Site icon cerpensastragrup

Abdi Cerobong Asap (Cerpen Felis Catus)

Sumber ilustrasi: Pixabay.

Di padatnya rumah-rumah warga pinggir kota yang saling berhimpitan, berdiri deret bangunan angkuh bercerobong asap milik orang di negeri sebrang. Jelaga hitamnya mengepul, meliuk liar di atap kota yang tak lagi biru. Nyanyian deru mesinnya melantun sumbang di setiap penjuru kota. Tak heran, banyak warga yang terganggu bisingnya, lebih-lebih pada anak kecil. Namun, ironisnya, tak sedikit orang dewasa malah menikmati dan bersorak ria seolah pabrik adalah jaminan hidup mereka.
***
Jalanan aspal telah penuh sesak oleh kuda besi yang berjalan ke arah pabrik industri. Warga kota, bahkan yang dari luar kota berbondong-bondong memenuhi isi pabrik. Mereka rela menjadi di negara sendiri.

“Daren … Daren … Kau ini, masih hidup ya dengan dagangan kecil begitu?” celetuk Rahman sambil memekikkan knalpotnya. “Di pabrik dong, gajinya jelas.”

Daren hanya tersenyum masam mendengar tetangganya yang kerap kali memakinya. Pasalnya sudah sekian banyak Rahman menawarkan lowongan kerja untuk Daren, namun pemuda itu enggan menerimanya dengan alasan ingin bebas tanpa kekangan. Tak jarang juga para pelanggannya turut mencibir profesi yang ia jalani. Di saat semua orang menghamba pada cerobong asap, Daren dengan keberaniannya nekad menjadi pedagang kaki lima meneruskan usaha kakeknya.

Memang, bakso yang ia jual di pinggir jalanan kota tak mampu menandingi upah pabrik yang katanya bisa menjamin kebutuhan mereka. Ia hanya mengandalkan jerit bisu lambung para pekerja saat melepas penat. Dengan gerobak dorongnya, pemuda itu menyusuri sudut-sudut kota yang lengang. Tak ada orang dewasa yang berlalu-lalang di jam-jam pengabdian, tak ada anak-anak yang berkeliaran di jalanan lantaran sibuk berburu ijazah. Hanya tersisa segelintir lansia yang membeli baksonya.

“Hei, bakso! Kemarilah!” seru pak tua yang melambai ke arah Daren. Ia pun menghampirinya dengan wajah sumringah, akhirnya pembeli pertama hari ini datang.

“Pesan semangkuk,” Daren menuruti perintahnya seolah pembeli adalah raja. Dengan cekatan, seporsi bakso tersaji mengepul di dalam mangkuk dan langsung disambut hangat oleh pak tua.

“Duduklah!” titah sang raja sementara itu sembari menepuk bangku di sebelahnya. Daren mengangguk dan mengamati lahapnya kakek itu makan hingga tandas. Mangkuknya ia letakkan begitu saja.

“Kau ini, masih muda. Kenapa kau tak kerja di pabrik saja? Upahnya bisa lebih besar, bukan?” tanya pak tua.

Daren berdecak sebal. Lagi-lagi semua orang telah memercayakan hidupnya pada orang di negeri sebrang. “Memangnya semua orang harus kerja pabrik agar hidupnya tercukupi? Kakek pikir dengan kerja pabrik hidup kita akan damai sampai tua? Pemikiran macam apa itu.”

“Tidak, Kek, tidak. Justru dengan bergantung pada pabrik, kita telah mendukung perekonomian pihak asing. Mau jadi apa negara ini?” papar Daren.

“Apakah kakek akan terus mengirimkan generasi kakek ke tempat itu? Apakah kakek tentram di masa tua?” ucap Daren dengan mendengus, hatinya yang panas semakin panas oleh terik matahari. Ia kesal dengan cara pandang orang-orang. Mengapa mereka lebih memilih menjadi buruh daripada menciptakan lapangan kerja sendiri?

Tertegun. “Kau benar. Dulu, sewaktu masih muda, kakek juga sebenarnya enggan kerja pabrik. Berat, lelah, tak ada waktu untuk keluarga, bahkan beribadah pun tak sempat. Sekarang anak-anakku juga tak mengurusku karena sibuk kerja. Mau makan pun harus menunggu tukang bakso atau bubur lewat,” keluh pak tua menyadari sepinya hidup.

“Kau satu-satunya anak muda yang sadar akan masa depan negara ini. Teruslah melangkah dan suarakan tekadmu, Anak Muda.” Tangannya terulur menepuk-nepuk bahu Daren. Helaan napas terdengar dari hidung peseknya.

“Baiklah, sampai jumpa, Kek,” ucap Daren berlalu pergi meninggalkan pak tua yang termenung. Keringat yang bercucuran sama sekali tak membasahi semangat Daren, malah dengan telaten ia bertamu ke rumah-rumah warga untuk menjajakan baksonya. Hingga matahari telah tergelincir, Daren sampai di pinggiran sungai yang jarang dilewatinya. Tercium bau tak sedap dari derasnya arus yang mengalir. Seperti bau busuk bangkai, ia menduga sesuatu telah terlarut di dalamnya. Benar saja, cairan hitam pekat telah menyebar ke sisi sungai. Tak menyisakan air jernih setetes pun.

Entah semenjak kapan menjadi seperti ini, ia jarang lewat di area perkebunan warga yang sebenarnya dekat untuk jalan pulang. Rasa ingin tahu akan penyebab air tercemar semakin membuncah. Siapa gerangan yang merusak kota kecilnya? Daren melangkah maju berlawanan arus, menelisik tiap inci saluran air. Seketika matanya membelalak menatap seonggok pipa besar yang menjuntai di bawah jembatan akses warga. Tidak salah lagi, gemuruh pabrik kilang minyak di hadapannyalah dalang semua itu.

“Kurang ajar!” umpat Daren menggebu-gebu. Spontan tangannya melempar batu pada bangunan angkuh. Namun, nihil, lemparannya sama sekali tak menggores tembok kokoh itu. Yang ada hanya asap hitam yang semakin menguar ditambah pekikan mesin yang menertawakan kebodohannya.
***
“Pak, saya mohon! Kasih saya waktu lagi. Saya belum ada uang, Pak,” pinta Narsih memelas pada pria berpakaian serba hitam yang menagih hutangnya, persis seperti di film-film atau sinetron.

“Baiklah, saya kasih waktu tiga hari lagi. Kalau tidak dilunasi, saya sita rumah reot ini!”

Dua orang bertubuh kekar itu segera beranjak pergi meninggalkan ketakutan wanita tua yang baru saja disentaknya. Langit kelabu selalu menaungi kehidupan Narsih dari era kemiskinan hingga kini era kemelaratan. Tak ada ubahnya, ia selalu terlilit hutang sebab suaminya sakit-sakitan dan tak menafkahinya. Hanya satu harapannya.

“Bu, ada apa?” Ini dia orang yang menjadi penopang keluarga. Narsih menyeka air matanya lalu menghampiri pemuda itu.

“Ren, Ibu mau kau kerja di pabrik, ya. Si Rahman bisa jadi orang dalamnya.” Angin berhembus kencang menunggu jawaban dari pemuda yang dipanggil Ren itu. Sudah berkali-kali Daren dipaksa, tapi ia tetap keukeuh menolaknya sama seperti saat ini.

“Suatu saat kau akan mengerti mengapa kakek tak senang kerja pabrik. Kita, orang pribumi telah menjadi budak kaum kapitalis. Mereka menyewa tanah air kita untuk mesin industri bersemayam selama mungkin. Kalau waktu sewanya habis, mereka akan terus memperpanjang kontraknya. Lalu, kekayaan kita juga dikeruk perlahan. Bukankah ini penjajahan yang diperhalus? Ren, jangan pernah kau mendukung mereka sedikit pun. Teruskan usaha kakek. Buatlah lapangan kerja sendiri.” Wejangan dari kakeknya telah tertanam dalam lubuk hatinya.

Alih-alih menuruti permintaan Narsih, Daren berlalu meninggalkan wanita yang telah melahirkannya tanpa sepatah kata. Hatinya terlampau dongkol mengingat perlakuan semena-mena kaum kapitalis terhadap kota kelahirannya.

Tiga hari berlalu, Narsih menyerahkan segepok uang pada rentenir yang sama waktu itu. Dalam sekejap mata, uang sepuluh juta telah berpindah tangan. Kicauan burung mengiringi kepergian tukang penagih hutang dengan damai tanpa menguras energi. Begitu pun Narsih yang menghela napas lega, tiada lagi beban di pikirannya mengenai hutang. Daren yang mengetahui dari balik pagar sangat terkejut. Dari mana ibunya punya uang sebanyak itu? Apa iya berhutang lagi?

“Kemarin ada calo melakukan pembelian tanah warga besar-besaran untuk memperluas pabrik. Ibu jual
ladang buat melunasi hutang, Ren.”

Belum sempat ia bertanya, Narsih telah lebih dulu masuk dan memberi tahu Daren.

“Apa!” sentak Daren terkejut penuh amarah. Bagaimana tidak, tanah peninggalan kakeknya yang ia tanami singkong dan pisang telah raib tanpa sepengetahuannya. Apalagi jatuh ke tangan penguasa cerobong asap. Ia tidak sudi.

“Kenapa, Bu?” geramnya dengan nada tinggi.

“Karena uangmu tak cukup untuk kami makan, Ren! Apalagi untuk membayar hutang. Kalau hanya mengandalkan baksomu, itu tak kan pernah cukup, Ren. Bapakmu juga butuh obat untuk tetap hidup,” timpal Narsih tak kalah tinggi suaranya. Seketika atmosfer ruang tamu menegang.

“Buk … uhuk, uhuk …,” terdengar suara rintihan dari dalam kamar Narsih, pasti itu suaminya. Dengan langkah panik, Daren dan Narsih menuju sumber suara. Pintu terbuka menampakkan seonggok tubuh terkulai lemas di lantai yang masih berupa tanah. Penyakit Darto kambuh lagi. Daren segera mengangkat dan membawanya ke rumah sakit diiringi tangisan sang ibu.

Di lorong rumah sakit, Daren berdiri. Menatap sendu tubuh bapaknya yang dipasangi alat-alat medis. Sudah kesekian kalinya ia melihat pemandangan itu. Rasanya ia tak berguna menjadi seorang anak.

“Lihatlah, Ren. Bapak butuh uang. Jalan satu-satunya kau harus kerja di pabrik,” pinta Narsih lirih.

“Baiklah,” putus Daren kali ini untuk menyelamatkan bapaknya.

Keesokan harinya, Daren telah resmi menjadi abdi cerobong asap dengan bantuan Rahman. Kakinya menegang di depan pintu pabrik. Ia tak menyangka, hal yang paling ia hindari, kini harus ia jalani untuk mengais rezeki dan menghamba padanya. Ia telah melanggar wasiat kakek. Di bawah seng berjelaga hitam, Daren bertekuk lutut pada mesin penggiling mimpi.(*)

Cerpen merupakan Cerpen Minggu, 8 Juni 2025.

Tentang Cerpenis
Felis Catus
Seorang penulis pemula yang gemar mengeksplorasi berbagai genre cerita. Lewat tulisan ia bisa mengekspresikan dirinya. Felis Catus juga gemar menulis berbagai puisi. IG: @felis_catus05
.

Testimoni Felis Catus

Cerpen “Abdi Cerobong Asap” terinspirasi dari seseorang yang menjadi teladan hidup saya. Beliau selalu bercerita tentang betapa berat kerja pabrik terutama soal manajemen waktu. Jika tak pandai mengatur waktu istirahat yang sesingkat itu, maka ibadah pun tergeser bahkan terabaikan. Pesan beliau selalu sama: jangan sampai pekerjaan membuatmu lalai dalam beribadah. Kata-katanya selalu membekas dalam benak saya yang kemudian terkaranglah cerpen ini sebagai buah perenungan saya.

Senang sekali cerpen saya terpilih di antara karya-karya hebat yang terpampang di nominasi dan dibaca oleh orang-orang hebat pula di Cerpen Sastra. Terima kasih banyak Cerpen Sastra yang telah memberi ruang bagi para penulis untuk berkarya. Sukses selalu untuk Cerpen Sastra. Dan untuk para cerpenis, bersemangatlah! Peluang menang di Cerpen sastra menantimu!

Exit mobile version