.

Testimoni Endang S. Sulistiya

Tidak akan ada tulisan yang berakhir sia-sia. Cerpen berjudul Gantung ini sebelumnya saya tulis untuk diikutkan sebuah lomba cerpen. Jangankan menjadi salah satu juara, dilirik buat 20 besar saja tidak.

Tidak patah semangat, saya mengedit cerpen ini lalu mengirimkannya ke sayembara cerpen minggu yang diselenggarakan oleh Cerpen Sastra. Alhamdulillah, cerpen ini akhirnya bertemu dengan jodohnya. Terima kasih Cerpen Sastra.

Exit mobile version