Sambil beringsut ke kanan, kuintip dari balik tirai dengan mata setengah terbuka. Lagi-lagi, dua sejoli sedang masyuk dengan gawai masing-masing. Pemandangan yang sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Terpisah oleh tirai yang tak terlalu berfungsi, aku dipaksa akrab dengan perilaku mereka yang memuakkan seminggu ini. Sepasang muda-mudi di seberang bilikku tercatat sebagai orang tua pasien—seorang bayi laki-laki. Aku tak yakin mereka adalah suami istri.
***
Di sampingnya, di sebuah ranjang khas rumah sakit tua, terbujur kaku bayi dililit perban sana-sini. Dari lubang hidung yang satu keluar nasal kanul—selang oksigen yang menguasai alat pernafasannya. Satu lobang lagi jadi gerbang masuknya selang sonde, tempat nutrisi mengalirkan pemulihan. Namun, muda-mudi itu selalu kena tegor suster karena lupa menuang susu atau medikamen sesuai jadwalnya.
“Kalau kalian sembarangan gini, bayi kalian bisa kekurangan nutrisi,” teriak suster kepala waktu mendapati selang sonde hari itu bersih. Tak ada zat mengalir ke raga bayi. Akhirnya, dia kejang semalaman. Setelah suster pergi, mereka asyik kembali dengan dunia digital yang tak pernah ingin kuselami.
Menatap layar, sang pria tertawa tanpa stimulus dari manusia lainnya. Sejenak kemudian, yang wanita berjoget amatir dengan bibir dimonyong-monyongin di depan layar ponselnya. Apakah aku terlalu tua sehingga tak punya kosakata untuk mendeskripsikan adegan mereka? Roh apa pula yang merasuki mereka hingga menggilai layar ponsel sedemikian rupa? Seminggu ini, mereka mengajariku bahwa layar ponsel sanggup mengobrak-abrik belas kasihan dan melempar cinta jauh ke luar peradaban.
Tangis bayinya terdengar putus-putus, miskin suara. Ada rintihan pilu yang melawat telingaku setiap kugeser tirai biru, menyembunyikan mataku dari skena gila itu. Semakin kututup, semakin keras dan tajam nada ringikan bayi di seberang bilikku. Apakah hanya aku yang mampu menyimak kengerian ini, sedang orang tuanya tak mau tahu? Pernah kudengar bahwa bayi memilih kepada siapa mereka akan melekat: yang peduli dan hadir selalu. Apakah bayi itu membaca risalahku meski terlipat hening?
“Selamat pagi!” suara janitor membuyarkan diskusi di kepalaku. Sapaan itu juga sekaligus jadi alarm—mentari telah bertugas kembali. Biasanya, sebelum suara sandal jepit sang pahlawan pembersih terdengar dari lorong luar bangsal, para penghuni bergegas merapikan diri. Pasalnya, dia akan menyibak semua tirai yang semalaman menyembunyikan rupa para penghuni. Biasanya, kalau sudah terpekur di dalam tirai, yang terdengar hanya gumam tak jelas bersekutu di udara. Lumayan, bagiku bisik-bisik para penghuni bangsal ini jadi hiburan—teka-teki. Kecuali mereka, sepasang penghuni yang tetap tenang dengan ponsel di tangan, dari kanan pindah ke kiri, tak ada gumam sama sekali. Entah sejak pukul berapa mereka berpesta, kapan mulai, kapan berhenti. Tidak ada yang tahu.
“Pagi, Mbak,” aku menjawab solo seraya mengakhiri cuitan di kepalaku tentang dua sejoli gila itu. Penghuni lain mungkin sibuk berbenah diri. Yang lain lagi mungkin juga sedang menggerutu sepertiku. Satu pasien di ujung pintu lain tampaknya masih tidur kali ini. Suara ponsel muda-mudi itu membuatnya tak bisa tidur semalaman. Yang lainnya bergegas pura-pura rapi, takut ketahuan kalau kotoran mata masih menempel padat atau terjadi hipersalivasi.
“Permisi, saya bersihkan lantainya ya, Pak.”
“Silakan, Mbak! Monggo monggo!”
Dengan cekatan dan teliti, Mbak Sirothin membasuh lantai kamar ini hingga suci. Perempuan paruh baya yang namanya kukenal lewat call card yang bertakhta di punggung itu memang kelewat akurat dalam membersihkan kerak abadi. Perawakannya yang tinggi besar mendukung gerakannya yang cekatan, mengayunkan sapu, membabat bakteri, dan mengusir virus yang sedang flexing di bangsal ini. Mbak Sirothin juga tak segan mengelap besi-besi tua yang menyokong kasur kami. Benar-benar teliti. Aku yakin, dia pasti tak mau luput mengamati satu per satu kisah kami, merenungi cerita di balik para pesakitan cilik ini.
Senyumnya yang tegas tapi tulus tidak pernah absen menyapa bocah montok yang kudekap lunglai sebulan ini. Dialah anakku, bocah laki-laki teramung, yang tengah berjuang melawan sakit misterius.
Dua minggu di ICU, dua minggu di bangsal ini, sakitnya belum juga terdeteksi. Firasatku berkata, ini bukan perkara raga. Mungkin hatinya bengkak, jiwanya sesak dengan air mata yang tak sempat menetes. Putraku yang sekecil ini telah ditinggal ibunya pergi. Sudah tiga bulan kami hanya berdua menjalani waktu. Bulan terakhir adalah yang paling sengsara karena harus rela terpenjara di sini.
Jika saja ada teropong kejujuran, aku ingin sekali meneliti mengapa istriku minggat. Jelas saja itu karena aku salah. Hanya, aku tak sempat menyadari, tidak ada preambul ataupun tuduhan yang kurasa lebih baik daripada menghilang dalam sunyi. Aku terus mengorek ingatan, membongkar peristiwa yang mungkin tersembunyi di lipatan kenangan. Apa iya aku ini suami yang keji? Beri aku definisinya. Karena yang kupahami sangat bertolak dengan yang kujalani.
Aku bekerja delapan jam sehari sewajarnya pengais rejeki. Hidup kami bukan sekadar cukup. Pendidikanku mampu menempatkan anak dan istri dalam posisi berlimpah. Aku juga tergolong pekerja teng go, jam kerja selesai lalu go.
Kuabaikan segala undangan nongkrong dan olahraga seperti yang dilakukan para eksekutif muda, kolegaku. Di rumah, bersegera aku membersamai pasanganku. Mulai dari dapur, halaman, kamar tidur, semua beres, kinclong di tanganku sementara dia asyik dengan drama Korea di ponselnya. Kami makan bersama dengan senda gurau yang juga tidak seadanya.
Biar istri tidak terlalu payah, aku belikan makanan dari luar dan kutanyai apa yang dia kehendaki. Jadi, dia tetap bisa chating dengan sahabatnya, bersosial media, atau belanja online selama aku pergi kerja. Jika dapat makanan dari kantor, kubawa utuh untuk para kekasih hati. Begitu masuk pelataran rumah, ponsel kumatikan. Tidak ada nonton sepak bola ataupun bercanda lewat chat dengan teman sekerja. Sebuah kehidupan berbahagia yang kuhadirkan untuk istri dan anakku tercinta. Lalu tiba-tiba dia pergi.
“Sudah, Pak! Kalau kurang bersih, nanti beri tahu saya ya!” Mbak Sirohtin memutus susunan argumen tentang minggatnya istriku yang pagi ini lumayan lebih rapi.
“Aman, Mbak. Bersih dan wangi seperti di taman bunga,” sahutku satire yang diikuti gelak tawanya. Tawa Mbak Sirothin renyah bergema di seluruh penjuru bangsal, hingga langkah gesitnya melambat kala sampai pada bilik pasien di depanku. Dinamika tawa yang naik turun berhenti seketika tanpa aba-aba. Mbak Sirothin sampai di ranjang bayi dan sepasang belia yang belum patut menyandang gelar orang tua.
Dari celah sempit tirai biru, aku melihat mulut Mbak Sirothin jadi manyun, melirik sebal kepada pasangan yang masih berfoya-foya dengan ponselnya. Kurasa, dia juga ingin mengumpati mereka. Tapi sama denganku—tidak berdaya atau tak tahu cara menegurnya. Dunia kami tak sama.
Aku sendiri heran, selama tujuh hari berlalu, tak pernah kusaksikan orang tuanya mendekap bayi itu. Atau setidaknya mendendangkan nina bobo untuk meluruhkan rasa nyeri yang tak terucap. Ketika baru dipindahkan dari ICU seminggu lalu pun, mereka masuk dengan angkuh—menatang tas di tangan kiri laiknya selebriti.
Sedangkan di tangan kanan, ponselnya tak berhenti menyiarkan klip musik ala kampung yang kejam bagi telinga para pesakitan. Apakah mereka sadar, bayi mereka telah kehilangan separuh fungsi otaknya sebab terendam cairan nanah? Mungkinkah mereka masih berbelaskasihan pada raga yang renta sekali pun baru lima bulan bersilaturahmi ke dunia? Tubuh mungil sang bayi kaku. Tangisnya tak putus kali ini. Di sampingnya, bapak ibunya masih setia di depan layar, goyang kanan kiri tak berhenti.
“Susterrrr!” suara Mbak Sirothin tiba-tiba menggetarkan ruangan diikuti debam langkahnya terbirit keluar bangsal. Aku menengok sebentar, tapi tak kuasa meninggalkan dekapanku pada buah hatiku yang juga sedang mengerang. Para suster datang dengan langkah sedikit berjingkat. Mereka memeriksa si bayi seraya komat-kamit tak terendus pendengaran telanjang. Lalu, mereka ke luar lagi. Lalu masuk lagi. Lalu ke luar lagi. Lalu, masuk lagi. Kali ini dengan alat-alat yang kompleks setengah mati. Lalu keluar lagi, lalu masuk lagi.
Keruwetan itu diakhiri oleh suara pamungkas elektrokardiogram yang sudah kehilangan ritmenya: Tiiiiiiiiiiiiiiitttttttttttttt.
Ragaku diguyur duka. Aku dipaksa menyelam dalam tsunami kebengisan manusia. Kudekap anakku yang kujaga sendirian sebulan ini. Kekuatan apa yang membuatku tak sedetik pun melepaskan kulitku dari porinya yang masih murni? Konon, orang tua yang terluka sanggup melenyapkan buah hatinya. Jadi, tentu saja yang terjadi padaku ini wujud belas kasihan dari Penopang Langit Bumi. Jika tidak, aku pun pasti tak beda dengan mereka. Manusia fana hanya mampu berjoget di tengah lara yang menganga.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 28 September 2025.
Tentang Cerpenis
Primasanti Kartika
Seorang pengajar di bidang psikologi anak dan parenting. Menulis di berbagai platform sejak dua dekade silam, dari jurnal internasional, artikel, surat kabar, buku, media sosial, hingga blog pribadi. Antusias menerjemahkan hasil penelitian di dalam karya bahasa yang nikmat dikunyah rasa. Bisa ditemui di akun Instagram @kulavarga.primasantikartika, yang diasuhnya setiap hari.
Testimoni Primasanti Kartika
Tidak banyak tempat baca cerpen fiksi yang benar-benar menjaga kualitas sastra dan fiksinya. Akhirnya aku ketemu dengan Cerpen Sastra, yang waktu membaca karyanya, kok merasa ada nada yang selaras dengan Cerpen Kompas yang selama ini jadi benchmark-ku berkarya. Kalau sebuah sistem kurasi mampu menyaring karya dengan kualitas yang terjaga, dia layak mendapat perhatian. Bersyukur banget bisa jadi bagian di Cerpen Sastra kali ini, dan semoga selanjutnya.
Inspirasi cerpen kali ini muncul ketika sedang antre di sebuah rumah sakit. Waktu antre yang begitu lama membuatku punya arena observasi yang luas mengenai fenomena subtil yang selama ini tak tertangkap mata telanjang. Ketika manusia sudah tidak berdaya menghadapi kejamnya dunia, penyakit, sistem, politik, birokrasi, kemiskinan, relasi yang intim, maka media digital menjadi pelarian yang lebih mengasyikkan daripada mencari Tuhan. Ini premis yang perlu disikapi serius. Maka, mengkolaborasikan keresahan diri sebagai pengajar dan idealisme melakukan kritik sosial melalui karya sastra, terbitlah cerpen “Berjoget Lara” ini. Semoga memberkati.

