Angka-Angka yang Membakar Subuh (Cerpen Fitri Rusandi)
Admin
Subuh di tepian kampung kami tidak pernah datang dengan kepakan sayap burung atau keremangan yang anggun. Ia datang sebagai jelaga, letupan minyak panas, dan aroma adonan tepung yang memekat. Di ceruk dapur yang pengap dan diterangi remang bohlam kuning lima watt, Ibu adalah komposer gundah. Tangannya yang dipenuhi parut luka bakar sigap membolak-balikan adonan, sedangkanaku─Raka, anak kelas lima sekolah dasar─adalah mesin hitung yang belum genap melumasi engselnya. *** Sebelum papan tulis di sekolah sempat memantulkan bayangan kapur, mataku lebih dulu mengeja aspal dingin yang basah oleh embun. Kaki-kakiku melangkah mengangkut dua keranjang bambu berisi bakwan dan pisang goreng hangat. Aku menyusuri gang-gang sempit tempat kemiskinan bernapas begitu lambat dan penuh sesak.
Di pasar, kehidupan tidak memberi jeda untuk memikirkan silsilah raja-raja Nusantara atau rumus geometri. Kehidupan di sini adalah tawar-menawar yang ringkas dan tanpa belas kasihan.
“Raka, lima bungkus bakwan dan tiga pisang goreng, berapa?” tanya seorang ibu langganan tanpa menatap mataku. Tangannya sigap merogoh kantong daster.
“Enam belas ribu, Bu,” jawabku serta-merta, tanpa keraguan.
Ibu itu menyodorkan lembaran seratus ribu rupiah yang telah kusam. Dalam hitungan detik, tanganku merogoh kantong celana, menyerahkan kembalian delapan puluh empat ribu rupiah. Tidak ada celah untuk salah. Kesalahan hitung satu rupiah saja berarti memangkas porsi makan malam kami, atau menunda pembayaran sewa rumah kontrakan yang selalu membayang seperti hantu.
Aku tahu persis modal yang dikeluarkan Ibu: harga terigu per kilogram, harga minyak goreng yang bergejolak seperti emosi tengkulak, hingga perkiraan berapa potong gorengan yang harus ludes agar kami tidak menelan kerugian besok pagi. Kecerdasanku tidak diasah di atas meja belajar berlampu terang, melainkan ditempa di atas wajan dan didesak oleh perut lapar. Namun, jam dinding seolah memiliki belati. Ketika jarum jam menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat, aku harus berubah menjadi makhluk lain: seorang murid. Aku berlari menembus sesak pasar, menyapu keringat di dahi dengan lengan baju seragam yang menguning di bagian kerah. *** Setiap tiba di pintu kelas, aku selalu disambut oleh derit pintu yang seolah mengejek, serta tatapan Pak Aris yang tegak berdiri di depan kelas seperti tiang bendera.
“Keterlambatan adalah pencuri waktu, Raka,” suara Pak Aris bergema, datar namun menusuk.
Beliau bukan guru yang kejam. Beliau kerap merapikan kancing kemeja muridnya yang terlepas, atau membagikan pensil bagi mereka yang lupa membawa. Namun, di matanya─dan di mata seluruh isi kelas─dunia ini terbagi dua dengan tegas: mereka yang patuh dan bisa menjawab, serta mereka yang tertinggal dan lamban.
Di kelas, aku kerap merasa tubuhku hadir, namun jiwaku tertinggal di lapak pasar. Mataku berat, diselimuti kabut kantuk yang pekat setelah bekerja sejak pukul empat pagi. Suara Pak Aris membalut ruangan seperti senandung asing yang menidurkan.
“Siapa yang menemukan mesin uap?” tanya Pak Aris suatu pagi, suaranya mengalun membelah keheningan.
Aku tersentak dari lelap yang singkat. Otakku yang letih mencoba memungut pecahan memori dari buku teks kusam. “Alexander Graham Bell,” jawabku terbata. Gelak tawa meledak seketika. Teman-temanku di bangku depan saling berbisik, menutupi mulut dengan telapak tangan.
“Raka, Alexander Graham Bell itu penemu telepon, bukan penemu mesin uap,” Pak Aris menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum maklum yang terasa amat menyakitkan di dadaku. Bisikan seorang teman di sampingku, “Bodoh,” hinggap di telinga seperti dengung nyamuk yang tak bisa diusir. *** Lalu, giliran pelajaran matematika tiba. Pak Aris mengetukkan kapur ke papan tulis. Tuk.Tuk.Tuk. Suara yang terdengar seperti ketukan palu.
“Raka. Tujuh dikali delapan, berapa?”
Aku terdiam. Pikiranku mendadak buntu. Angka tujuh dan delapan berdiri tegap seperti pagar besi yang mengurungku. Aku tidak melihat angka-angka itu sebagai konsep abstrak. Aku mencoba mencocokkannya dengan susunan gorengan atau pecahan uang, tetapi kepalaku terlalu lelah untuk menerjemahkan simbol-simbol di papan tulis itu.
“Berapa, Raka?” desak Pak Aris.
Aku hanya sanggup menggeleng pelan. Hening mengendap di ruangan. Label itu makin melekat erat di jidatku: Raka, anak yang tak pernah bisa diajar dan selalu salah menjawab. *** Suatu hari, angin kemarau bertiup membawa debu kering masuk melalui kisi-kisi jendela. Pak Aris membagikan secarik kertas putih kepada kami semua.
“Tuliskan satu hal,” kata Pak Aris sambil merapikan kacamata minusnya, “hal yang paling ingin kalian miliki di dunia ini. Bukan cita-cita pekerjaan, tetapi apa yang paling kalian inginkan.”
Teman-temanku langsung menggerakkan pensil mereka dengan bersemangat. Dari sudut mata, aku melihat tulisan-tulisan meliuk gembira: Sepeda balap baru, Ponsel pintar, Rumah dua lantai, hingga Laptop untuk main gim. Mereka melukis impian dengan warna-warna terang dari kenyamanan hidup orang tua mereka. Aku memegang pensil kayu yang sudah pendek. Aku menatap kertas putih di depanku. Di sana tidak ada ruang untuk mimpi tentang sepeda atau ponsel. Bayangan wajah Ibu yang legam oleh asap minyak, keranjang bambu yang menekan pundak, dan ketakutan akan hari esok menari-nari di atas kertas. Dengan jemari kasar dan bernoda jelaga yang sulit hilang, aku menuliskan sebuah kalimat ringkas:
Saya ingin punya waktu untuk menjadi anak-anak.
Aku menyerahkan kertas itu paling akhir, lalu bergegas pulang sebelum Pak Aris sempat membacanya. Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya di ruang guru, tetapi sejak hari itu, ada sesuatu yang bergeser secara tidak kasat mata. *** Dua hari kemudian, subuh masih terbungkus pekat yang dingin dan sangar. Udara menggigit hingga ke sumsum tulang. Di sudut lapak pasar yang riuh oleh teriakan pedagang dan aroma amis ikan, aku sedang cekatan membungkus sepuluh pisang goreng untuk seorang pembeli. Tanpa kusadari, di balik tiang beton pasar yang berlumut, seorang pria berdiri tegap mengenakan jaket tebal. Pak Aris. Beliau menyaksikan jemariku yang menari cepat membungkus daun pisang, mendengarkan suaraku nyaring menyebutkan total harga, dan melihat bagaimana aku memperhitungkan kembalian tanpa cela sedikit pun, serta bagaimana aku memperkirakan sisa adonan agar tidak menjadi limbah yang mematikan dapur kami. Di sana, di tengah amis dan busuknya lumpur pasar, Pak Aris menyaksikan kenyataan yang tak pernah tercatat di lembar rapor atau kurikulum sekolah mana pun: aku tidak sedang berhadapan dengan soal abstrak di papan tulis; aku sedang bertarung mempertahankan hidup.
Pagi berikutnya di sekolah, atmosfer kelas terasa berbeda. Udara dipenuhi keheningan ganjil, seolah angin pun enggan berembus menembus jendela. Pak Aris masuk ke kelas tanpa membawa buku pasak seperti biasanya. Beliau tidak langsung menulis di papan tulis. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, sebelum akhirnya berhenti padaku yang duduk di bangku paling belakang, berjuang menahan kantuk yang membakar kelopak mata.
“Raka,” panggil Pak Aris pelan.
Tubuhku menegak secara otomatis. Rasa cemas langsung merayap di celah-celah tulang iga. Aku terdiam kembali. Angka-angka abstrak itu membeku di kepala. Pandanganku menunduk menatap meja kayu yang penuh coretan cairan pengoreksi. Beberapa anak di bangku depan mulai tertawa kecil, siap menyambut kegagalanku. Namun, Pak Aris mengangkat tangannya, menghentikan tawa itu seketika. Beliau memandangku dengan mata yang tidak lagi memancarkan penilaian, melainkan sebuah penyesalan yang mendalam dan sunyi. Beliau menarik napas panjang, lalu perlahan mengganti pertanyaannya.
“Raka … jika kamu punya uang dua puluh delapan ribu rupiah, lalu ibumu memintamu membeli minyak goreng seharga dua puluh tiga ribu lima ratus rupiah, berapa uang kembalian yang harus kamu bawa pulang?”
Dunia seolah berhenti berputar. Pertanyaan itu tidak lagi terasa seperti barisan angka dingin di papan tulis. Pertanyaan itu beraroma minyak panas, berbunyi seperti gemerincing koin di kantong celanaku, dan bernapas seperti realitas hidup yang kuhadapi setiap subuh. Tanpa perlu berpikir keras, tanpa jeda yang melelahkan, bibirku bergerak mantap.
“Empat ribu lima ratus rupiah, Pak.”
Kelas mendadak hening. Jenis keheningan patetik, yang membuat detak jantung sendiri terdengar begitu nyaring. Teman-temanku menoleh ke belakang, menatapku dengan mata melotot tak percaya. Tidak ada tawa. Tidak ada cemooh. Hanya ada kekosongan yang membendung di udara. Pak Aris menyunggingkan senyum tipis, namun matanya berkaca-kaca di balik kacamata tebalnya. Beliau mengangguk perlahan, lalu berbalik menatap papan tulis.
“Nah,” suara Pak Aris bergetar pelan, hampir tak terdengar. “Sekarang, kita semua belajar matematika dari jawaban Raka.”
Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi kayu yang keras. Tenggorokanku terasa tersekat oleh sesuatu yang hangat dan membakar. Hari itu, untuk pertama kalinya, Raka tidak merasa salah menjawab. Yang salah ternyata adalah cara dunia mengajukan pertanyaannya.(*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 13 September 2026.
Tentang Cerpenis Fitri Rusandi
Penulis muda asal Sumatera Barat. Aktif berkarya di berbagai platform daring. Tulisan kreatifnya tersebar luas dan dimuat di berbagai media. IG: @breath.deep.pity