Site icon cerpensastragrup

Kepala Tikus (Cerpen Mareza Sutan AJ)

Sumber Ilustrasi: Shutterstock/Carlos Aranguiz via Kompas.

Ketika kami makan malam, ayah bilang makanan sisa tikus tak ada yang layak dimakan. Itu juga yang jadi alasan ayah membuang makanan yang jatuh dari atap rumah kami tempo hari. Saya sempat bertanya kenapa tidak ayah sedekahkan saja kepada tetangga kami yang miskin, tapi jawaban ayah cukup mengejutkan.
…

“Kau pikir layak memberikan racun ke tetangga?”
Saya manggut-manggut. Ayah memang sejak dulu pilih-pilih kalau mau kasih ke orang. Pokoknya harus yang terbaik dan diri harus cukup dulu. Kata ayah, sedekah memang tidak berpatok pada kita orang berada atau tidak, tapi lebih kepada kita mampu memberikan yang terbaik atau tidak.

Jadi, menyedekahkan kepala tikus yang ada pada makanan kami tempo hari, bagi ayah – yang makin ke sini makin saya pahami – sangat tidak layak.

Malam itu, ayah menumis sayur untuk saya dan ibu. Memang, dalam beberapa kesempatan ayah yang memasak. Begitulah uniknya keluarga kami. Bukan berarti ibu tak bisa masak, tapi ayah hanya lebih senang sesekali meringankan beban ibu. Lagi pula, ayah lebih tahu makanan mana yang telah dicicipi tikus yang kadang ibu tidak tahu.

Ibu selalu tersenyum ketika ayah memasak. Kata ibu, masakan ayah selalu enak. Itu juga yang membuat saya dan adik saya yang masih kelas 2 SD sangat lahap tiap kali makan masakan ayah.

“Ayah kalian selalu pilih-pilih bahan berkualitas untuk masak,” kata ibu sekali waktu, yang selalu saya ingat.

Bagi saya yang baru masuk SMA, kata-kata ibu selalu masuk akal. Ibu memang bukan orang pintar, tapi ibu orang yang selalu mendukung ayah. Banyak alasan kenapa ibu selalu setia mendampingi ayah, termasuk ketika memilah-milah makanan.

Sama seperti ayah, ibu juga tak suka makanan sisa tikus. Tapi mau bagaimana lagi, karena rumah yang ditempati ayah dan ibu sejak sepekan setelah menikah itu memang banyak tikusnya. Ceritanya, ayah dan ibu kesulitan mencari tempat tinggal yang layak, sehingga pada akhirnya rumah inilah yang dipilih mereka. Memang, menyebalkan sekali.

Saya sebenarnya juga tidak suka dengan tikus-tikus yang sering datang ke rumah kami. Mereka mengerat makanan atau – kalaupun berbaik hati – kata sebagian orang itu kebaikan hati – tikus-tikus menyebalkan itu suka memberikan makanan sisa ke rumah – entah sisa siapa. Saya ikut ajaran ayah: hidup harus bersih.

Sekali waktu, ayah sempat ditawarkan untuk pindah ke tempat lain. Sebenarnya bukan ditawarkan juga, melainkan ibu yang meminta ayah untuk mencari rumah yang lebih aman. Namun, jawaban ayah memang selalu mengejutkan.

“Rumah yang bertikus, kalau dibiarkan, tikusnya nanti makin banyak.”

Aih, saya kadang bingung dengan kerasnya kepala ayah. Tapi lucunya, ayah sering adu keras kepala dengan tikus, saling menantang siapa yang menang ketika mereka bertarung – atau mungkin berdebat di rumah kami mengenai makanan, misalnya. Pernah saya tersenyum sendiri di kelas, membayangkan kepala siapa yang lebih keras jika kepala ayah dan kepala tikus diadu, dan seorang guru menegur saya.

Lupakan tentang itu. Saya lebih suka mengamini apa yang ada di pikiran ayah, karena memang ada benarnya juga. Bayangkan jika ayah dan ibu memilih untuk tidak bertahan di rumah ini sejak pernikahan mereka, mungkin ada orang lain yang menumpanginya – yang tak bisa membasmi tikus-tikus atau tidak bisa memilih makanan sisa tikus – bisa bahaya nanti.

Ingat itu, makanan sisa tikus tak ada yang layak dimakan. Saya masih menunggu masakan ayah selesai, bersiap makan di atas meja. Begitulah cara ayah melayani kami. Tidak ada tinggi dan rendah, sebab kepala dan badan memiliki fungsinya masing-masing.

Sayuran yang sudah matang dimasukkan dalam mangkuk besar untuk kami makan berempat. Nasi panas itu masih berasap, ibu yang memasaknya. Kerja sama yang bagus!

“Ayo, makan!” Ayah mengajak kami semua makan bersama. Dia lebih dulu menyendok nasi dan sayur lalu mencicipinya. Kata ayah, itu harus dia lakukan untuk memastikan makanan yang dia hidangkan layak untuk dinikmati keluarganya.

Tapi malam itu, ayah agak berat hati. Dia meniup nasinya yang panas, juga sayuran yang masih mengepul asap di atasnya. Dia menyuap makanan, mengunyahnya, lalu menelannya. Dipejamkannya mata beberapa detik sambil menghirup napas untuk memastikan rasa makanan. Saya, ibu, dan adik menunggu aba-aba dari ayah.

“Enak!”
Itu sudah cukup jelas bagi kami. Lantas kami makan bersama malam itu, sampai kenyang. Nasi dan sayuran sebagai lauknya itu habis hanya dalam beberapa menit. Adik memegangi perutnya yang membesar. Serdawanya kedengaran dan membuat kami tertawa.

“Ayah mantap kalau masak,” katanya, sambil mengacungkan jempol.
Ayah tertawa lalu mengusap kepalanya.
“Habis ini cuci kaki, sikat gigi, lalu tidur,” kata Ayah, yang disambut dengan anggukan. Hanya beberapa menit kemudian sampai dia turun dari meja makan dan menuju kamar mandi. Ayah melirik dan saya mengerti apa yang harus saya lakukan.

Adik saya memang hampir selalu minta ditemani ketika ke kamar mandi. Saya membuntuti dari belakang. Perginya saya dari meja makan memberi ruang ayah dan ibu untuk bercerita. Saya tahu, ada banyak hal yang perlu ayah sampaikan pada ibu mengenai makan malam kami.

Ayah memang selalu hati-hati tiap mau memasakkan apapun untuk kami dan saya sudah menyaksikan itu sejak kecil. Seperti biasa, ada saat-saat tertentu ketika kedua orangtua itu harus membahas mengenai layak tidaknya makanan yang kami konsumsi.

Ayah memegang prinsip yang kuat soal kebersihan makanan, apa lagi mengingat tempat tinggal kami tak bisa lepas dari banyaknya tikus dan ayah masih berjuang mati-matian untuk memusnahkan tikus yang, sebenarnya dia tahu, hampir tidak mungkin musnah.

“Menghindari makanan sisa tikus semakin sulit,” suara ayah terdengar samar, saya menajamkan telinga.
“Barangkali, hanya makanan-makanan sederhana saja yang bisa kita berikan pada anak-anak kita.”
“Selama itu bersih, aku yakin itu akan menyehatkan mereka.”

Hampir setiap pembahasan yang dibicarakan ayah dan ibu adalah tentang tikus. Saya mengerti, betapa tidak nyamannya pernikahan mereka yang berjalan hampir dua dekade harus dihadapkan pada tikus. Ayah sering ditawarkan makanan enak, tapi itu bekas tikus. Ada pula kepala tikus yang diberikan beberapa kali, dan ayah selalu tegas menolaknya.

Kata yang memberi, jika ayah tidak mau, bisa diberikan kepada istri atau anak-anaknya. Jika keluarga kami tidak mau, ayah bisa memberikannya pada tetangga. Tapi bagi ayah, apa pun yang ada pada tikus adalah racun, sehingga tidak akan layak diberikan, bahkan jika itu disebut sedekah atau hadiah.

“Masakanmu selalu enak.”
Ibu selalu memuji ayah. Saya rasa itu hal yang wajar, karena ayah telah berjuang keras membasmi tikus di sekitar kami meski itu belum sepenuhnya berhasil.

“Kupikir kau tak menyukainya.”
“Mana mungkin begitu. Semua kami menyukainya.”

“Aku gemetaran.” Ayah jeda sejenak, sementara saya yakin ibu menunggu lanjutan kalimat ayah sambil tersenyum. Jika ayah orang yang tegas dan keras, ibu adalah orang yang mendukung dan penyabar.

“Kau tahu kenapa?”
“Ceritakanlah.”
“Kepala tikus hampir saja masuk dalam sayuran tadi. Aku harus memastikan tidak ada kepala tikus karena aku membuangnya bahkan sebelum jatuh ke tanganku.”

“Kau selalu mendapat kepala tikus yang besar.”
“Aku tak tahu bagaimana jadinya jika itu termakan anak-anak kita.”

“Dan kau selalu melakukan tindakan yang benar.”
Saya tersenyum. Kepala tikus itu memang hanya dibuang ke atap rumah kami. Tapi saya tahu, ayah tidak gentar, bahkan jika istri dan anak-anaknya harus makan angin.
(*)
Batanghari, 2023

Tanggal tayang:
Minggu, 9 April 2023

Cerpenis

Mareza Sutan AJ
Berdomisili di Muaro Jambi, sehari-hari menikmati waktunya sebagai jurnalis dan penulis lepas.

Testimoni Mareza Sutan AJ
Selasa, 11 April 2023

Hadir dengan gaya berbeda dalam menyajikan pemuatan tulisan – ditampilkan dalam salindia di Instagram – @cerpen_sastra memberikan warna sekaligus wadah baru bagi penulis dan penikmat cerpen.

Setelah larut membaca cerpen-cerpen di sana, akhirnya saya suka. Dengan adanya wadah berkarya ini, saya tertarik dan segera menyiapkan satu cerpen yang ditulis secara spontan ketika berada di sebuah desa di Kabupaten Batanghari, Jambi. Alhasil, lahirlah “Kepala Tikus”, yang terbit pada edisi 9 April 2023.

Adalah kebahagiaan bagi saya, karena apresiasi yang luar biasa terutama dari tim @cerpen_sastra dan Pak Horas selaku penggagas. Terima kasih. Ruang apresiasi seperti ini sangat dibutuhkan. Semoga terus berkembang dan sukses selalu @cerpen_sastra.

Exit mobile version