Bulan kesepuluh berpeluh. Hujan belum sempurna terjadwal. Air langit hanya berkunjung sesekali selepas magrib. Jelang siang sengat matahari senantiasa membakar kulit. Layaknya musim yang masih enggan bertukar.
…
Selalu ketika berada di gudang logistik, gerah terasa dua tiga kali lebih menggelitik. Sebuah kipas angin yang menempel di dinding di atas meja admin gudang memberi sejuk sekedar lalu. Namun betapa aku tak enak hati tiap kali menyaksikan peluh yang mengucur di pelipis para helper muat. Kawan satu timku yang tiap hari bergelut dengan berat dan pengap truk ekspedisi.
April tak mudah ditebak. Mulanya kukira landai ternyata bergejolak. Seperti diam-diam ada yang berniat menjebak. Bahkan teh manis yang biasa terhidang di meja kali ini mungkin saja membuat tersedak karena manisnya maupun pahitnya. Aku baru saja mencetak sebuah surat jalan untuk truk yang selesai dimuat ketika layar komputer menampilkan outlook messenger dari supervisor HRD. Aku diundang ke kantor atas untuk suatu keperluan.
Gegas aku memberi stempel, mengonversi jumlah kiriman dari stoples ke karton, tanda tangan di atas namaku, lalu memintakan persetujuan kepada supervisorku. Buru-buru kakiku melangkah menuju gudang logistik kembali. Mondar-mandir antara kantor dan gudang logistik memang sudah menjadi rutinitas bagiku. Sopir-sopir selalu menanti-nantikan surat jalan demi bisa segera meluncur ke tempat tujuan. Gudang distributor.
Usai menyerahkan surat jalan kepada admin gudang lapangan, aku bergerak memenuhi undangan HRD. Aku tak tahu, ini akan tentang apa. Hati kecilku berbisik ada yang tidak beres. Apakah insentif akan kembali dihilangkan mengingat omzet penjualan belum ada kenaikan di masa pandemi? Atau cuti akan terulang dibekukan lagi? Padahal aku baru menikmati kembali hak-hakku itu beberapa bulan belakangan setelah dua tahun yang suram.
Prasangka pribadi itu segera kutampik sendiri. Aku yakin ini bukan tentang yang kupikirkan, tetapi jelas ini akan sama buruk atau lebih buruk. Selama menaiki tangga menuju ruangan HRD, aku masih sempat menduga-duga ini berhubungan dengan apa kira-kira.
Apakah berhubungan dengan subsidi gaji? Sebuah kemungkinan kembali mencuat dari ceruk kepala. Jujur saja. Pandemi membuat trauma sendiri terkait dinamika ekonomi. Bermula dari tahun kembar yang lebih berat dilalui. Terutama sejak teror gaji yang tak menentu. Penghasilan dari bulan ke bulan terus dipangkas demi katanya agar perusahaan tetap bisa bertahan. Salah satu rekan kerjaku berkata, tahun 2020 hanya berisi Januari dan Februari saja. Sedangkan bulan-bulan berikutnya adalah zonk.
Karyawan terus menerus dijejali ilmu syukur supaya lebih banyak menengok ke bawah ketimbang ke atas. Masih syukur tidak di-PHK. Masih syukur bisa tetap gajian setiap bulannya. Masih syukur dapat bantuan ini itu. Kalimat itu terus dicekokkan sampai menjadi candu yang memabukkan. Tentu saja agar kita tak menyadari bahwasanya telah diperdaya.
Bantuan-bantuan itu sesaat lalu memang angin yang menyegarkan. Akan tetapi, akankah angin itu terus membawa kesejukan ataukah berujung bencana? Benarkah subsidi gaji yang digelontorkan kepada pekerja murni untuk membantu? Ataukah hanya siasat demi tujuan yang tersembunyi?
Berusaha tenang, aku memasuki kantor HRD yang dingin. Senyum dan sapa aku layangkan ke staf yang semuanya kukenal. Tahu kehadiranku sudah ditunggu, mantap aku mengetuk pintu dari ruangan supervisor HRD yang tidak tertutup.
Pak Pras mengangkat kepala dan mempersilakanku duduk. Tubuhku mendadak beku di kursi yang sekonyong-konyong bak es balok. Entah berapa suhu AC yang disetel di ruangan ini. Tatapan Pak Pras seolah menelanjangiku. Berupaya membuka satu persatu kancing keterusterangan. Seakan ia tak mau terlewat secuil informasi pun.
“Benar Anda ikut serta dalam demo minggu lalu?” tanyanya langsung menuju pokok masalah. Aku tidak begitu siap tetapi bersyukur tidak terombang-ambing lama dalam kepenasaran.
“Benar, Pak,” jawabku jujur dengan nada yang berusaha kuatur. Aku tak bisa membohongi diri bahwa jantungku berdetak lebih kencang saat tengah terancam. Sebetulnya, aku tidak mengira partisipasiku di demo beberapa waktu lalu begitu cepat terendus.
Padahal ratusan buruh, pelajar dan mahasiswa berbaur menjadi satu kala itu. Telanjur basah. Pantang bagiku untuk menyesalinya sekarang. Pun, keikutsertaanku di demo kemarin atas kemauan sendiri. Tanpa paksaan dan dengan kesadaran penuh.
“Apakah Anda juga mengajak teman-teman yang lain berdemo?” Mata supervisor HRD itu tampak jeli menggali lebih dalam keberanianku untuk berkata jujur.
“Tidak benar. Saya hanya sekedar meneruskan informasi terkait poin penting dari Undang-Undang tersebut kepada beberapa teman saja.“
“Apa Anda tidak pernah terpikir sebelumnya dampak dari menyebarkan berita hoax semacam itu?”
“Poin yang saya sebarkan itu sumbernya dapat dipercaya. Bukan hoax. Sedikit banyak saya juga telah membaca pandangan dari berbagai ahli di bidangnya. Bagaimana mungkin jika hanya hoax, banyak kalangan mengecamnya?“
“Baik. Saya hargai keberanian Anda dalam berkata jujur. Namun saya sangat menyayangkan Anda memilih berteriak di luar daripada berbicara baik-baik.”
“Padahal selama ini baik saya maupun manajemen perusahaan tidak pernah mengekang pendapat orang,” tutur Pak Pras, lentur. Bibirku hampir menerbitkan senyum setelah mendengar pernyataan Pak Pras yang bertolak belakang dengan kenyataan. Tidak mengekang pendapat? Lalu apa yang dilakukannya sekarang ini? Mengintimidasiku atas hak berpendapat yang kugunakan dalam demo pekan lalu? Bagaimana pula soal serikat pekerja yang tidak pernah dibiarkan tumbuh di lingkungan perusahaan ini?
Orang-orang yang berani memberontak sesegera mungkin diberangus. Dicekal. Dipaksa menjadi pesakitan. Hingga akhirnya tidak ada yang berani berbicara meski terluka. Mereka lebih takut kehilangan pekerjaan dibanding harga diri yang terenggut.
“Jadi, bila memang Anda tidak merasa puas bekerja di perusahaan ini, saya tidak berhak meminta Anda bertahan.” Ketenangan langsung sirna dari nada bicara Pak Pras. Wajahnya yang awalnya datar, sekarang tengah bergulung bagai ombak.
“Mengapa diam?” hardik Pak Pras. Seolah mendapat lemparan bola, aku hanya punya dua pilihan.
Menghindar atau menangkap.
“Bapak mau apa dari saya? Bapak mau saya mengundurkan diri?” Kuberanikan diri memasang badan. Gegabah. Aku justru membiarkan diriku menantang diterjang ombak.
“Bukankah kamu sendiri yang merasa kurang di sini? Mengapa kamu tidak mencari yang lebih baik?“
Pembicaraan ini seketika menjelma permusuhan. Sebutan Anda yang istimewa telah disalin menjadi kamu.
“Baik, saya mengundurkan diri saat ini juga.”
Saya bangkit dari kursi dan melesat pergi. Kuturuni tangga dengan dada bergejolak.
Dukungan pendingin udara di kantor staf admin tak kuasa menyejukkan kecamuk. Serta merta kurapikan tasku lalu beranjak pergi. Staf lainnya tampak saling berpandangan dalam diam menyaksikan kepergianku. Sampai rumah, kulepas kemeja yang terasa sesak. Menyisakan kaus oblong, kujatuhkan tubuhku di kasur. Tanganku menjangkau tombol kipas angin yang duduk di meja samping ranjang. Meskipun sejuknya tidak sehebat AC di kantor, aku tak perlu merasa berdosa ketika menikmatinya. Tidak seperti ketika aku duduk di ruang kantor berpendingin sementara teman yang lain berkeringat di luar.
Kipas angin itu kubeli semasa indekos dahulu di belakang kampus. Ingat betul harganya tujuh puluh ribu rupiah belasan tahun silam. Memang seringkali nilai manfaat dari barang melebihi angka uang yang dibayarkan atau sebaliknya. Kipas angin tua itu masih berfungsi normal sampai sekarang. Namun mengapa justru nilai manusia yang dari waktu ke waktu semakin direndahkan uang?
“Loh, Mas sudah pulang kerja?” Istriku terkejut mendapatiku sudah berada di rumah. Diletakkannya tas kerjanya di atas meja rias. Sekilas ditengoknya jam dinding demi memastikan waktu. Padahal itu tidak perlu karena selama pandemi ia selalu pulang dari piket sekolah jam dua belas.
“Aku resign,” akuku ragu. Mengambil keputusan sebesar ini tanpa bermusyawarah dengan istriku adalah kesalahan fatal.
“Ha? Jangan main-main, Mas! Kondisi sedang tidak menentu seperti sekarang ini susah mencari uang. Karyawan banyak yang dirumahkan. Lowongan pekerjaan menjadi barang langka.”
“Pintu rezeki tidak hanya satu,” pungkasku, terkesan menyepelekan. Aslinya aku belum punya rencana apa pun ke depannya.
“Astaga, Mas ….” Istriku tampak geram. Dua tangannya mengepal, menahan amarah. Terlambat aku ingat bahwa sudah enam bulan gaji istriku sebagai honorer belum dibayarkan.
Tanpa kusangka istriku menarik kipas angin kemudian membantingnya ke lantai. Beberapa bagian dari kipas itu terlepas. Berai. Kali ini aku sangat yakin kipas angin itu tidak akan bisa berfungsi lagi. Lalu bagaimana aku akan mendapatkan embusan angin segar? Sementara aku kini terkurung dalam ruang gerah yang belum kutemukan di mana jalan keluarnya. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 23 April 2023
Cerpenis
Endang S. Sulistiya
Menuntaskan studi Administrasi Negara di FISIP UNS. Lahir dan besar di Boyolali. Sempat bertahun-tahun bekerja di pabrik hingga memutuskan membuka usaha sendiri. Beberapa cerpen berjodoh dengan media dengan nama pena Lara Ahmad/Endang S. Sulistiya. IG: @endangsrisulistiya
Testimoni Endang S. Sulistiya
Selasa, 25 April 2023
Saya mengenal cerpen_sastra ketika nominasi sayembara cerpen minggu di minggu pertama sudah diumumkan. Jadi mulai minggu kedua sayembara, saya tidak pernah absen mengirimkan karya untuk diikutkan sayembara. Beberapa kali naskah saya berhasil masuk jajaran nominasi, beberapa kali juga naskah saya tersingkir.
Mulanya saya pikir menjadi pemenang pada sayembara ini akan cukup mudah mengingat penayangannya hanya lewat media IG saja (tidak seketat kurasi sastra koran-red). Mungkin apa yang terpikirkan oleh saya juga dipikirkan oleh penulis lain. Namun waktu kemudian membuktikannya. Bahwa sistem kurasi naskah di cerpen_sastra benar-benar ketat. Profesionalisme juri dalam menyeleksi naskah juga perlu diacungi jempol.
Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada juri sayembara cerpen minggu, khususnya kepada pendiri cerpen_sastra, karena sudah memberikan wadah kepada para pencinta sastra di masa ketika sastra koran tengah menuju senja kala.

