Site icon cerpensastragrup

Nesia (Cerpen Yuditeha)

Sumber Ilustrasi: Michael Fenton on Unsplash.

Tak ada kopi yang tidak ada pahit, jikapun ada, tentu bukan kopi murni. Tak ada cinta yang tidak ada sakit, jikapun ada, tentu bukan cinta suci.
…

Meski aku bukan penulis, tapi aku suka menulis. Kata ibuku, dengan menulis aku bisa menjadi lebih baik. Aku juga suka membaca, karenanya suatu hari aku menemukan dua kalimat itu. Aku penasaran setiap kali membacanya, ingatanku langsung tertuju pada Nesia. Lalu aku berpikir, apakah ada hubungannya?

Bisa dibilang aku hanya punya sedikit teman. Bukan hanya itu, bahkan sejak aku kecil banyak orang suka merundungku. Mereka sering menyebutku bodoh. Bahkan waktu sekolah dulu tidak sedikit guru yang bilang aku tidak bisa apa-apa. Aku pernah dengar, katanya IQ-ku di bawah rata-rata. Namun aku tidak pernah menganggap itu masalah, terlebih ibu selalu bilang, aku tidak berbeda. Hanya dua orang yang menerimaku apa adanya, ibu dan Nesia.

Nesia, teman kecilku yang manis, yang sempat lama tak bertemu tiba-tiba hadir kembali di kehidupanku, tepatnya setelah sepekan ibu meninggal. Aku benar-benar tidak menyadari apa arti dari kemunculannya lagi.

Dalam benakku hanya ada pemikiran, setelah ibu pergi, mungkin hanya dia yang akan selalu baik padaku. Melanjutkan kisah di masa kecil dan remaja kami, dan tahu-tahu aku sudah kembali berada dalam peristiwa yang ada hubungannya dengan Nesia. Aku merasa semua yang terjadi tidak ada unsur keterpaksaan, bahkan kami sempat tidur bersama.

“Aku hamil,” kata Nesia suatu sore.
Aku terperanjat.
“Aku tidak bermaksud memperalatmu,” katanya lagi.
“Maksudnya gimana?” tanyaku.
“Iya. Aku ingin jujur, dan ini bukti aku tidak bermaksud memperalatmu.”

“Aku tidak ngerti.”
“Begini, aku telah hamil sebelum kita berhubungan.”
“Jadi…”

“Iya, dia lelaki yang selama ini mengaku mencintaiku.”
“Kamu mencintainya?”
“Pada mulanya begitu.”
“Maksudnya?”
“Ternyata dia brengsek!”

Sejenak aku membisu.
“Setelah dia tahu aku hamil, dia pergi gitu saja.”
“Kamu masih mencintainya?”
“Jika kamu jadi aku, jawaban apa yang kamu berikan untuk pertanyaan itu?”
“Jadi kamu menjebakku?”

“Tadi kan sudah kukatakan, aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi kenyataannya.”
“Aku akan pergi darimu, dan kamu tidak perlu memikirkannya lagi.”
“Masalahnya…”
“Sudahlah, aku sungguh-sungguh. Pergilah, jika kamu ingin pergi.”
“Masalahnya…”
“Tidak ada masalahnya-masalahnya. Pergilah!”

Senyatanya, selama aku bersama Nesia memang tidak pernah mendapat kesempatan untuk berpikir, apakah yang kami lakukan sebuah kesalahan, tapi hal itu sungguh membuatku bingung.

“Mengapa sekarang kamu selalu menghindar saat aku mencoba menghubungimu?” tanyaku pada Nesia di lain hari, ketika aku datang ke rumah kontrakannya.

“Bukan menghindar darimu, tapi menghindari pernyataan bahwa aku menjebakmu,” jawab Nesia dengan cepat.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”
“Sebentar, ini pertanyaan yang mana?”
“Boleh aku ulangi?”
“Kenapa tidak?”
“Kamu masih mencintainya?”
“Jadi kamu tidak tahu bagaimana perasaan orang setelah disakiti?”

Aku menggeleng.
“Kamu belum pernah jatuh cinta?” tanya Nesia setelah menyalakan rokoknya.
“Aku tidak tahu,” jawabku bingung. “Kok?”

“Aku tidak tahu bagaimana jatuh cinta itu.”
“Kamu belum pernah pacaran?”
Aku menggeleng.
“Shit!” umpatnya.

“Tapi terhadapmu, sepertinya aku punya perasaan yang selama ini belum pernah aku rasakan.”
“Perasaan apa itu?”
“Aku tidak ingin kehilangan kamu.”
“What?” Nesia terkejut.
“Apa itu salah?”
“Bukan, bukan kamu yang salah. Aku yang salah.”
“Kenapa?”

“Ternyata aku bercinta dengan orang yang salah.”
“Kamu menganggap aku orang yang salah?”
“Bukan, bukan begitu.”
“Lalu?”

Saat itu kami terdiam agak lama.
“Oya, sampai lupa membuatkanmu minum,” kata Nesia memecah keheningan.
“Kopi, gimana?” tanya Nesia kemudian.
Aku mengangguk.
“Tunggu, aku buatkan.”

Pertanyaanku belum juga dijawab Nesia. Aku merasa dia selalu mengalihkan bicara. Karenanya aku berpikir, mungkin dia memang masih mencintai lelaki itu.

“Suka pahit, atau dikasih gula?” tanya Nesia saat kembali muncul dan sudah membawa dua gelas kopi.
“Gula, dikit saja.”
“Benar berarti. Minumlah.”
Aku menuruti. Segera aku cecap kopi di cangkir yang dia sodorkan.

“Gimana?” tanya Nesia.
“Pas,” jawabku.
Nesia tersenyum.

“Pertanyaanku tadi belum kamu jawab juga.”
“Yang mana lagi?”
“Kamu masih mencintainya?”
“Aduh, apa perlu kujawab?”
Aku mengangguk.
“Bagi sebagian perempuan, jawaban terkadang tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.”

Aku diam, tidak menanggapi.
“Tahu artinya?” tanya Nesia pelan, sembari bibirnya sedikit lebih didekatkan ke telingaku.

Aku menggeleng.
“Gimana ya? Sebentar, sebentar. Oh begini, perempuan yang sedang labil terkadang mengucapkan sesuatu yang berlainan dengan suara hatinya.”

Aku pandangi bibir Nesia yang sedang berkata-kata itu. Aku berpikir bibir itulah yang pertama mengantarkan aku kepada kepasrahan.

“Sudah ada bayangan?” tanya Nesia.
Aku mengangguk.

“Apa itu?” tanya Nesia, seperti menunjukkan sikap bimbang, dengan bibirnya yang kembali didekatkan ke telingaku.
Sebenarnya aku masih bingung dengan apa yang dimaksud Nesia. Sesungguhnya aku sekadar mengangguk. Meski begitu aku tidak ingin Nesia tahu bahwa aku sungguh tidak mengerti. Untunglah aku langsung ingat pada dua kalimat itu, dan akhirnya aku berusaha menjawab pertanyaan Nesia dengan menyatakan dua kalimat itu tetapi dengan narasi yang kubuat sendiri.

“Benar banget tuh. Pinter kamu ya. Tadinya aku bingung mau jelasin gimana lagi ke kamu. Syukurlah bila kamu sudah tahu,” sahut Nesia.

Aku tersenyum dengan sedikit kupaksakan.
Nesia ikut tersenyum, lantas berkata, “Jadi, lanjutkanlah hidupmu.” Sembari membuat gerakan dengan kedua tangan yang terbuka. Aku seperti baru menyadari keadaan. Tanpa menunggu aba-aba lagi akhirnya aku berdiri lalu bilang kepadanya aku ingin permisi pulang.

“Baik. Oya, habiskan dulu kopimu,” kata Nesia.
Sejak itu aku tidak lagi bertemu Nesia. Lebih tepatnya aku mengasingkan diri. Di tempat pengasingan itu aku semakin khusyuk menulis. Tidak ada hari yang terlewat tanpa menulis, dan tentu saja ditemani kopi dengan sedikit gula. Meski aku berada dalam pengasingan, tapi dengan kopi, hidupku terasa nyaman. Kopi itu selalu bisa mengingatkan aku pada dua hal, Nesia dan dua kalimat itu, yang bagiku selalu bisa menjadi teman terbaikku. Sampai akhirnya sekitar lima tahun kemudian aku mendengar lagi berita perihal Nesia. Kabarnya dia sakit, dan keadaannya kritis. Tanpa pikir panjang, gegas aku menjenguknya.

“Sebelum pergi, aku ingin jujur. Dulu aku bohong. Sebenarnya aku belum pernah tidur dengan lelaki, selain denganmu,” jelas Nesia begitu kami bertemu.

“Tapi, katamu kamu hamil?”
Nesia mengangguk, lantas pandangannya mengarah ke suatu tempat. Tentu saja penglihatanku mengikuti pandangannya. Pada saat itu kulihat seorang perawat menggendong anak laki-laki. Refleks aku kembali menoleh ke arah Nesia, yang tak lama kemudian dia mengangguk pelan. Kembali aku melihat bocah tersebut. Aku mendekat, dan aku meraihnya dari gendongan perawat, bocah itu diam saja.

“Siapa namanya?” tanyaku sembari menoleh ke arah Nesia. Nesia bergeming. Terdiam selamanya. Aku tercekat. Pada saat itu ingatanku terngiang pada dua kalimat itu. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 2 April 2023

Cerpenis

Yuditeha
Tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata.

Testimoni Yuditeha
Selasa, 4 April 2023

Kenal akun @cerpen_sastra ini ketika suatu hari ia hadir di beranda IG. Lantas saya lihat profil dan baca-baca infonya. Pada dasarnya, saya tidak milih-milih media tertentu sebagai tempat untuk berkarya, maka tanpa pikir panjang saya kirimlah cerpen plus menuruti syarat-syaratnya.

Saya pilih cerpen berjudul Nesia yang saya kirim semata pertimbangan bahwa di IG banyak kaum mudanya. Dan cerpen Nesia saya pikir cocok sebagai bacaannya. Tentu saya senang, pada akhirnya cerpen tersebut terpilih untuk ditayangkan. Terima kasih @cerpen_sastra.

Dalam kesempatan ini saya mengucapkan salut kepada penggagas akun ini. Ruang apresiasi seperti ini masih langka. Terus bertumbuh dan berkembang untuk @cerpen_sastra. Salam.

Exit mobile version