Seperti apakah rasanya hidup menjadi orang yang tidak pernah dianggap? Tanyakan pertanyaan ini padanya. Jika dia bisa berkata-kata, maka yakinlah dia akan menjawab semua pertanyaan itu. Dulu dia terlahir tanpa diminta. Korban gagal gugur kandungan dari seorang perempuan psk. Hasil sebuah hubungan antarpelanggan yang hanya ingin membuang sebuah hasrat seksual. Pekerjaan yang dilaknat Tuhan.
…
Perempuan yang saat ini disebut “ibuk” bukanlah ibu yang sebenarnya. Dia hanya seorang inang yang berkasihan. Dia menemukan seorang bayi kecil tanpa tangan kiri dan kaki kanan. Bayi yang dibuang ibu kandungnya karena hubungan antarpelanggan.
…
Suatu hari yang biasa, siang terang dan wanita disabilitas tengah berkeliling kampung sendiri, dia melihat sekelompok anak-anak SMA pulang sekolah, mereka mengekori dan menyambut tidak baik di samping kursi roda. Tidak mungkin jika mereka berkasihani kepada anak hasil hubungan gelap yang telah diketahui oleh warga sekitar, mereka benar-benar melaknat anak haram.
“Anak haram, anak haram, anak haram ….”
Sebuah olokan yang terdengar begitu sakit di telinga wanita itu. Dadanya mulai berdetak kencang saat seorang anak laki-laki nakal memukul kepalanya.
“Aku bukan anak haram!”
“Aku bukan anak haram!” tegasnya pada mereka.
Wanita itu terjatuh saat seseorang tengah menendang kursi rodanya. Maka, wanita itu mengambil sebongkah batu. Tangannya itu melemparkan batu itu ke arah anak-anak yang menertawakan perilakunya terhadap dirinya. Seorang anak nakal terkena tumpukannya, membuat jidatnya terluka. Darah segar mengucur dari situ, mengubah seragam putihnya menjadi darah segar nan pekat. Laki-laki nakal itu menendang kepala wanita tersebut lalu pulang ke rumahnya untuk mengadu kepada ibunya, sementara anak-anak yang lain juga ikut untuk menendang tubuhnya lalu bubar satu per satu.
Ia bangkit dengan tubuh yang penuh dengan luka, ia menangis tanpa henti. Dengan terpaksa, keluarga wanita cacat akhirnya memutuskan untuk mengunci dirinya pada sebuah rumah reyot yang tak terpakai berpuluh-puluh tahun lalu. Ruangan kecil yang hanya cukup untuk satu orang, ruangan yang tak bisa disebut tempat manusiawi dekat dengan persawahan yang banyak tikus, ular, bahkan hewan-hewan kecil lainnya. Sejak saat itu wanita tanpa tangan dan kaki tinggal di dalamnya. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan bahkan tahun berganti tahun, tanpa ia tahu itu malam atau siang. Ia terkurung dalam kurungan tanpa cahaya.
Seperti apakah rasanya hidup dalam sepi? Tanyakan pertanyaan ini kepadanya. Maka, yakinlah jika dia bisa berkata-kata maka dia akan menjawabnya. Tak ada yang tahu apa yang dia kerjakan di dalam sana kalau terkadang terdengar suara teriakan, tangisan. Ia berteriak untuk memberontak bahwa dirinya tidak bersalah akan semuanya. Yang salah bukan dia, dia hanya manusia yang terlahir seperti ini. Wanita itu hanya bisa mengurung semuanya, hanya anak yang dicap sebagai anak haram oleh semua orang.
Mungkin semua orang mengira dia sudah gila, gila dengan semua fakta yang sudah terjadi pada kehidupannya. Tak pernah ada orang yang benar-benar mendekat untuk menanyakan bagaimana keadaannya. Wanita itu telah lupa dengan cara bicaranya setelah meraung dan juga menangis setiap hari. Mungkin orang-orang menganggapnya sebagai kuntilanak penghuni rumah reyot tak layak.
Andaikan suatu saat dia bisa terbebas dari kurungan, orang akan bertanya bagaimana ia bisa bertahan hidup? Sebab ia telah menerima semuanya.
Pada malam yang kelam nan pekat, udara dingin dan juga angin seperti ingin menembus tempat tinggalnya. Angin itu membuat sebuah lubang di samping pintu yang terkunci itu. Ia merangkak dan mendekat ke arah lubang tersebut. Sesekali ia memandang langit yang saat itu terlihat indah.
“Begitu indah ciptaan-Mu, Tuhan.”
“Begitu cantik nan segar di mata.”
Ia meraba pelan bagian lubang itu, garis senyum yang dulu tak pernah tampak sekarang ia perlihatkan kepada sang langit. Langit dengan bulan sabit dan juga bintang-bintang yang menemaninya. Dia melihat rembulan indah. Pemandangan yang sudah lama tidak ia lihat selama bertahun-tahun ini. Bertahun dia tidak melihat rembulan hingga ia lupa bagaimana wujud langit, bulan nan bintang-bintang bersinar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia merasa bahwa dirinya punya teman. Dia mulai berkata dan juga mengenalkan dirinya pada salah satu bintang. Dengan bahasa yang hanya ia mengerti, ia menunjuk ke arah salah satu bintang begitu bersinar dari bintang-bintang lainnya. Wanita itu bercakap-cakap dengan bintang.
“Halo … Bintang.” Sapanya dengan tetesan air mata.
Ia memajukan tubuhnya agar kedua matanya bisa melihat keindahannya untuk pertama dan mungkin ini juga terakhir kalinya.
“Bagaimana bisa kamu bersinar sementara yang lain tidak ada yang bersinar? Apakah kamu sepertiku? Berbeda dari yang lain tapi kamu indah sedangkan aku tidak!”
“Temani aku sendiri di sini hingga aku menutup mataku, Bintang.”
Setelah mendengar ucapan dari mulut wanita tersebut, tiba-tiba saja sang bintang yang tadinya bersinar sekarang mulai redup, semakin memakan waktu, bentuk bintang semakin sempit dan mengecil. Terus mengecil hingga hilang di tengah redupnya malam. Beberapa jam setelah bintang itu hilang, bentuk wajah rembulan semakin sempit dan cekung. Mengecil seperti mengucapkan selamat tinggal untuknya.
“Selamat tinggal……,” senyumnya dengan lambaian tangan.
…
Semakin hari sabit rembulan menjadi kembali membulat, saat bulan bulat sempurna, dirinya begitu kegirangan sebab dirinya bisa menemani bulan. Berhasil telah menghibur temannya. Tak bosan-bosannya dirinya menghibur sang bulan maupun bintang yang telah menjadi sahabatnya.
Hingga suatu malam, tepatnya di malam setelah hujan. Ia seperti biasa, duduk di dekat pintu untuk menunggu rembulan nan juga bintang. Saat ia sedang menunggu begitu lama ternyata bulan tidak datang untuk mengunjunginya, bahkan bintang-bintang juga sama seperti bulan yang tidak memunculkan dirinya.
Ia sedih sekali dan mengira bahwa mereka tidak mau berteman lagi padanya. Angin yang begitu dingin itu seolah-olah seperti ingin menghibur dirinya yang telah kehilangan teman. Maka ia menangis dengan kesedihan mendalam. Sesekali ia berteriak agar temannya datang sekedar berkunjung.
Alam seakan ikut bersedih dengan tangisan wanita itu. Alam telah menurunkan hujan lebat sebagai pelipur laranya. Dia tak pernah bosannya untuk memanggil temannya. Tetapi, langit tetap menurunkan hujan yang hanya menyelimuti awan hitam pekat. Langit terus menangis. Tetesan air masuk dari celah atap rumah reyot yang telah bocor. Ia tidak lagi memedulikan semuanya. Tetesan air itu telah menimpa kepala wanita cacat dan membuat dirinya kebasahan. Lelah, dirinya tertidur dengan keadaan basah kuyup. Ia menggigil hebat tanpa ada orang yang tahu keadaannya.
…
Paginya, ia terbangun oleh segaris sinar matahari yang masuk dari lubang kecil itu. Ia merasa demam. Tetapi, begitu dia terbangun yang diinginkan hanyalah rembulan dan juga bintang-bintang. Matahari sudah mulai menyinari meskipun hanya secuil sinar. Ini berarti rembulan telah pulang ke rumahnya setelah semalam bersembunyi di balik awan. Mungkin saja mereka ikut menangis ketika dirinya menangis. Ia menyesal tak bisa melihat rembulan malam tadi.
Ia merangkak turun dan mencari baju bekas untuk mengeringkan genangan air tadi malam. Genangan yang tak jernih. Ia berwarna coklat karena tercampur dengan tanah liat. Sebuah bayangan ada di sana, ia mengeringkan air itu lalu membuang baju bekas itu dengan kesalnya.
Tapi …. Saat dirinya mengambil air di sumur yang berada di dalam rumah, ia melihat wajah bintang di sana. Dia melihat sumur yang pendek itu sudah penuh dengan mata air. Air itu sudah memuncak di ketinggian sumur. Ia duduk dan tertidur di dinding sumur, ia tidur tanpa merasa perlu bangun lagi sebab bersama sahabat dekatnya. Yaitu sang rembulan dan juga bintang. (*)
Tanggal tayang:
Minggu, 27 Agustus 2023
Cerpenis
Erlina Agustia
Menulis beberapa cerita fiksi di aplikasi wattpad. lahir di Tugumulyo. Menulis adalah tindakan yang abadi maka menulislah untuk keabadian. Mencurahkan semua kegalauan, sakit hati, dan lainnya untuk abadi. Instagram @erlinaagustiaa. Email tial86829@gmail.com, nama akun wattpad: erlinaagstt.
Testimoni Erlina Agustia
Selasa, 29 Agustus 2023
Menjadi pemenang membuat saya semakin bersemangat mendapatkan beberapa ide selanjutnya. Setelah kegagalan pertama, saya sempat searching, di bagian mana sih kalimat yang membuat cerpen gagal dan setelah ditelusuri dan diamati, saya baru sadar ternyata banyak sekali kesalahan terjadi. Ketika melihat naskah-naskah yang tayang, saya baru sadar bahwa setiap cerpen harus memiliki ciri khas tersendiri. Kegagalan membuat saya semakin memperbaiki semuanya, sempat menyerah tapi keinginan lebih besar.
Saya mulai mencoba sampai akhirnya menyelesaikan satu cerpen berjudul “Aku Bukan Anak Haram”. Sebelum mengirim naskah, saya yakin akan gagal tapi ternyata cerpen masuk nominasi. Sayembara ini benar-benar hebat dengan penilaian super ketat dan hasilnya banyak sekali karya hebat dan apik. Untuk honor, tidak usah diragukan. Pada hari pengumuman pemenang dan cerpen dimuat, honor langsung dikirim tanpa menunggu waktu lama. Benar-benar hebat dan keren. Terima kasih @cerpen_sastra telah membuat saya semakin bersemangat berkarya dan tak malu menulis. Setiap kegagalan pasti ada keberhasilan.

