Apa yang seharusnya dipikirkan seorang perempuan kecil di hari ulang tahunnya yang ke-13? Hanya saja kali ini berbeda. Sore ini, Mita tidak berada di rumahnya untuk merayakan pertambahan usianya. Ia diminta untuk menemani eyangnya yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Setelah menginjak usia 83 tahun beberapa bulan lalu, beliau mengalami beberapa penurunan fungsi organ.
***
Pikiran Mita berkecamuk. Di luar ruangan putih dengan aroma yang terasa higienis ini, paman dan ayah sedang berdiskusi entah tentang apa. Akan tetapi, bisa Mita tahu ini tentang kondisi eyang yang semakin kritis. Kepalanya bertumbuh satu, ia mulai menduga apakah memang sudah seharusnya eyang … meninggalkan mereka? Awan di dalam hati Mita menggelap mendengar suara monitor jantung di ruangan tersebut berdenyit kencang. Gadis berusia tiga belas tahun itu menatap horor beriringan dengan petugas medis yang berdatangan ke dalam.
***
Tidak satu pun pikiran yang tidak lewat pada seorang perempuan kecil di hari pemakaman. Dua hingga tiga kepalanya kembali bertumbuh. Ini bukan pertanda bagus. Ketiadaan eyang terjadi bak kilat di siang hari. “Mimpi. Ini pasti hanya mimpi,” gumam gadis itu menyadarkan dirinya. Namun kenyataannya, ini bukan mimpi.
Segerombolan orang dengan pakaian hitam mulai meninggalkan tempat pemakaman umum. Begitu pula Mita dan keluarganya yang pergi paling terakhir. Bagi orang-orang di rumah, kepergian ini haruslah diikhlaskan. Tapi, tidak dengan gadis kecil itu. Kepalanya kembali bertumbuh terus-menerus.
“Apakah seharusnya aku tidak berpikiran seperti itu? Apa jadinya kalau kepalaku tidak bertumbuh satu?”
Mita termenung sendiri di lantai teras depan rumahnya. Keluarganya masih berkumpul berduka dan saling menenangkan di ruang tamu. “Apakah aku pembawa sial?”
Bersamaan dengan bertumbuhnya kembali kepala, seorang gadis seusianya tampak asyik bermain di depan pintu rumahnya. Yah, rumah Mita memang dipenuhi taman bunga nun berwarna-warni. Eyangnya dulu mempunyai kegemaran untuk berkebun. Kembang Sepatu, krisan, mawar, dan margot tertanam cantik di depan. Tak hanya itu, bahkan di sebelah rumah mereka ditanami berbagai pohon buah-buahan. Penasaran dengan rupa gadis itu, Mita datang menghampiri.
“Eh, Mita!” Gadis itu terkejut melihat Mita yang mengendap-endap menghampirinya. “Maaf ya, aku cuman mau minta bunganya sedikit. Mau aku pakai taruh di vas bunga kelas.”
“Erni?” Mita menatap lamat gadis berambut panjang semampai itu. Rambutnya tergerai cantik memegangi bunga krisan kuning di tangan. “Lama aku tidak melihat kamu? Tumben ke sini.”
“Iya, Mita. Kebetulan aku lewat.” Mereka menatap kebun bunga kecil itu. “Beberapa bunganya mulai layu, ya.” Benar. Kebun bunga itu, walaupun masih tampak indah, hanya hujan yang mempercantik mereka. Tiada yang mampu setelahnya.
“Aku turut berduka, ya. Eyangmu orang yang hebat.” Mita mengangguk, kepalanya berhenti tumbuh, tapi ini sudah keseratus. “Kamu masuk dulu aja, Mita. Pasti keluargamu pada ngumpul.”
Keluarga, ya? Mita mendongak ke arah ruang tamu yang terbuka lebar. Kepala Mita kembali bertumbuh, bagaimana kalau memang benar ia pembawa sial? Bagaimana kalau selanjutnya ia membawa malang kepada keluarganya? Ia takkan mampu. Bagaimana kalau ini kutukan? Bagaimana kalau eyang rupa-rupanya marah padanya?
“Erni.” Mita menoleh ke tempat Erni berpijak. Sepertinya ia telah pergi menemui bunga-bunga lain untuk dipajang.
Lama Mita berdiam diri di sana, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke dalam rumah. Isak tangis kini berubah menjadi diam dan sunyi. Beberapa kembali mengenang memori dan kehebatan eyang semasa ia muda. Mita duduk di samping kakak dan ibunya. Ayah dan saudara-saudaranya mengobrol dengan tatapan kosong. Entah apa yang seharusnya dipikirkan seorang anak yang kehilangan orang tuanya. Satu lagi, entah apa juga yang seharusnya dipikirkan seorang anak pembawa sial seperti Mita.
Tapi ini baru permulaan. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun baru terasa—tidak terasa apa pun. Hampa. Mita sejak hari itu merutuki dirinya sendiri. Ia terlalu takut, takut terlalu bahagia, takut terlalu sedih, takut tertawa, takut berduka. Takut berpikir, takut berbicara, dan takut untuk bertindak. Anak perempuan kecil itu takut, bila selanjutnya orang tersayangnya justru menderita karenanya. Aku bingung harus menyebutnya sebagai psikopat, sosiopat, kriminal, atau pembunuh. Tapi, Mita hanyalah Mita, seorang anak kecil dengan seribu kepalanya di usia yang kini.
Kebiasaannya tiap malam berubah, dari berbicara dengan boneka kelinci bergaun merah jambu kesayangannya menjadi mengawasi seluruh keluarganya—ayah, ibu, kakak, dan kakeknya—ketika tidur di malam hari. Syukurnya, Mita masih sering berdoa. Hanya saja kali ini, doanya cukup ekstrem, panjang dari segala panjang umur, sehat dari segala sehat, dan kalau bisa jangan dulu meninggal. Satu lagi, kepala Mita masih sering bertumbuh.
Keluarga Mita pun menyadari bahwa gadis bungsu itu mulai resah. Sempat mereka berpikir mungkin ada mahkluk gaib yang menyerang indra Mita. Pohon-pohon berkayu dan pohon pisang di sebelah rumah pun ditebang karena diduga menjadi sarang spektrum dan aura buruk datang. Namun, setelahnya pun Mita tetap resah. Mereka bingung sebenarnya apa yang salah. Keluarga mereka berpikir bahwa mungkin Mita bergaul dengan teman-teman yang buruk. Erni, gadis kecil itu seringkali menghampiri Mita ke rumah sejak terakhir kali keluarga besar mereka berkumpul. Dari banyaknya teman Mita yang berperangai buruk—Joko, Asep, Tiwi—hanyalah Erni yang paling tidak waras. Selalu saja datang di setiap saat, tanpa tahu waktu.
“Erni, kamu tahu gak?” tanya Mita ketika mereka berdua duduk di teras depan rumahnya malam itu. “Aku sering banget lihat di TV. Kalau anak kayak aku ada setannya.”
Erni hanya terdiam. “Apa aku sebenarnya bisa nyantet orang tanpa aku ketahui ya? Apa aku punya ilmu?”
Tak ada jawaban, hanya angin yang berbicara.
“Tapi mungkin, ini semua memang salahmu Erni. Coba saja waktu itu ….”
“Coba saja aku yang bisa menggantikan eyang.”
Erni mengangguk. Ia lalu berdiri dan mengajak Mita untuk sekadar berjalan-jalan mencari angin di luar. “Sebaiknya kita menenangkan pikiran bersama.”
Malam itu, mereka asyik berjalan-jalan kecil menyusuri kampung mereka yang indah permai itu. Tanpa mereka ketahui di sisi lain, keluarga Mita sedang panik dan kebingungan mencari Mita yang hilang entah ke mana. Tapi mereka hanya berjalan-jalan kecil. Mita berjanji. Ya … namun janji itu hilang ketika mereka sampai di sungai. Pada sore hari, banyak anak kecil dan ibunya yang mandi dan mencuci baju di sini. Hanya saja, malam ini tampak sepi. Untung saja bulan begitu bulatnya walau tertutupi awan dan langit mendung.
“Erni, jujur saja pikiranku semakin tidak tenang. Aku mulai terpikir. Apa arti namaku ini hanya untuk mati?” Mita menggoyang-goyangkan kakinya dan mendengar laju air sungai.
“Aku yakin tidak. Namamu indah, Mita.”
Mita menoleh cepat. Itu bukan suara Erni!
“Kamu siapa?” Mita menjauhkan dirinya dari gadis dengan rambut pendek sebahu itu. “Mana Erni?!”
“Aku salah satu kepalamu, Mita. Erni sedang kubungkam. Ia tak baik untukmu.”
“Apa maksudmu?!” Mita langsung berdiri tegak. “Kembalikan temanku Erni!”
Gadis itu dengan santainya hanya menoleh ke arah aliran sungai. “Namaku juga Erni,” ia gadis itu menghela napas berat, “kita semua Erni, Mita. Boneka kelincimu yang kau dulu sering ajak bicara. Kau sangat senang dengan nama itu, bukan?”
“Mengapa? Kalian ini siapa sebenarnya?”
“Kami kepalamu, Mita. Kamu harus sadar dan melihat kenyataannya. Berhenti. Berhenti menumbuhkan kepalamu. Bukankah kau juga lelah?”
“Aku … apa? Aku tak paham, Erni.”
“Kamu bukanlah apa yang kepala-kepalamu katakan. Buka matamu. Semuanya baik-baik saja, Mita. Kamu adalah perempuan terkuat yang kami pernah tahu.”
Tanpa sadar, air mata Mita mengalir. Erni memudar beriringan dengan kepala Mita yang berhenti bertumbuh. “MITAA!” Teriakan histeris keluarga dan warga kampung yang pada akhirnya menemukan Mita bergemuruh malam itu. Bahkan, bulan bersinar lebih terang, memperlihatkan bintang-bintang yang menari di langit malam.
***
Di ruangan putih persegi berukuran 3×3, gadis itu terbaring pada kursi panjang seusai lelah bercerita. Kurasa ini bukan akhir yang tepat bagi gadis berusia 13 tahun untuk bertahan selama 5 tahun dan tidak mendapatkan jawaban pertanyaannya.
Aku menyodorkan tisu yang aku letakkan di meja kecilku. “Silahkan, Mita.” Aku memberikan gadis itu waktunya. “Jadi, sekarang apakah kau tahu apa yang seharusnya dipikirkan seorang perempuan kecil di hari ulang tahunnya yang ke-13?”
Gadis itu menggeleng. “Tidak pasti. Hanya saja, dia harus percaya bahwa ia harus melepaskannya. Semua akan baik-baik saja, ia pasti melewatinya.”
Aku tersenyum simpul. Dengan begitu, cerita ini berakhir bersamaan dengan lambaian tangan dari Mita menutup pintu ruangan. Hahaa, dan sepertinya dia melupakan boneka kelincinya di sini. (*)
Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 5 Juli 2026.
Tentang Cerpenis
Gita AnindyaNamanya Gita artinya lagu, tapi gak bisa nyanyi atau main musik. Sukanya bercerita tapi malas berbicara.
IG: @ladyaquarel._
Testimoni Gita Anindya
Semuanya berawal dari isi pemikiran saya malam hari yang sangat mengganggu. Pertanyaan seorang anak kecil akan kehidupan dan ketiadaan. Pun terinspirasi dari sebuah film lama yang masih membekas di hati saya, “Bridge To Terabithia“. Saya seorang pemikir dan perasaan, ketika pertama kali menonton film tersebut menyuruh saya untuk menuangkan keluh dan keresahan.
Sebuah pengalaman yang menyenangkan untuk membagikan dan bercerita bersama melalui Cerpen Sastra. Sejujurnya saya sudah berpikir lama untuk mulai menulis “Anak Kecil dan Seribu Kepalanya” ini. Melihat sayembara dibuka, saya ternyata berhasil menyelesaikan. Sungguh saya tidak menyangka bisa terpilih sayembara ini. Terima kasih Cerpen Sastra, sebuah pengalaman yang menyenangkan sekali!

