Kala itu petang tiba. Langit mulai berhenti sejenak menerangi bumi. Dia tampak merenung, menatapi awan sekaligus meratapi takdirnya yang begitu suram. Sejujurnya dia sangat lelah menjalani hidup ini. Perasaan bersalah terus menghunjaminya selama bertahun-tahun, seolah rasa itu mencoba membunuhnya secara perlahan. Andai waktu dapat ditukar dengan uang, mungkin wanita itu tidak akan menyesali keputusan yang dia pilih saat itu. Atau, jika memungkinkan, dia lebih memilih menghilang dan kembali saja kepada-Nya. “Saya sungguh tidak dapat dimaafkan…”
…
Saat itu, Ranty melajukan mobil sedannya dengan kecepatan sedang menembus gelapnya malam. Waktu menunjukkan pukul sepuluh, dia habis lembur di perusahaan tempatnya bekerja. Sedikit haus, Ranty menepikan mobilnya sebentar di depan minimarket. Ranty berniat membuka pintu mobilnya selepas membeli minuman untuk menuntaskan dahaganya, namun urung ketika mendengar teriakan dari arah belakang. Matanya memicing sejenak untuk memperhatikan apa yang terjadi.
“Heh perek, Lu kalo mau cari duit jangan main kabur aja, tau diri dikit dong!” seru seorang pria di antara keempat yang lainnya.
***
Diam-diam Ranty bersembunyi di balik dinding mencoba mendengar sumber suara yang mengusiknya. Padahal dia bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain, namun entah ada apa dengan dirinya malam ini. Sesuatu di dalamnya seolah gelisah dan memaksa dirinya untuk ikut campur meskipun tidak mengenal orang itu.
Gadis muda yang dikelilingi oleh keempat pria seram itu malah menyeringai. Dengan sorot mata dingin dia berujar, “Bunuh saya saja, jangan harap saya mau kembali ke tempat terkutuk itu. Lebih baik bunuh saya sekarang, bunuh!”
Yang terjadi selanjutnya adalah gadis itu diperlakukan secara tidak manusiawi, dipukul dan ditendang tanpa ampun sampai memuntahkan darah. “Cukup, Kalian sungguh mau membunuh gadis itu?!” Ranty habis kesabaran melihat hal itu, sehingga memutuskan keluar dari persembunyiannya dan menghentikan tindakan keji itu sebelum lebih jauh lagi.
“Berisik! Kenapa jadi lu yang ikut campur hah?” teriak preman itu dengan sangar pada Ranty.
“Dia kesakitan. Lepasin dia.”
Preman itu berdecih remeh. “Sanggup bayar berapa lu buat dia? Ini cewek harganya mahal. Kalo lu mau, lu bayar dan cewek ini bisa lu ambil. Gimana?”
Preman itu terlihat licik.
“Oke. Saya harus bayar berapa?“
***
Gadis itu tercenung di dalam ruangan nuansa putih yang dingin. Ini sudah empat hari semenjak insiden seorang wanita “membayar dan membelinya” untuk lepas dari rumah terkutuk itu. Dan selama empat hari ini pula, gadis itu bungkam seolah tidak memiliki semangat hidup. Sekujur tubuh yang dipenuhi oleh luka yang sudah mengering tampak diabaikannya begitu saja. Kondisinya sungguh memprihatinkan.
“Mau sampai kapan kamu melamun?”
Gadis itu tetap bergeming di tempat tanpa berniat menoleh sedikit pun ke sumber suara. Ranty pun menghela napas.
“Kamu makan dulu ya, minimal sesuap. Mukamu itu lho, pucat sekali …,” ujarnya lagi sembari mengambil semangkuk bubur di atas nakas, berniat menyuapi gadis remaja di depannya.
“Kenapa Anda menolong saya?”
Pertanyaan mendadak itu membuat Ranty menghentikan kegiatannya sejenak. Ditatapnya gadis itu dengan bibir melengkung.
“Bisa ngomong ternyata.”
Ranty duduk di pinggir ranjang itu. Dengan sorot teduh, dia kembali berucap.
“Saya juga bingung. Saya tidak mengerti kenapa saya malah menolong kamu, padahal saya bisa pura-pura tidak peduli malam itu.”
Mata gadis itu menyiratkan bahwa dirinya cukup penasaran. Membuat Ranty membelai dahinya dengan pelan, lalu melanjutkan ucapannya.
“Aurora, saya … saya hanya merasa berutang dengan seseorang di masa lalu,” tuturnya lirih.
“Saya menyesal.“
***
Aurora gadis yang malang. Dia tidak dapat mengingat kapan terakhir kali dirinya tersenyum. Sedari kecil jalan hidupnya dipenuhi kerikil dan luka. Dia tidak pernah diinginkan. Bahkan manusia yang membawanya ke dunia ini pun membuangnya di depan panti asuhan. Beruntung ada ibu Karlina selaku kepala panti, yang merawatnya dengan baik, setidaknya sampai dia berumur enam tahun. Hingga dia bertemu dengan kedua orang tua angkatnya yang dia harap akan memberinya kasih sayang yang didambakan. Ada secercah binar bahagia di kedua bola mata lugunya itu. Namun harapan itu pupus, ketika malah mendapati dirinya tidak diperlakukan dengan baik. Setiap hari dia menerima perlakuan kasar, baik fisik maupun batin.
Secara psikis gadis itu memiliki trauma yang amat mendalam, hingga suatu hari dia mulai tidak merasakan apapun lagi. Semuanya kosong, bahkan ekspresi di wajahnya telah mati. Aurora sampai tidak bisa mengenal jati dirinya dengan baik. Hingga suatu ketika di umurnya yang kelima belas tahun, kedua orang tua angkatnya dililit hutang yang begitu besar, dan malah menjualnya ke rumah bordil dan menukarnya hanya demi uang. Selama satu tahun dirinya semakin hancur dan tidak berharga.
Air mata yang sudah lama mengering, tiba-tiba mengalir dengan sendirinya, ketika mengenang tiap kepingan puzzle hidupnya yang begitu menyakitkan. Sudah cukup. Entah apa dosanya di masa lalu namun, bukankah tuhan terlalu kejam kepada dirinya?
Gadis muda itu menyesap rokok dengan cairan bening yang terus mengalir di kedua sudut matanya. Secara perlahan, dia mulai mengambil alat pemotong kuku dan menggoreskan ujungnya tepat di nadinya. Entah sudah berapa banyak sayatan yang dia ukir di tangan kirinya. Bahkan dirinya sudah mati rasa, hanya untuk merasakan pedihnya luka itu. Tiba-tiba ada yang merebut alat yang tajam itu dari genggamannya. Dan …
PLAK!
Seorang wanita menampar pipinya dengan keras, lalu mencengkeram kedua bahunya. Wanita itu terlihat sangat marah dan ketakutan di saat yang bersamaan.
“Apa kamu sudah gila?!” Ranty membentak Aurora dengan kencang. Tatapannya begitu tajam, namun kekhawatiran di matanya lebih mendominasi.
“Kenapa kamu melakukan tindakan bodoh ini Aurora? Mengapa kamu hidup dan memilih jalan yang seperti ini? Memangnya sekeras apa hidup kamu sampai berani-beraninya mau mati? Demi tuhan kamu hanyalah anak remaja Aurora!”
Ranty kehilangan kendali bahkan tubuhnya sudah gemetaran hebat, karena melihat aksi berbahaya gadis berambut panjang di hadapannya. Sungguh kalang kabut dia dibuat.
“Tau apa Anda dengan hidup saya?” Aurora memandang Ranty dengan tatapan lemah.
“Anda kira saya mau dilahirkan seperti ini?! Saya bahkan tidak bisa memilih hidup seperti apa yang saya mau,” gadis itu mulai terisak.
“Orang tua? Saya tidak punya mereka!”
“Untuk apa saya hidup? Saya juga tidak pernah diinginkan dari hembusan napas pertama saya. Saya dibuang …”
“Saya lelah … wanita yang membawa saya ke dunia ini menganggap saya sebagai bagian dari dosa yang dia perbuat, dan sekarang saya turut menderita, merasakan apa yang dia rasakan. Saya kesakitan. Bahkan saya tidak punya rumah untuk pulang!”
Ranty tercekat mendengar hal itu. Kembali wanita itu mengingat dirinya dua bulan yang lalu, di mana jejak kakinya mengantarkan dirinya pada suatu tempat. Ingatannya mengelana pada suatu kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan, apalagi pada makhluk kecil yang tidak berdosa itu. Kala itu dirinya masih berusia enam belas tahun dan terlampau begitu muda, telah melakukan kesalahan yang fatal. Akibat perbuatan tercelanya, dia meninggalkan makhluk kecil itu di depan panti asuhan yang dia singgahi.
Sebenarnya Ranty sudah tahu jika dirinya terlambat baru pergi ke tempat itu kembali. Dan sesuai perkiraannya, ‘gadis kecilnya’ sudah tidak ada di tempat itu lagi. Kesana kemari Ranty mencari keberadaan makhluk kecil itu dengan penyesalan mendalam. Selama itu, Ranty sangat depresi dan kehilangan arah, karena selalu teringat perbuatannya dulu. Namun, dirinya juga sadar bahwa hanya bersikap menyesal tanpa berusaha malah membuang waktu yang seharusnya dia manfaatkan dengan sebaiknya.
Hingga pada malam itu dia melihat Aurora, sang gadis muda yang begitu putus asa dan malang. Maka dari itu tanpa berpikir panjang dia memutuskan membawa gadis itu bersamanya, dengan harapan dapat menebus kesalahan yang telah dia lakukan. Ranty sendiri pun tidak mengerti, sejak pertama kali melihat binar lelah di mata Aurora, hatinya sangat sesak. Sejak pertemuan pertamanya dengan gadis itu, Ranty seakan merasa terikat.
Ranty menatap Aurora dengan sendu. Gadis di hadapannya sudah menangis, menumpahkan semua kepiluan hatinya. Dengan langkah pelan, ditariknya tubuh kurus itu ke dalam pelukkannya. Rasanya hangat. Rasa itu, seolah mengingatkannya pada makhluk kecil enam belas tahun silam yang dia tinggalkan. Dada Ranty terasa tercabik, air matanya pun menurun dengan sendirinya ketika dia memeluk bocah pemberontak ini. Seandainya dia tidak meninggalkan anak itu, mungkin anak itu sebesar gadis di pelukkannya.
“Saya minta maaf … Maafkan saya Nak …”
Tanpa sadar, tangan Ranty menyentuh liontin perak di leher gadis itu. Tubuhnya kembali menegang, ketika matanya menangkap bandulan matahari di ujung kalung gadis itu. Ya, itu adalah kalung yang dia tinggalkan bersama makhluk kecil itu. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 25 Juni 2023
Cerpenis
Mutiara Fahira
Hobinya nulis sebagai media untuk healing maupun mood-nya. gadis asal Palembang. Bisa disapa di IG-nya: @fahira0ah. Bagi yang berkenan, bisa mampir juga ke akun wattpadnya @fahira0ah
Testimoni Mutiara Fahira
Selasa, 27 Juni 2023
Suatu apresiasi luar biasa bagi saya, berkesempatan diundang sebagai kolaborator dengan @cerpen_sastra. Tentunya, ini akan menjadi awal baik bagi saya untuk terus menulis dan berkarya serta mengenalkan tulisan saya kepada teman-teman pembaca semuanya.
Harapannya, @cerpen_sastra akan terus menjadi wadah bagi teman-teman yang memiliki hobi menulis maupun mengembangkan dan mengenalkan bakatnya, di mana kita bisa bebas mengekspresikan berbagai hal di dalam bentuk tulisan. Menulis bukan hanya sekadar berimajinasi, namun menuangkan rasa dan pengalaman yang tidak sebentar untuk menyusun tiap kata dan menjadikannya suatu narasi.
Saya juga akan terus lebih banyak eksplore lagi dan mengembangkan tulisan agar menjadi suatu narasi yang semakin baik bagi para pembaca. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih banyak pada @cerpen_sastra yang sudah memberi saya kesempatan sebagai pemenang cerpen Minggu pada 25 Juni 2023 dan membuat saya semakin terpacu untuk berkarya secara lebih baik lagi.

