Sudah berbulan-bulan ini, Baginda Raja terlihat benar-benar gersang, sekering musim kemarau. Bahkan ketika tubuh putri kesayangan kami diturunkan ke liang lahat, matanya tetap saja kering, tak seembun pun menggantung di pelupuknya. Para pelayat berbisik-bisik di pelataran; ada yang menyebutnya teguh, ada pula yang menyebutnya batu. Aku, garwa padmi yang sudah berpuluh-puluh tahun mendampinginya, tak sanggup memilih salah satu di antara keduanya.
***
Gamelan di sasana agung dibungkam sepekan penuh. Tak ada tembang, tak ada ketuk kenong. Para dayang berjingkat di sepanjang kaputren, dan seisi kedaton berselimut sunyi yang wingit. Kentongan senja pun enggan berdentang, seakan ikut membisu dalam duka. Hanya Baginda Raja itulah yang tampak tidak tersentuh, seolah-olah duka adalah tamu yang salah dan keliru alamat.
Usai iring-iringan pulang dan pusara tinggal ditemani dupa, Baginda Raja malah sibuk merapikan dingklik di pendopo. Ia membasuh tangan dan wajahnya, seakan-akan pekerjaan remeh itu adalah titah paling genting di sejagat. Para abdi hanya bisa menunduk, sendika dawuh, tak berani menegur junjungan mereka itu.
“Besok pagi, Kanjeng sungguh hendak kembali ke paseban?” tanyaku lirih.
“Iya, Dinda.“
“Tidak bisakah ditunda barang sepekan? Kita ini masih berduka.“
“Tidak bisa.“
Kujelaskan padanya bahwa aku bukan hendak menghentikan roda-roda pemerintahan di kedaton. Aku hanya ingin Baginda hadir seutuhnya, sebab berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Selama ini, beban-beban itu kutanggung sendirian. Dadaku sudah terlalu sesak. Terlebih, sepanjang masa kelam ketika putri kami terbaring sakit, Baginda menjelma manusia paling sibuk di seluruh wilayah ini.
Memang, penyakit jahanam itu pelan-pelan mengikis kehangatan atap kedaton kami. Derai tawa dan kenangan manis pun lenyap. Kami lebih sering menyusuri lorong-lorong dingin ketimbang berkumpul di bale santap. Fajar ia habiskan menuntaskan urusan pemerintahan, siangnya ia mencari tabib-tabib dan racikan jamu, dan malamnya Baginda habiskan untuk menemani putrinya itu.
Baginda kerap tertidur dan bersandar di lorong-lorong kaputren. Ia siaga, bila saja napas putri kami tiba-tiba melemah. Pernah kudapati ia sedang sibuk-sibuknya memijat kaki putrinya itu, semalaman suntuk. Bibirnya terkatup rapat, seperti orang yang menahan samudra di dalam dadanya. Jemarinya kian kasar, pipinya kian tirus. Namun, setiap kali kutanya apakah Baginda Raja lelah, jawabnya selalu sama.
“Aku masih sanggup, Dinda.“
Aku juga ingat, ketika tabib kedaton membawakan kabar-kabar paling kelam untuknya, Baginda Raja hanya mengusap wajahnya. Ia tersenyum, lalu bertanya titah apa lagi yang mesti ia tunaikan. Saat itu, kukira hatinya sudah menjadi arca, dingin dan bisu, tak lagi mengenal rasa nyeri. Aku tak tahu bahwa di balik dinding-dindingnya yang kokoh itu, sering kali tersembunyi ruangan paling rapuh, tempat seorang ayah menyimpan sedihnya rapat-rapat.
“Kanjeng sebenarnya bersedih, bukan?“
“Iya.“
“Lalu, mengapa Kanjeng tidak pernah menangis?“
Ia menatapku lama, benar-benar lama. Baginda memilih bungkam. Hanya desir-desir angin yang menjawab pertanyaanku. Diam itu menyayat dadaku, lebih dalam daripada sembilu. Di tengah pusaran duka seluas samudra, ia tetap saja tegar bagai karang-karang di lautan. Aku pun terhanyut, merindukan tanda-tanda bahwa kepergian ini turut meremukkan hatinya. Aku ingin kami sama-sama jatuh, lalu bangkit bersama-sama lagi. Karena itulah, saat melihat Baginda tidak kunjung sedih dan menangis, pertanyaan paling kejam pun akhirnya keluar dari mulutku.
“Atau… Kanjeng merasa lega?“
Keningnya berkerut dalam.
“Kini, Kanjeng tidak perlu lagi berpacu dengan waktu. Tidak perlu lagi memusingkan tabib, jamu, biaya, dan berjaga semalaman suntuk. Kanjeng lega, bukan?“
Baginda tertunduk lesu. Aku tahu kalimat itu menikam perasaannya. Tetapi, dukacita acap kali menuntun manusia keluar lewat pintu yang keliru. Ingatanku melayang pada pertengkaran bertahun-tahun silam. Kala itu, Baginda mendambakan putrinya menekuni tata pemerintahan dan kelak menduduki singgasana. Baginya, jalan itu menjanjikan kepastian bagi masa depan kerajaan. Namun, putri kami malah mencintai dunia sastra dan bertekad menjadi pujangga. Ia menghabiskan malam-malamnya untuk membaca dan merangkai kisah. Mejanya dipenuhi lembaran lontar. Pelitanya baru padam ketika ayam jantan berkokok. Baginda tak senang melihat putrinya seperti itu.
“Aku yakin, kau takkan hidup hanya dengan menggoreskan tinta-tinta di atas lontar itu!“
“Aku juga tak sudi menjadi penguasa! Aku hanya ingin mencintai sastra!“
Perselisihan itu membakar hari-hari kami. Di bale santap, sendok dan cawan-cawan sering kali berdenting, nyaring. Para punggawa saling melirik, sibuk menerka-nerka badai apa yang sedang bersarang di kedaton. Ayah dan anak itu saling mengunci suara. Aku berdiri limbung di tengah-tengah mereka, berusaha melunakkan dua pendirian yang sama-sama kerasnya. Pada akhirnya, putri kami melangkah menuju pilihannya, dan Baginda, tentu saja, tidak merestui. Setidaknya, begitulah keyakinan yang bertahun-tahun ini tertanam dalam benakku.
“Kini, putri kita telah pergi dan tidak mencapai cita-citanya. Apakah Kanjeng puas?“
Baginda menggeleng pelan. “Bukan begitu, Dinda.“
Kutunggu penjelasan darinya, tetapi parasnya malah tertutup rapat serupa gebyok yang terkunci dari dalam. Padahal, ada peristiwa yang pernah kusaksikan dan tak pernah kubagi kepada siapa pun. Itu terjadi pada hari tabib menyatakan bahwa penyakit putri kami tidak punya harapan lagi. Baginda masih berdiri tegap di samping pembaringan. Begitu embusan napas terakhir putri kami terhenti, ia memohon diri untuk mengabarkan duka kepada para abdi. Beberapa saat kemudian, aku menyusul dan menemukannya di taman sari belakang kedaton. Ia sendirian. Jemarinya mengepal erat, terlalu erat, lalu perlahan-lahan mengendur. Angin sore menggerakkan daun-daun di sekitarnya, tetapi ia bergeming. Ia mengusap wajahnya, menarik napas dalam, dan kembali ke peraduan dengan matanya yang tetap saja kering.
Kini, melihat ia masih terkunci rapat, aku bergegas mengambil selembar lontar dari peti pusaka. Lontar itu diserahkan putriku beberapa hari sebelum ia memejamkan mata, disertai pesan agar disampaikan langsung kepada ayahandanya. Goresannya agak miring dan terburu-buru, mungkin ditulis saat tenaganya hampir habis. Tintanya pun memudar di beberapa sudut.
“Bacalah, Kanjeng,” pintaku. Baginda pun menerimanya. Di bagian atasnya tertulis puisi berjudul “Kemarau”.
Ayahanda, ada kemarau panjang di wajahmu
Kemarau yang benar-benar panjang, musim yang tak pernah selesai
Musim yang gersang, kering, dan membatu, menyumbat setiap jalan menuju pipimu
Kulihat, ada tanah-tanah retak di sana, tempat air hujan seharusnya jatuh
Kulihat, ada awan-awan tebal di matamu, tempat air bening seharusnya luruh
Aku tahu, awan di pipimu itu teramat berat dan menghitam
Aku tahu, di balik otot dan urat-urat wajahmu
Ada sedih yang teramat dalam, bukan?
Ayahanda, bolehkah aku tahu?
Bolehkah aku ini menjadi awan hitam di wajahmu?
Bolehkah wajahmu dihiasi air hujan ketika aku pergi, mati, dan meninggalkanmu?
Baginda membaca sampai baris-baris terakhir. Tangannya tidak segera menurunkan lontar. Ia tetap memandanginya lama sekali, lalu tiba-tiba mengusap sudut matanya dengan ibu jari. Aku hampir mengira Baginda Raja akan melakukan hal yang sama seperti biasanya: menegakkan punggung, menarik napas, kemudian mencari kesibukan lain. Ternyata, kali ini tidak demikian. Setetes air hujan tiba-tiba jatuh di atas lontar itu. Baginda segera menutupi wajahnya. Tetapi air berikutnya menyusul, lalu semakin banyak, sampai-sampai suara yang keluar dari mulut Baginda terdengar asing di telingaku.
Kurengkuh erat tubuhnya yang berguncang. “Mengapa, Kanjeng?“
Di sela tangis yang patah-patah, ia akhirnya bersuara, “Karena … aku seorang lelaki.”
Baru saat itulah aku benar-benar mengerti bahwa kalimat itu bukanlah dalih yang ia karang. Sejak kecil, Baginda Raja ditempa menjadi laki-laki yang tegar. Dengan suara parau, ia mengenang masa kanak-kanaknya di keraton yang tak mengenal belas kasih pada air mata. Setiap kali tangisnya jatuh, teguran pun menyusul. Bahunya mesti tegap menyangga wibawa, jemarinya harus bekerja. Karena itulah, sepanjang ia berkuasa, ia terus menenggelamkan diri dalam kesibukan. Selama tangannya bergerak, ia tidak perlu bersitatap dengan getir dan rasa duka. Padahal, Raja yang menangis tidak serta-merta dianggap lemah dan hilang wibawanya. Air mata itu menjadi tanda bahwa laki-laki juga manusia. Ia berhak bersedih tanpa harus dihakimi sebagai lelaki yang lemah.
Kini, tidak ada lagi yang bisa dikerjakannya. Baginda telah luruh dan menumpahkan gundahnya di pundakku. Aroma dupa masih tercium di sudut peraduan, samar, lembut, dan manis. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Baginda tidak lagi berpaling mencari kesibukan. Ia hanya menangis, pasrah, dan kubiarkan ia larut sampai gemuruh itu perlahan-lahan mereda.
Kuelus punggungnya, membiarkan seluruh kepedihannya tersalur tanpa sisa. Isaknya yang semula tersendat kini mengalir, selembut air yang menemukan kembali alurnya. Di ujung lorong kedaton, cahaya jingga merekah, benar-benar indah. Angin pun masuk melalui jendela-jendela kayu yang terbuka, sementara pada wajahnya, kemarau yang panjang itu akhirnya luruh menjadi hujan yang deras juga.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 27 September 2026.
Tentang Cerpenis
AelBeberapa cerpennya pernah dimuat di media cetak, digital, dan antologi. Lahir dan dibesarkan di Muara Enim. Senang dipanggil Ael dan sangat gemar warna biru. Mulai menulis sejak 2020. IG: @bongsiiik
Testimoni Ael
Sejak kecil, saya sudah mencintai dunia kepenulisan, mulai dari cerpen, puisi, pantun, hingga berbagai karya sastra lainnya. Kecintaan itu kemudian membuat saya berpikir, bagaimana jika cerpen dan puisi yang sama-sama saya sukai disatukan dalam sebuah karya? Dari situlah lahir ide untuk menulis “Baginda Raja dan Kemarau Panjang di Pipinya”. Setelah kurang lebih dua hari menulis, membaca ulang, dan memperbaikinya berkali-kali, akhirnya cerpen yang saya padukan dengan sedikit puisi itu selesai dan bisa saya bagikan melalui Cerpen Sastra.
Untuk itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Cerpen Sastra, khususnya Bang Horas, yang telah menyediakan wadah bagi anak-anak muda untuk berkarya. Semoga ke depannya semakin banyak penulis muda yang mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya dan merasakan senangnya ketika tulisan yang dibuat dengan penuh proses, akhirnya bisa sampai kepada pembaca.

