Site icon cerpensastragrup

Demi Tembang yang Naik ke Pantai (Cerpen Mariemon Simon Setiawan)

Sumber Ilustrasi: Ist. via floresterkini.pikiran-rakyat.com

Dedi segera membuka matanya begitu ia mendengar ketukan-ketukan kecil dari luar dinding halar(1) kamarnya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Dedi duduk di atas tempat tidur, lalu dari celah–celah halar, ia mencoba melirik ke luar. Ia sudah bisa pastikan, itu Tinus. Dedi merapatkan wajahnya
ke dinding.
***

“Tunggu di depan!” bisiknya pelan.
Dedi melirik Pene, istrinya. Pene terlihat masih nyenyak. Dedi diam-diam meraih jam tangan tua di samping bantal kepalanya. Sudah jam setengah satu tengah malam. Dedi turun dari tempat tidur dengan was-was, lalu buru-buru beranjak keluar, berharap Pene tidak terusik.

“Kau mau ke mana, babi?”

Pene setengah berteriak. Dedi terkejut. Pene tiba-tiba saja terbangun.

“Naik tidur! Cepaaat!” Pene memelototi suaminya dengan ganas, persis komodo yang belum makan satu semester.

Dedi yang takut istrinya itu buru-buru mendekat, berusaha menenangkannya sekaligus memohon izin ke pantai malam itu.

“Pene sayang, izinkan saya malam ini ke pantai dulu. Tadi siang, Moat Desa sudah ancam akan membuat pagar keliling pantai. Kalau saja dia benar-benar menutup pantai, kita tidak makan tembang(2) lagi.” Dedi membujuk.

“Kau mau mati? Saya lebih baik tidak makan tembang daripada harus lihat kau mati di dalam peti!”

“Heh, sembarangan!” Dedi panik. Ia selalu bergidik ketika berbicara tentang kematian. Membayangkan pengapnya ruang sempit peti mati saja sudah membuatnya mual, apalagi membayangkan dirinya berteman gelap selama-lamanya, ia tidak sanggup. “Kau takut mati, tapi masih berani ke sana,” Pene menantang suaminya yang masih berdiri di pintu. “Ingat, tadi siang Moat Desa sudah membuat kau malu. Lebih baik kau naik tidur. Jangan cari hal!”

Dedi bergeming, tidak menanggapi.

“Saya pergi dulu. Kasihan, Tinus sudah tunggu dari tadi di depan.”

Pene sebenarnya masih ingin marah-marah agar suaminya tidak pergi. Namun, amarahnya melunak setelah Dedi mendaratkan beberapa ciuman pada bibirnya yang keriput.
***

“Pokoknya, saya tidak mau tahu. Memangnya itu pantai milik nenek moyangnya? Itu pantai umum. Siapa saja berhak untuk pungut tembang atau sandarkan sampan di situ. Dia tidak ada hak untuk blokir!” Dedi terus mengumpat tiada henti sejak ia dan Tinus keluar dari halaman rumahnya. Ember hitam berukuran sedang ia bawa serta, siapa tahu saja ia masih bisa mendapatkan tembang yang naik ke pinggir pantai. Tinus yang berjalan di depan sambil memegang nokia senter hanya mengiyakan. Diam-diam ia meraba pinggang kanannya untuk memastikan bahwa pisau lipat miliknya tidak terjatuh. Dedi melihatnya.

“Kau bawa apa itu, Tinus?” Dedi ikut meraba.

“Pisau lipat. Buat jaga-jaga, siapa tahu saja sebentar kita adu pukul. Sekarang, kau diam, dan jangan banyak bicara. Harusnya kau omong itu siang tadi.”

Dedi bergeming sejenak. “Siang tadi, saya masih sabar. Saya tidak mungkin mempermalukannya di depan banyak orang,” timpalnya.

Tinus tahu, itu hanya ucapan pembelaan diri. Mental Dedi cepat kecut ketika beradu argumen, meski ia sejatinya berada pada posisi yang benar. Ia dapat berubah rupa seperti kerupuk kena air kalau sudah sekali digertak. Namun, meski penakut, hanya dialah yang paling berani melawan. Di saat semua orang yang memadati pantai tidak dapat melawan Moat Desa dan orang suruhannya yang memasang patok-patok untuk memblokir pantai, Dedi berani melawan, meski ujungnya ia dipermalukan.
***

Siang sebelumnya, pantai di Desa Sikka ramai oleh warga. Lebih ramai dari malam sebelumnya, saat hari pertama fenomena ikan-ikan tembang naik ke pantai terjadi di sana. Kejadian itu bermula dari Moat Desa yang mendatangi pantai dengan membawa beberapa orang berbadan besar. Para nelayan yang beristirahat di bawah pohon waru laut dengan polosnya melempar senyum dan memberi salam. Tanpa basa-basi, Moat Desa langsung memerintahkan mereka untuk segera angkat kaki dari situ.

“Mulai sebentar, kalian jangan sandarkan kapal di pantai ini. Kalian cari tempat lain.”

“Maksudnya bagaimana, Moat?” Yanto, salah satu nelayan yang punya dua perahu kebingungan.

“Ini tanah saya, dari ujung jalan di atas, sampai di pantai sini, terus ke timur enam hektar. Kalau saya mau blokir, terserah saya!” ujar Moat Desa.

Brakkkk!!! Tinus menjatuhkan selusin bambu yang panjang-panjang, dekat tempat mereka berdiri.

“Tinus, untuk apa bambu-bambu itu?” Yanto menghardik Tinus yang baru tiba.

“Mau buat pagar keliling. Moat Desa yang minta tolong saya untuk bawa,” ucap Tinus sambil menunjuk Moat Desa.

“Kau nelayan di sini, kenapa kau ikut saja?”

“Yanto, saya hanya dibayar untuk pikul bambu-bambu ini. Tapi saya juga tidak mau kalau pantai ini diblokir!”

“Buhe human!(3)” Yanto menatapnya dengan kecewa, lalu beranjak pergi. “Anjing kalian!” Yanto hanya bisa mengumpat. Ia tentu saja tidak berani melayangkan tinju ke wajah Moat Desa, karena itu sama saja dengan menyerahkan diri ke hadapan malaikat maut.

Hal itu pernah dialami Tinus setahun lalu. Ia dikeroyok hampir mati oleh orang-orang tak dikenal setelah mendapatkan bukti penggelapan dana desa oleh Moat Desa. Yanto kemudian berteriak-teriak mengelilingi kampung seperti seekor anjing gila, mengungkapkan kekesalannya atas tindakan kepala desa yang menurutnya tidak benar itu. Teriakannya mengundang warga untuk mengerumuni pantai. Informasi itu terus menyebar, hingga sampai ke telinga Dedi.

“Tidak bisa. Dia tidak bisa berbuat seenak perutnya! Ini pasti karena tembang yang sudah naik. Dia mau makan sendiri itu ikan-ikan!” ungkap Dedi dengan kesal sembari memukul meja kuat-kuat. Pene yang sedang menenun sarung terkejut.

“Heh, sudah! Jangan ikut campur. Kau tahu sendiri, Moat Desa itu orangnya bagaimana. Kalau kau melawan dia, yang ada kau mati di sana.“ Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, Dedi sudah berlari menuju pantai. Pene marah.

Di pantai, warga berkerumun. Para pria bertubuh besar itu sudah mulai memotong bambu dan memasang patok untuk membuat pagar keliling di pantai itu. Dedi yang baru datang langsung merasa iba ketika melihat ibu-ibu yang sedang menangisi suami mereka setelah dipaksa untuk mendorong perahu mereka ke tempat lain. Kedatangan Dedi seperti kedatangan Ratu Adil bagi ibu-ibu itu. Ia dibujuk agar meminta Moat Desa menghentikan aksinya. Memang, Dedi selalu aktif berbicara setiap kali pertemuan DPP di kantor desa, tetapi ia tak berani berbicara banyak jika sudah berhadapan dengan Moat Desa karena ia tahu resikonya. Namun, menghadapi ketidakadilan di depan matanya, Dedi memberontak.

“Moat Desa, stop! Ini pantai milik umum. Jangan karena tembang mulai naik, Moat asal blokir saja. Lagi pula, sudah dari zaman nenek moyang orang cari ikan di sini.”

“Terserah saya. Ini tanah milik saya. Kau tahu dari mana, kalau ini pantai milik umum?”

“Moat, setahu saya, tanah yang bagian pesisir ini milik negara. Milik umum. Moat tidak berhak. Semua warga di sini punya hak untuk ambil ikan atau parkir kapal di sini. Moat sudah langgar undang-undang.”

Moat Desa tertawa terbahak-bahak. “Kau sekolah SMA saja tidak tamat, masa mau omong hukum? Justru saya yang bisa penjarakan kau!” Dedi terdiam.

Ia tak bisa berkata-kata lagi. Wajahnya pucat. Karena merasa malu, ia mundur, kembali berdiri di antara ibu-ibu. Tiba-tiba Tinus datang, lalu menariknya keluar pelan dari antara kerumunan.

“Kau percaya, dia buat pagar di situ karena tembang? Saya tidak yakin. Kalau memang karena tembang, kenapa tidak dari tahun-tahun sebelumnya dia buat begitu? Pasti ada sesuatu yang lain.” Tinus berbisik. Dedi mengangguk pelan.

“Kalau bukan karena tembang, terus apa masalahnya?” Dedi keheranan.

“Malam ini, kita cari tahu.”

“Baiklah. Sekalian kita cabut semua pagar-pagar bambu itu,” ucap Dedi geram.
***

Dedi dan Tinus tiba di pantai ketika beberapa orang bertubuh besar tadi sedang duduk mengelilingi api unggun. Dengan emosi yang sudah tidak tertahankan, bayangan Moat Desa yang mempermalukannya tadi siang, dan provokasi dari Tinus, Dedi membabi buta. Ia dengan liarnya mencabut semua bambu-bambu itu, tanpa peduli bahwa beberapa orang bertubuh besar itu sedang mendekatinya.

Dedi lalu ditarik dengan kasar, kemudian dipukul tanpa henti. Dengan posisi berlutut, seseorang dari pria itu memegang tangannya erat. Semua berjalan begitu cepat. Pandangannya kabur. Dedi sempoyongan. Darah segar mulai mengalir dari pelipisnya. Di bawah cahaya bulan, ia melihat Tinus sudah berdiri di hadapannya sambil menjambak rambutnya.

“Moat Desa ada kerja sama dengan orang dari Jawa untuk buat pabrik di sini. Kau jangan cari masalah!”

“Tinus anjing! Pengkhianat.”

Itu kalimat terakhir yang diucapkan Dedi sebelum Tinus mengeluarkan pisau lipatnya. Setelah beberapa tusukan, tidak ada lagi suara yang terdengar, kecuali deru ombak. Keesokan harinya, setelah menyaksikan tubuh suaminya yang hancur di dalam peti, Pene tidak pernah makan tembang lagi.(*)

(1) Halar: bambu yang dicincang, pelupuh, digunakan sebagai dinding rumah yang sederhana.
(2) Tembang: ikan jenis Sardinia, bersisik dan bertulang banyak; sering digunakan sebagai bahan ikan sarden; terdampar di pinggir pantai Desa Sikka, Flores-NTT pada musimnya.
(3) Buhe human: penipu
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 30 Maret 2025.

Tentang Cerpenis

Mariemon Simon Setiawan
Saat ini, ia beraktivitas di Ugu Film dan Parextia Film di Maumere, Flores – NTT. Dapat dihubungi lewat @vanhallemonteiro.

Testimoni Mariemon Simon Setiawan

Saya suka bisa mengikuti sayembara cerpen sastra di IG ini. Menurut saya, ini inisiatif yang bagus sejak dua tahun lalu, memudahkan pembaca untuk menemukan cerpen-cerpen menarik di Instagram. Proses penentuan nominasi pun menarik, sebab penulis bisa tahu dengan siapa ia bersaing, seberapa menarik cerpennya, dan turut merasakan kompetitifnya sayembara ini.

Saran dari saya, ada baiknya jika desain dari feed IG untuk setiap cerpennya didesain ulang dengan tampilan yang lebih bagus, eye-catching, dan tidak monoton. Saya kira dengan desain yang menarik, pembaca akan lebih betah untuk terus membaca. Terima kasih cerpen sastra. Salam sastra 🙏

Exit mobile version