Site icon cerpensastragrup

Aku Sudah Mati (Cerpen Radithya Avisennah)

Sumber Ilustrasi: news.okezone.com

Gadis kecil itu berjalan perlahan. Tubuhnya bungkuk, menangkupkan tangannya di perut. Pakaiannya sangat kusut. Lubang-lubang kecil terukir. Kakinya menapak dengan lemah. Entah ke mana tujuan perjalanannya. Ia tidak sanggup mengangkat kepalanya, terus menunduk. Dedaunan menyapanya berulang kali. Pohon-pohon besar dan lebat di sekitarnya memerhatikan gadis itu. Ingin menyapa namun lupa tidak dapat bicara. Bahkan entah berapa ranting tak bersalah yang ia injak. Sepatunya pun berpose membuka mulut. Merah menyala yang membungkus dirinya bagai bintang redup. Gadis itu berhenti setelah sekian langkah, lalu jatuh. Lemas tak berdaya. Hanya Maha Pencipta yang menentukan nasibnya.
…

Anak-anak bersukaria bermain, berlari ke sana kemari. Kemeja-kemeja dan gaun-gaun putih membuat orang-orang di sini bersinar seakan tanpa dosa. Gadis kecil bangun terkejut. Matanya berbinar melihat pemandangan di hadapan. Poninya yang lebat telah mengusir dirinya sendiri. Pakaian kusut juga lari dari sang gadis. Tubuh kotornya menjadi bersih cemerlang. Ia turun dari ranjang, betapa kagetnya lagi ketika ia menapak. Itu bukanlah tanah keras dan kasar, melainkan rerumputan selembut sutra.

Gadis itu melihat sekitar kembali. Batu-batuan tinggi mengelilingi. Air terjun mengalir dengan derasnya di ujung sana. Deru ombak sungai terdengar nyaring. Bunga-bunga bermekaran di mana-mana. Tidak ada tanah ataupun aspal, hanya rumput-rumput lembut ini. Orang-orang itu, mereka juga manusia seperti sang gadis. Laki-laki dan perempuan.

Uniknya, semua berpakaian putih. Laki-laki dengan kemejanya dan perempuan dengan gaunnya. Matahari bersinar sesuai tugasnya. Awan-awan pun hidup rukun. Di sini sangat hangat dan lebih dari kata nyaman. Namun pertanyaannya, “di sini” itu di mana?

Seorang wanita menghampiri gadis itu—dengan pakaian yang sama. Rambut panjang dan pirang terurai lembut di pundak. Gadis kecil perlahan mundur, raut wajahnya begitu ketakutan. Wanita itu seakan paham, ia tidak terlalu mendekat. Tetap ada jarak yang membatasi. Wanita itu berjongkok. Satu-dua kata pembuka ia ucapkan. Gadis kecil itu tidak bertaut. Bibir kecilnya tetap berkatup. Wanita itu tersenyum, lalu tertawa renyah.

“Jangan takut. Di sini, semua manusianya baik. Ayo.”

Sang gadis masih terbungkam. Sodoran tangan tak ia gubris. Ia bergeleng kuat. Aura traumatis tertampak jelas. Wanita itu tidak memaksa. Seakan paham, wanita itu berjalan ke arahnya namun tidak menggandengnya.

“Aku tahu, kamu trauma. Mungkin sangat-sangat trauma dengan manusia, benar?”

Sang gadis belum berkutik. Tubuhnya tetap tegak laksana upacara, dengan kepala merunduk. Akhirnya sang wanita pergi. Semakin jauh, tidak menoleh lagi. Gadis itu ingin mengejarnya, namun ia takut. Benar-benar takut.
…

Wanita berambut pirang duduk di tepi air terjun. Memandang cantik nan indahnya air terjun saat ia jatuh. Ditemani seorang laki-laki dengan rambut yang sama. Sang wanita menoleh ke arahnya, lalu menangkupkan kepala di bahunya. Jari jemari mereka bersatu. Menggenggam erat masing-masing jiwa dan raga. Bagai matahari dan bulan yang keduanya harus tetap ada untuk bumi.

Di balik itu, gadis kecil berlari-lari menuju mereka. Ekspresi ketakutan masih melekat, namun seakan terpaksa gadis itu mencoba meredam semuanya. Ia berhenti. Di hadapannya terpampang keajaiban alam yang sukar ditemui. Air itu terjatuh dari atas lalu tetap mengalir saat mendarat di bawah. Seperti punya indra lain, laki-laki itu seketika menoleh belakang. Wanita yang bersandar juga ikut menoleh. Sontak wanita itu langsung memanggil dengan kode tangan. Gadis itu tidak bergerak. Laki-laki di sampingnya juga heran.

“Siapa itu?”
Wanita itu tersenyum, “Mungkin dia penghuni baru dunia ini. Aku kasihan padanya.”

Tak lama, wanita itu beranjak menuju sang gadis kecil.
“Hai … Kamu baik-baik saja kan? Aku tidak jahat kok.”

Gadis kecil itu masih diam. Betapa sulit mengeluarkan senyuman setelah sekian purnama. Laki-laki tadi ikut menghampiri. Ia menatap gadis itu. Wajahnya berusaha agar tidak terlihat menakutkan.

“Hai, gadis kecil. Apa yang menyebabkanmu kemari?”

Gadis itu memang belum bicara, namun ia mengerti bahasa. Kepalanya diangkat untuk melihat alam sekitar. Sangat berbeda. Jauh berbeda, dibanding dunia sehari-harinya.

“Aku rasa aku tahu apa yang kamu pertanyakan. Dan aku bisa menjawabnya. Ayo, kita ke sana!” wanita itu mengajak sang gadis menuju tepi air terjun.
…

“Untuk apa manusia diciptakan jika hanya untuk saling menyakiti? Kenapa dunia menciptakan penghuninya seperti itu? Apakah Sang Pencipta hanya melihat? Tidakkah Ia berusaha mengubah dunia ini? Kenapa Sang Pencipta begitu kejam?”

Caramel, wanita berambut pirang tertegun. Gadis kecil itu mencurahkan segalanya. Hatinya tersayat sejenak. Apalagi ketika sang gadis membawa-bawa Sang Pencipta. Jason, laki-laki yang bersamanya pun begitu. Seorang gadis kecil dapat berkata demikian. Gadis kecil ini benar-benar mengalami pahitnya dunia di usianya yang belia. Hingga ia berakhir di sini, sudah jelas ia tidak kuat lagi.

“Kamu tidak boleh begitu. Sang Pencipta tahu segalanya. Ia tahu hidupmu, hidupku, dan seluruh kehidupan manusia di sini sebelumnya. Sang Pencipta tahu kehidupanmu, makanya membawamu kemari.”

“Ini di mana?”
“Kehidupan setelah kematian.”

Sang gadis berekspresi datar. Tidak terkejut maupun percaya. Dirinya sudah menduga sejak awal. Semua yang hidup akan berakhir di sini. Sekarang dapat disimpulkan bahwa dirinya—dan mereka yang berada di sini, semuanya sudah mati. Namun, orang-orang baik akan dibalas kebaikan pula. Gadis kecil itu masih sangat polos dan lugu. Bisa dibilang, dia tidak punya dosa. Dan orang-orang ini, mereka sering berbuat baik atau disakiti orang-orang tak berperasaan.

“Kamu lebih suka di sini?” kali ini Jason berkutik.

“Ya! Di sini sangat nyaman. Manusia-manusianya jauh berbeda dari kehidupan sebelumnya. Kuharap aku tidak menemukan mereka di sini.”

Caramel kembali tertawa renyah, “Jangan khawatir, mereka berada di tempat yang lain. Mereka pantas mendapat balasan yang sesuai karena telah menyakiti gadis kecil tak bersalah.”

Tiga insan tersebut kembali memandang bentang alam dunianya. Pohon-pohon segar ternyata berbuah apel. Makhluk bersayap sesekali mendarat turun mencari makan. Air terjun di sisi lain terdengar jelas. Gadis kecil itu mengajak Caramel dan Jason ke kebun bunga. Sekaligus berjalan-jalan menikmati dunianya. Bunga-bunganya sangat indah. Harum dan jenisnya bervariasi. Berulang kali kupu-kupu menyedot nektarnya. Tidak jarang pula lebah yang hinggap di bunga matahari, hingga terjadi perkembangbiakan entomogami. Gadis kecil itu bersorak riang. Caramel dan Jason pun bahagia, seperti melihat anak sendiri. Mereka berdua juga gembira berakhir di sini bersama—selamanya.

Kendatipun, mereka rindu dunia sebelumnya. Walau menyakitkan, banyak momen indah yang mereka lalui maupun dari masing-masing pihak. Caramel mengakhiri hidupnya karena tertekan oleh pekerjaan dan tuntutan orang tua. Orang tuanya tidak merestui hubungannya dengan Jason dan tidak setuju ia menjadi pegawai kantoran.

Mereka menginginkan anaknya kuliah lagi, mengambil gelar Magister dan Doktor. Tentunya, orang tua Caramel ingin anaknya lebih dari sekedar pegawai kantor. Caramel sendiri terus ditekan oleh pekerjaan itu. Entah apa alasan Caramel, yang jelas ia hanya ingin terus berada di dekat Jason. Jason pun memiliki pekerjaan yang sama. Faktanya, mereka berdua sahabat sejak kecil. Caramel takut ia tidak bisa bertemu Jason jika kuliah di luar negeri. Sebenarnya, Caramel tidak bunuh diri. Hanya ingin, namun belum terlaksana. Hingga akhirnya saat ia pulang mengendarai mobil, sebuah truk oleng dan menghunjam mobilnya. Sebuah kafe yang dihantam langsung runtuh menimpa kedua belah pihak. Caramel tewas seketika bersama sopir truk.

Jason sendiri meninggal ketika melindungi ibunya dari penguntit. Penguntit itu ialah musuh bebuyutan ibu sejak lama. Ketika pisau dilayangkan, Jason menyergapnya. Benda tajam itu menyatu dengan Jason. Penguntit kabur begitu saja. Sedangkan gadis ini, ia dirundung di sekolah. Bahkan direndahkan oleh guru. Ketika pulang, pemandangannya adalah tamparan keras dari ayahnya. Gadis itu terjatuh.

“Dasar beban! Kamu harusnya tidak usah lahir!”

Kata-kata terakhir ayahnya sebelum ia keluar dari rumah. Gadis kecil itu berusaha bangkit, lalu menuju dapur. Namun, seorang wanita berjasa yang telah menjadi separuh dunia kini telah tiada. Sayatan, goresan, dan lebam menghiasi tubuh wanita itu.

Laki-laki kejam itu tidak langsung menghunjamnya dan menciptakan lukisan darah. Ia sadis, namun lebih suka membunuh perlahan. Sang gadis berlari keluar sambil meronta. Ia menangis sekuat-kuatnya, sekencang-kencangnya. Tapi yang didapat hanya bentakan dari tetangga. Sang gadis pergi ke taman namun melihat geng yang merundungnya. Tidak sempat kabur, gadis kecil itu digeret ke hutan yang tak jauh dari kota.

Ia dipaksa lari ke dalam. Dan hari demi hari berlalu, gadis kecil itu berjalan tanpa tujuan. Dengan keadaan perut lapar, ia tetap mengokohkan kedua kaki. Hingga sampailah waktunya, Sang Pencipta menyebut namanya. Menerbangkan ruhnya ke tempat yang layak. (*)

Tanggal tayang:
Minggu, 24 September 2023

Cerpenis

Radithya Avisennah
Remaja SMP yang hobi menulis sebagai pengisi waktu senggang. Suka membaca novel dan masih belajar hal-hal baru. IG: @r_visen08

Testimoni Radithya Avisennah
Selasa, 26 September 2023

Ketika @cerpen_sastra hadir di beranda saya dan tepat pertama kali muncul, saya tergugah untuk mengikutinya. Awalnya, saya ragu untuk mengirim. Bahkan sebelum saya menulis, saya merasa minder dengan pemenang-pemenang yang ditampilkan.

Bahasanya lugas dan alurnya bagus. Saya mempelajari tata bahasa cerpen-cerpen yang telah menang. Setelah beberapa waktu, saya memberanikan diri untuk mengirim. Berulang kali mencoba.

Akhirnya cerpen saya yang berjudul “Aku Sudah Mati” ditunjuk. Sekali lagi terima kasih kepada @cerpen_sastra. Semoga terus berkembang dan menjadi wadah awal bagi penulis pemula lainnya.

Exit mobile version