Lagi dan lagi, berita kegagalan tersiar tiap pagi. Ocehan emak setiap harinya tak pernah alpa hingga membuat telingaku jenuh mendengarnya. Belum lagi kalau harus mendengar tetangga datang ke rumah cuman sekadar mau pamerin anaknya yang jadi polisi, dokter, pengusaha, bla.. bla.. bla.. bla.. dan lain sebagainya. Dari situ emak kadang kala suka naik darah tiba-tiba, dengan sorot mata bak serigala menatapku seolah penuh tanya dan perintah, “Mengapa tak menjadi seperti mereka?”
…
Aku yang hanya bisa terdiam demi mengheningkan suasana tak sanggup berkata-kata bila harus beradu mulut dengan emak. Sebab bagaimana pun juga dia tetaplah emak. Emak yang satu-satunya kupunya setelah bapak tak ada. Aku semata wayang, kadang merasa sepi dan di saat-saat itulah emak selalu hadir menemani. Meski suka marah-marah, namun sebenarnya ia sosok wanita yang penyayang. Wanita pertama yang tertambat di hatiku, lalu setelahnya Zubaedah.
Pagi itu pukul tujuh, aku sontak terbangun mendengar suara dobrakan pintu yang begitu kencang mengusik telinga.
“Mau sampai kapan kau berada di tempat itu bercumbu mesra dengan guling apak itu, Nyo?”
“Iya sebentar, lima menit lagi aku akan segera bersiap-siap.”
(sontak terkejut, langsung kelabakan mencari handuk)
“Kutunggu kau di meja makan.”
“Nggih, Mak.”
Usai sekilas perbincangan tadi langsung membuatku berlari ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuk menikmati kesegaran air, tak seperti mandi bidadari. Cukup dengan waktu sepuluh menit saja, yang penting wajah tak terlihat kusam dan bau badan. Terlebih emak juga sudah menunggu di meja makan. Aku tak mau melihatnya berkhotbah di waktu pagi. Hal yang sudah sering kali kudengarkan bila tidak nurut atau berbuat salah padanya. Tak mengenal waktu dan situasi, bahkan centong nasi pun sampai dibuat melayang di tangannya.
“Lohh.. kok cuman tempe?”
(melihat hidangan di meja makan)
“Ini rumah Nyo bukan restoran, makan saja apa yang ada!”
“Nggih, Mak.”
“Ngomong-ngomong soal amplop coklat itu kau sebar ke mana saja?”
“Banyak, Mak. Mulai dari pabrik, toko semua sudah aku coba.”
“Bagaimana, apa amplopnya sampai ke sana?”
“Hmmm.. sepertinya belum, masih mengawang-awang di jalan. Banyak juga yang mengantre membawa amplop.”
“Perbanyak berdoa Nyo, cuman jalur langit yang bisa membantu kita sekarang.”
(terdiam)
Hening. Seketika aku terdiam. Hanya bisa mematung dan merenung sembari mengunyah dua suapan nasi terakhir. Aku tak tahu lagi harus berkata apa, atau setidaknya merespon pertanyaannya selain hanya bisa pasrah. Kutahu ini memang tak mudah. Ada harap yang begitu besar di balik kalimat terakhir yang emak ucapkan. Untuk kesekian kalinya kegagalan yang bahkan tak terhitung oleh jemariku sendiri. Ini bukan hanya sekadar tentang kata-kata, tetapi ini tentang diriku yang belum menjadi apa seperti kata yang diucapkannya.
Meski ingin sekali gejolak hati berkata lelah menghadapi semuanya, namun kutahu ia lebih lelah. Terlebih harus melahirkan makhluk sepertiku. Ada pilu yang terpendam di balik lesung keriputnya yang kini semakin kendur. Emak, andai aku bisa lebih berani untuk mengatakan keluh padamu, sembari mendekap tubuhmu yang lunak itu. Meski hanya untuk sekali! Tetapi aku ini lelaki? Seharusnya aku yang menguatkan emak, bukan malah sebaliknya.
“Ahh.. dasar cengeng!”
Usai menikmati hidangan sarapan pagi dengan semangkuk rasa syukur dan penuh harap, aku langsung bergegas pergi sembari membawa amplop coklat dengan gagah berjalan kesana-kemari. Belum tahu ke mana arah tujuannya, yang penting keluar dari desa.
Syukur-syukur tak dilihat tetangga. Malu dan malas aku kalau harus bertemu dengan mereka, menanggapi setiap kalimat-kalimat tanya yang sarkas dan penuh hina. Lebih baik begini, berjalan sendiri kesana-kemari menikmati udara pagi. Bukan karena aku seorang yang introvert, hanya saja semakin dewasa teman rasanya semakin berkurang. Yang setia hanya tinggal terhitung beberapa. Selebihnya entah ke mana, mungkin juga karena sudah menemukan jalan hidup masing-masing.
Tak terasa waktu sudah menginjak pukul 10.00 dan perjalananku terhenti pada sebuah perusahaan besar yang bernama PT AGROTANI JAYA yang berada di Jl. Perjuangan No. 2 samping masjid An-Nur. Kuhela napas panjang kemudian membuangnya sembari memandang kagum bangunan besar itu. Dengan bermodal nyali tanpa basa-basi langsung ku melangkah menuju pos satpam sembari menyodorkan amplop coklat, berharap surat ini dapat diterimanya.
“Permisi, Pak, saya mau melamar.”
(menyodorkan amplop coklat)
“Siapa namamu dan dari mana asalmu?”
(sambil membolak-balik amplop coklat)
“Saya Sinyo dari Desa Cikuya tak jauh dari sini, perjalanannya kurang lebih sekitar 20 menit.”
“Ada perihal apa kamu melamar di sini?”
“Saya lulusan sarjana pertanian, maka dari itu saya coba daftar ke sini. Apa saya bisa bertemu dengan HRD saat ini?”
“Ada cepek? Biar prosesnya lebih mudah.”
“Loh kok begitu Pak? Kedatangan saya di sini ingin melamar dengan baik-baik. Kalau segala sesuatunya harus dengan cepek lalu apa artinya selembar kertas ini? Selama tujuh belas tahun loh Pak saya berjuang keras demi mendapatkan selembar kertas ini, hanya demi untuk dianggap menjadi manusia yang bisa bertahan hidup!”
“Hidup mah realistis aja, Mas, toh memang sudah zamannya seperti ini. Kompetensi memang penting tetapi uang di atas segalanya.”
“Gak ngerti saya sama jalan pikiran Anda!”
Tanpa berpikir panjang dengan raut wajah kesal aku langsung bergegas pulang ke rumah. Lagi dan lagi nasibku selalu sial harus menghadapi kegagalan. Kegagalan yang cukup panjang. Aku menganggur sudah terbilang tiga tahun, dan wajar saja emak begitu kecewa melihatnya. Meski kutahu tak sepatah kata pun ia berani mengucapkannya, tetapi ekspresi wajah tak bisa dibohongi.
Ada tulang punggung yang harus kubayar, ada tangis yang harus menjadi tawa, dan ada luka yang harus menjadi sembuh. Aku tak ingin menjadi benalu. Biar saja ia yang menjadi benalu bagiku. Sudah saatnya bagiku menunjukkan apa yang semestinya diharapkan.
Setibanya di rumah, tiba-tiba saja aku bertemu dengan teman lamaku namanya Yusuf, biasa dipanggil Ucup. Ia menawariku sebuah pekerjaan yang katanya pekerjaan ini sangat sesuai dengan bidang yang kumiliki.
Lantas aku pun menjadi penasaran dan berbincang-bincang dengannya.
“Oi Nyo, kau masih kenal denganku?”
(terdiam menatap Ucup)
“Ahmad Yusuf Fuadzi anak IPS 3, yang waktu itu kita pernah nongkrong bareng di warung Bi Ida.”
“Sudahlah kau jangan basa-basi, mukamu itu masih kuingat betul.”
“Hahaha.. kau ini masih sama seperti dulu yah Nyo.” (tertawa)
“Hendak apa kau ke sini?”
“Kudengar kau sudah lama menganggur, dan kebetulan aku ingin menawarkan pekerjaan ini untukmu.” (menyodorkan surat lowongan kerja)
“(terkaget membaca surat dari Ucup) Petani?”
“Ya, gimana sesuai bukan?”
“Cup, aku ini sarjana pertanian. Sarjana pertanian! Ingat itu.”
“Ya terus memangnya kenapa? Bukannya justru bagus toh, kamu malah bisa mengimplementasikan bidang keilmuanmu itu.”
“Mau taruh di mana muka lima puluh enam juta ini?”
“Yawislah terserahmu.”
(terdiam)
Aku yang hanya bisa terdiam kala itu, begitu pun dengan Ucup yang langsung pergi meninggalkanku tanpa sepatah kata pamit. Aku sedikit merenung, sembari membuang amplop coklat yang tadi. Aku tak tahu harus apa, kepalaku terasa panas. Bukan sebab marah, hanya saja kecewa. Sempat hati bertanya pada semesta, “Mungkinkah aku gagal menjadi manusia?” (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 26 Maret 2023
Cerpenis
Yeni Maulidah
Lahir di Cirebon, 10 Mei 2004. Mahasiswi Universitas Swadaya Gunung Jati, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karyanya dimuat di berbagai media massa seperti Surat Kabar Radar Cirebon, Radar Pekalongan, Radar Madiun, Harian BMR Fox, Sabah 360 (Malaysia), Suara Sarawak (Malaysia), dan Utusan Borneo (Malaysia). Bisa disapa melalui Instagram @yeniem_10
Testimoni Yeni Maulidah
Selasa, 28 Maret 2023
Halo, aku Yeni. Seorang penulis yang suka berkelana mencari ruang berkarya. Pertama kali aku menemukan media @cerpen_sastra dari temanku yang bernama Riska Widiana, tanpa sengaja aku melihat postingan di story Instagram-nya, sehingga membuat aku tertarik mengirimkan karya.
Pada saat itu aku mengirim karya di hari Sabtu, 25 Maret 2023 pukul 11.45 WIB tepat 15 menit sebelum penutupan pengiriman karya. Cerpen yang masih hangat kubuat dari pagi, prosesnya sendiri memakan waktu kurang lebih sekitar 2 jam. Awalnya aku sempat tak menyangka karyaku bakal masuk nominasi dan terpilih untuk dimuat, karena jika aku melihat dari karya-karya nominasi yang lainnya banyak karya-karya yang lahir dari penulis hebat. Namun, dengan begitu tak membuat semangatku bergetar, karena aku selalu yakin dan percaya, pada akhirnya, setiap karya akan menemukan nasibnya sendiri, terlepas dari ketatnya kompetisi.
Selanjutnya, aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada media @cerpen_sastra yang sudah menjadi ruang untuk para penulis berkarya. Terima kasih juga karena telah mengapresiasi dan memilih karya saya untuk dimuat. Semoga ke depannya, @cerpen_sastra dapat terus berkembang sekaligus menjadi wadah untuk bisa berbagi kebermanfaatan dengan sesama. Karena, dengan menulis sendiri adalah cara paling sederhana untuk kita melakukan kebaikan.

